Perkuat Edukasi dan Tanam 10 Ribu Pohon Kemiri Cegah Perambahan

  • 21 Apr 2026 11:36 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Dompu - Balai Taman Nasional (TN) Tambora terus menggencarkan edukasi kepada masyarakat sebagai upaya menjaga kelestarian kawasan konservasi. Langkah ini dinilai penting mengingat kawasan TN Tambora yang berbatasan langsung dengan permukiman warga, seperti di So Tompo dan Karyasari, memiliki potensi tinggi terjadinya perambahan hutan.

Kepala Balai TN Tambora, Abdul Azis Bakry, mengatakan, pendekatan konservasi tidak cukup hanya dengan pengawasan, tetapi harus diiringi dengan peningkatan pemahaman masyarakat serta pemberian manfaat ekonomi yang nyata. “Konservasi tidak boleh berhenti pada perlindungan semata, tetapi harus menghadirkan manfaat bagi masyarakat,” ujarnya, Selasa, 21 April 2026.

Sebagai langkah konkret, Balai TN Tambora merancang program penanaman 10 ribu pohon kemiri (Aleurites moluccanus) di zona khusus kawasan Tambora, khususnya di wilayah So Tompo dan Karyasari. Program ini disusun sebagai strategi jangka panjang yang mengintegrasikan aspek ekologis, sosial, dan ekonomi.

Secara ekologis, penanaman kemiri diharapkan mampu memperkuat fungsi kawasan sebagai daerah tangkapan air serta menjaga keseimbangan ekosistem.

Dari sisi sosial, program ini melibatkan masyarakat sekitar sebagai bagian dari solusi dalam pengelolaan kawasan konservasi.

“Sementara dari aspek ekonomi, komoditas kemiri dinilai memiliki potensi besar untuk membuka peluang usaha baru bagi warga, termasuk pengembangan usaha berbasis hasil hutan bukan kayu,” katanya.

Diketahui, So Tompo dan Karyasari merupakan dua kawasan permukiman yang berada di zona khusus dalam kawasan Taman Nasional Tambora, Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat. Kedua wilayah ini memiliki interaksi yang cukup intens dengan kawasan hutan.

Di So Tompo, terdapat sekitar 35 unit permukiman dengan kurang lebih 90 kepala keluarga. Sebagian warga masih bergantung pada hasil hutan bukan kayu seperti madu, sa’bia, dan rotan.

Sementara itu, Karyasari memiliki jumlah permukiman yang lebih padat, yakni sekitar 68 unit dengan 142 kepala keluarga. Aktivitas utama masyarakat di wilayah ini adalah bertani dengan luas lahan garapan berkisar antara 1 hingga 2 hektare.

Awalnya, lahan pertanian di kawasan tersebut didominasi oleh tanaman mente. Namun sejak 2015, sebagian besar petani mulai beralih ke komoditas jagung karena dinilai lebih menguntungkan secara ekonomi.

Fenomena alih fungsi lahan menjadi kebun jagung di zona khusus Tambora ini menjadi salah satu tantangan serius bagi pengelola kawasan, karena berpotensi memicu perambahan hutan jika tidak dikendalikan.

Melalui program edukasi dan penanaman kemiri ini, Balai TN Tambora berharap dapat menciptakan keseimbangan antara upaya pelestarian lingkungan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat di sekitar kawasan hutan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....