Jamaah Umroh Tertahan akibat Konflik, Akademisi Desak Pemerintah Bertindak Cepat

  • 29 Mar 2026 19:05 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Mataram - Ketegangan di kawasan Timur Tengah mulai berdampak langsung pada masyarakat Indonesia, khususnya jamaah umroh. Sejumlah penerbangan dilaporkan mengalami pembatalan akibat situasi keamanan yang belum stabil. Hal ini menyebabkan banyak jamaah tertahan lebih lama di tanah suci.

Kondisi ini tidak hanya menimbulkan ketidaknyamanan, tetapi juga beban ekonomi tambahan bagi jamaah. Biaya akomodasi dan kebutuhan harian meningkat seiring dengan bertambahnya masa tinggal. Situasi ini membutuhkan perhatian serius dari pemerintah.

Ketua STAI Darul Kamal, Muhammad Said, mengungkapkan bahwa fenomena ini sudah dirasakan langsung oleh masyarakat. Ia menyebut beberapa jamaah asal NTB mengalami keterlambatan kepulangan hingga satu minggu. Hal ini menjadi bukti nyata dampak konflik global terhadap masyarakat lokal.

“Banyak jamaah yang harus menambah biaya karena tertahan lebih lama. Ini jelas memberatkan secara ekonomi,” jelasnya, Minggu 29 maret 2026.

Selain faktor ekonomi, aspek keselamatan juga menjadi perhatian utama. Situasi keamanan di kawasan Timur Tengah dinilai belum sepenuhnya kondusif. Risiko terhadap keselamatan jamaah tetap harus diantisipasi.

Muhammad Said menekankan pentingnya langkah cepat dari pemerintah. Koordinasi dengan perwakilan Indonesia di luar negeri menjadi hal yang krusial. Hal ini untuk memastikan keselamatan dan kepastian jadwal kepulangan jamaah.

Ia juga menyoroti terbatasnya penerbangan yang beroperasi di tengah konflik. Beberapa maskapai internasional memilih menghentikan sementara layanan mereka. Kondisi ini semakin memperumit situasi bagi jamaah.

“Pemerintah harus segera berkoordinasi dengan maskapai dan otoritas terkait agar jamaah bisa segera dipulangkan,” katanya.

Menurutnya, pemerintah daerah juga harus aktif dalam memantau kondisi warganya. Peran gubernur dan instansi terkait menjadi penting dalam situasi ini. Terlebih jika memiliki pengalaman diplomatik di kawasan Timur Tengah.

Muhammad Said menilai bahwa langkah proaktif sangat dibutuhkan. Pemerintah tidak bisa hanya menunggu perkembangan situasi. Tindakan cepat akan memberikan rasa aman bagi masyarakat.

Ia juga mengingatkan bahwa intensitas umroh masyarakat NTB cukup tinggi. Hal ini membuat potensi dampak menjadi lebih besar dibanding daerah lain. Oleh karena itu, perhatian khusus perlu diberikan.

Selain itu, transparansi informasi kepada keluarga jamaah juga penting. Ketidakpastian informasi dapat menimbulkan kecemasan di masyarakat. Pemerintah harus memastikan komunikasi berjalan dengan baik.

“Informasi yang jelas akan membuat keluarga jamaah lebih tenang menghadapi situasi ini,” ujarnya.

Di sisi lain, ia mendorong adanya evaluasi terhadap sistem penyelenggaraan perjalanan umroh. Mitigasi risiko harus menjadi bagian dari perencanaan ke depan. Hal ini penting untuk mengantisipasi kejadian serupa.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....