Wajah Baru Pendakian Gunung Rinjani, BTNGR Luncurkan Go Rinjani 7.0

  • 01 Apr 2026 10:58 WIB
  •  Mataram
Poin Utama
  • Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (BTNGR)
  • Program Go Rinjani 7.0
  • Gunung Rinjani

RRI.CO.ID, Mataram - Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (BTNGR) meluncurkan tujuh program penataan pendakian di Gunung Rinjani. Program bertajuk Go Rinjani Seven Point O itu diperkenalkan dalam Rinjani Begawe Festival 2026 di Teras Udayana, Kota Mataram, Sabtu malam, 28 Maret 2026.

Kepala Balai TNGR, Budhy Kurniawan, mengatakan program ini menjadi langkah strategis untuk memperkuat sistem pendakian Rinjani, terutama pada aspek keselamatan, pengawasan, dan keberlanjutan lingkungan. “Program ini untuk memperkuat sistem monitoring pendakian sekaligus mengantisipasi zero accident di jalur,” ujar Budhy, Rabu, 1 April 2026.

Salah satu inovasi utama dalam program tersebut adalah penerapan gelang digital berbasis Radio Frequency Identification (RFID). Teknologi ini akan digunakan untuk memantau pergerakan pendaki selama berada di kawasan Rinjani. Meski demikian, implementasinya dilakukan secara bertahap sepanjang 2026, menyesuaikan kesiapan infrastruktur di lapangan.

Selain RFID, BTNGR juga menyiapkan sistem digital berbasis Android dan iOS yang terintegrasi dengan pengawasan lapangan. Sistem ini akan terhubung dengan menara pemantau yang dilengkapi CCTV serta penguatan jaringan komunikasi di sejumlah titik jalur pendakian.

Budhy mengakui, saat ini masih terdapat sejumlah titik blank spot di jalur pendakian, seperti kawasan Segara Anak, jalur Torean, Timbanuh, Aik Berik, dan sebagian jalur Senaru. Untuk mengatasi persoalan tersebut, BTNGR menargetkan pembangunan empat menara tambahan pada 2026, termasuk di kawasan Segara Anak.

“Ke depan kami upayakan tidak ada lagi blank spot di jalur pendakian Rinjani,” katanya.

Di sisi lain, TNGR juga memperkuat kebijakan zero waste melalui sistem pendataan sampah berbasis digital. Setiap pendaki diwajibkan melaporkan jenis dan jumlah sampah yang dibawa melalui barcode, yang kemudian diverifikasi saat turun dari kawasan gunung.

“Selama ini masih manual. Ke depan, semua akan berbasis aplikasi untuk memastikan tidak ada sampah yang tertinggal,” ujar Budhy.

Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif NTB, Ahmad Nur Aulia, menilai program penataan tersebut sejalan dengan target pemerintah daerah menjadikan Rinjani sebagai destinasi pendakian kelas dunia. Ia menekankan pentingnya peningkatan kualitas layanan sebagai penunjang utama aktivitas wisata alam.

Menurut Aulia, integrasi layanan melalui konsep one stop service menjadi salah satu kebutuhan mendesak, termasuk kemungkinan penerapan sistem pembayaran terpadu bagi wisatawan. Dengan sistem tersebut, pendaki diharapkan cukup melakukan satu kali transaksi untuk mengakses seluruh layanan.

“Ini penting untuk meningkatkan pengalaman wisatawan sekaligus memperkuat daya saing Rinjani di tingkat global,” katanya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....