600 Anak di Loteng Butuh Intervensi Pendidikan Inklusif

  • 07 Mei 2026 09:35 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Lombok Tengah – Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah mulai memperkuat gerakan pendidikan inklusif dengan menggandeng dunia usaha, rumah sakit, BUMN, hingga lembaga sosial untuk menangani ribuan anak yang mengalami hambatan fungsional belajar.

Langkah tersebut mengemuka dalam diskusi “Dukungan CSR untuk Pendidikan Inklusif Berbasis Data Kabupaten Lombok Tengah” yang digelar Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) Lombok Tengah di ruang rapat Sekretariat Daerah.

Forum itu menjadi titik penguatan kolaborasi lintas sektor untuk menghadirkan layanan pendidikan yang lebih inklusif dan merata bagi seluruh anak di Lombok Tengah.

Mewakili Kepala Bapperida Lombok Tengah, Lalu Winarna mengatakan, kolaborasi tersebut difokuskan untuk menekan angka putus sekolah sekaligus memastikan anak-anak dengan hambatan belajar tetap mendapatkan akses pendidikan yang layak.

“Melalui kolaborasi lintas sektor ini, kami berharap dukungan terhadap pendidikan inklusif semakin kuat sehingga seluruh anak, termasuk anak dengan hambatan fungsional belajar, dapat memperoleh layanan pendidikan yang layak dan sesuai kebutuhannya,” ujarnya Rabu 6 Mei 2026.

Dalam sambutan Bupati Lombok Tengah yang disampaikan Asisten I Setda Lombok Tengah, Lalu Muliawan, pemerintah daerah menegaskan pentingnya dukungan nyata terhadap pendidikan inklusif, mulai dari penyediaan alat bantu, aksesibilitas sekolah, hingga peningkatan kapasitas guru.

Menurutnya, tanpa intervensi yang memadai, anak-anak dengan hambatan fungsional berpotensi semakin tertinggal dan termarginalkan dalam sistem pendidikan.

Data Dinas Pendidikan Lombok Tengah menunjukkan tantangan pendidikan inklusif di daerah tersebut cukup besar. Kepala Bidang SD Dinas Pendidikan Lombok Tengah, H. Jumadi memaparkan, dari sekitar 9.000 anak yang mengikuti skrining awal Program Profil Belajar Siswa (PBS), ditemukan sekitar 5.000 anak terindikasi mengalami hambatan fungsional belajar.

Dari hasil skrining lanjutan, sekitar 600 anak dinilai membutuhkan intervensi segera agar dapat memperoleh layanan pendidikan sesuai kebutuhan mereka.

Menindaklanjuti kondisi itu, sejumlah mitra menyatakan kesiapan memberikan dukungan. Rumah Sakit Adikarsa siap melakukan skrining lanjutan melalui integrasi layanan Universal Health Coverage (UHC).

PDAM Lombok Tengah juga menyatakan komitmennya melanjutkan pendampingan bersama Tulus Angen Community untuk terapi anak berkebutuhan khusus.

Sementara ITDC menyampaikan kesiapan memperkuat layanan pendidikan inklusif melalui Mandalika Children Learning Centre (MCLC), khususnya bagi wilayah ring 1 kawasan kerja ITDC di Kecamatan Pujut dan daerah penyangga.

Dukungan serupa datang dari BAZNAS Lombok Tengah yang membuka peluang bantuan alat bantu bagi anak-anak disabilitas melalui program Tastura Peduli.

"Jadi pendidikan inklusif tidak hanya menjadi program pemerintah, tetapi gerakan bersama seluruh elemen daerah untuk memastikan tidak ada anak yang tertinggal dalam mendapatkan hak pendidikan," ujarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....