Puncak Kemarau, BPBD NTB Wanti-Wanti Ancaman Kebakaran
- 24 Agt 2026 16:52 WIB
- Mataram
Poin Utama
- Warga diminta tidak membakar lahan dan membuang puntung rokok sembarangan.
- Instalasi listrik dan peralatan rumah tangga juga harus dipastikan aman untuk mencegah kebakaran.
- BPBD NTB mengingatkan warga mewaspadai kebakaran saat puncak kemarau Agustus-September.
RRI.CO.ID, Mataram - Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman kebakaran selama puncak musim kemarau. Imbauan itu disampaikan menyusul sejumlah kebakaran yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir, termasuk di Desa Adat Sade, Lombok Tengah, Pondok Pesantren NW Anjani, Lombok Timur, serta kebakaran lahan dan hutan.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTB, Sadimin, mengatakan kondisi cuaca yang panas dan kering meningkatkan risiko kebakaran. Karena itu, masyarakat diminta lebih berhati-hati terhadap berbagai sumber api maupun hal-hal yang berpotensi memicu kebakaran.
“Kita hanya bisa mengimbau saja karena cuaca sangat panas dan ekstrem. Masyarakat harus menjaga kebersihan, terutama sampah, dan jangan membuang puntung rokok sembarangan,” kata Sadimin di Mataram, Senin 24 Agustus 2026.
Menurutnya, puntung rokok yang dibuang sembarangan dapat menjadi sumber api, terutama ketika kondisi lingkungan kering dan angin cukup kencang.
| Baca juga: BPBD Dompu Perkuat Mitigasi Ancaman Karhutla |
Sadimin juga meminta masyarakat memeriksa instalasi listrik di sekitar rumah. Kabel yang tidak tertata atau berpotensi tertimpa pohon sebaiknya segera dirapikan untuk mencegah korsleting.
“Kalau ada kabel-kabel yang berserakan atau berpotensi tertimpa pohon, segera dirapikan. Jangan sampai tertarik-tarik karena angin dan kemudian menimbulkan korsleting yang bisa memicu kebakaran,” ujarnya.
Ancaman kebakaran tidak hanya terjadi di kawasan permukiman, tetapi juga lahan terbuka dan kawasan hutan. Karena itu, BPBD NTB meminta masyarakat tidak menggunakan api untuk membersihkan lahan.
Sadimin mengatakan praktik membakar lahan untuk membersihkan area sebelum ditanami masih dilakukan sebagian masyarakat. Di tengah kondisi kemarau, cara tersebut dinilai berisiko karena api mudah merambat.
“Kalau bisa untuk pembersihan lahan jangan dibakar. Biasanya pembersihan lahan dan persiapan tanam ini dibakar. Kalau bisa jangan dibakar,” katanya.
Masyarakat juga diminta memastikan peralatan rumah tangga yang berpotensi menimbulkan api atau panas dalam kondisi aman ketika meninggalkan rumah untuk bekerja. Kompor dan instalasi gas perlu diperiksa. Begitu pula peralatan listrik seperti kipas angin dan perangkat lainnya sebaiknya dimatikan ketika tidak digunakan.
“Baik musim bencana, musim kering maupun tidak, kompor, gas, listrik, kipas angin dan sebagainya harus diantisipasi. Kalau meninggalkan rumah, harus dipastikan sudah dimatikan,” ujar Sadimin.
Sadimin mengatakan Agustus hingga September diperkirakan menjadi periode puncak kekeringan berdasarkan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Kondisi tersebut membuat sebagian wilayah NTB semakin rentan terhadap kekeringan sekaligus kebakaran.
BPBD NTB, kata dia, telah melakukan persiapan menghadapi kondisi tersebut, termasuk berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk memastikan kebutuhan penanganan bencana tersedia ketika terjadi kebakaran.
“Kita sudah melakukan persiapan dan apel siaga untuk mengetahui kebutuhan serta memastikan barangnya ada di mana, sehingga ketika terjadi kebakaran kita sudah siap,” katanya.
BPBD juga telah berkoordinasi untuk membantu pemenuhan kebutuhan air bersih dan air minum di tengah kondisi kekeringan.
Sadimin mengatakan belum ada anggaran khusus yang disiapkan hanya untuk penanganan kebakaran. Namun, jika terjadi bencana, penanganannya dapat menggunakan berbagai sumber dukungan, termasuk bantuan dari pemerintah dan masyarakat serta Belanja Tidak Terduga (BTT) jika diperlukan.
Adapun mengenai kemungkinan hujan, Sadimin mengatakan BMKG memprediksi kondisi sumber air masih berada di bawah normal hingga Desember. Meski begitu, dia berharap hujan mulai turun pada Oktober atau November seperti pola yang biasanya terjadi.
“Kalau seperti biasa, biasanya Oktober-November sudah mulai hujan. Mudah-mudahan tahun ini juga sama,” ujarnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....