FJPI NTB Soroti Keamanan dan Kesetaraan Jurnalis Perempuan
- 09 Mei 2026 18:24 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Mataram — Peringatan World Press Freedom Day di Kota Mataram menjadi momentum bagi kalangan jurnalis perempuan untuk menyuarakan pentingnya ruang kerja media yang aman, setara, dan inklusif. Pengurus Forum Jurnalis Perempuan Indonesia (FJPI) NTB menggelar diskusi bertema “Masa Depan Industri Media yang Setara dan Inklusif bagi Perempuan” pada Jumat, 8 Mei 2026, dengan menghadirkan sejumlah pegiat media dan organisasi jurnalis.
Ketua FJPI NTB, Linggauni, menegaskan bahwa kebebasan pers tidak cukup hanya diukur dari hubungan media dengan kekuasaan, tetapi juga dari bagaimana perusahaan media memperlakukan jurnalis perempuan di internalnya.
“Kebebasan pers akan menjadi narasi yang cacat jika kita masih mengabaikan fakta bahwa jurnalis perempuan sering kali bekerja di bawah bayang-bayang kerentanan,” ujarnya.
Menurutnya, diskusi tersebut menjadi ruang penting untuk membahas masa depan industri media yang tidak hanya mengejar kualitas jurnalistik, tetapi juga memastikan adanya perlindungan dan keadilan bagi pekerja perempuan di ruang redaksi maupun di lapangan.
Ia menilai, ruang kerja yang adil bukan sekadar persoalan kuantitas perempuan di media, melainkan keterlibatan mereka dalam proses pengambilan keputusan strategis.
“Kita tidak bisa menuntut kualitas jurnalisme yang tinggi jika rasa aman bagi jurnalis perempuan belum terjamin secara sistemik,” katanya.
Linggauni menjelaskan, perlindungan yang dimaksud mencakup keamanan saat peliputan, perlindungan hukum, hingga keamanan digital. Karena itu, FJPI NTB mendorong setiap perusahaan media memiliki protokol internal yang jelas untuk menangani kasus kekerasan maupun diskriminasi terhadap jurnalis perempuan.
Ia juga menyebut, profesionalisme jurnalis perempuan merupakan bagian dari upaya mendorong kemajuan perempuan Indonesia, khususnya di NTB.
“Melalui diskusi ini, kami mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk berhenti bersikap skeptis dan mulai membangun ekosistem media yang benar-benar sehat bagi semua pihak, terutama perempuan,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua Forum Wartawan Pemprov NTB, Marham, menilai kontribusi perempuan dalam dunia jurnalistik saat ini semakin besar dan tidak dapat dipandang sebelah mata.
Menurutnya, banyak jurnalis perempuan telah membuktikan kapasitasnya, baik sebagai reporter maupun pengambil keputusan di perusahaan media.
“Peranan perempuan dalam industri media ini tidak kecil, justru sangat besar,” ujarnya.
Pimpinan Redaksi Harian Suara NTB itu mengatakan perempuan memiliki kemampuan yang setara dalam menghasilkan karya jurnalistik yang profesional dan berkualitas.
“Ketika mereka punya prestasi dan tulisan yang bagus, tentu kita memberikan ruang dan tempat yang baik bagi jurnalis perempuan,” katanya.
Pandangan serupa disampaikan Koordinator Komite Keselamatan Jurnalis (KKJ), Haris Mahtul. Ia menilai dunia jurnalistik kini semakin inklusif karena perempuan tidak lagi hanya menjadi pelengkap di ruang redaksi, tetapi mulai menempati posisi strategis di berbagai media nasional maupun daerah.
Ia menyebut, dalam sejarah pers Indonesia, banyak perempuan telah menempati posisi penting di industri media, yang menunjukkan semakin terbukanya ruang bagi perempuan dalam dunia jurnalistik.
Meski demikian, Haris mengakui jurnalis perempuan masih menghadapi tantangan besar, terutama terkait keselamatan saat bertugas di lapangan. Karena itu, aspek keamanan dan kondisi psikologis tetap menjadi pertimbangan dalam setiap penugasan.
“Dengan terbukanya kesempatan saat ini, perempuan harus berani mengambil tantangan dan menunjukkan kemampuan yang setara dengan laki-laki dalam dunia jurnalistik,” kata Haris.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....