Pemprov NTB Siapkan Skenario Pawai Ogoh-Ogoh dan Takbiran
- 16 Mar 2026 14:21 WIB
- Mataram
Poin Utama
- Pawai Ogoh-ogoh
RRI.CO.ID, Mataram - Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat menyiapkan sejumlah skenario untuk memastikan pelaksanaan Hari Raya Nyepi dan malam takbiran tetap berjalan aman meski waktunya beririsan. Kesepakatan itu dihasilkan dalam rapat koordinasi yang melibatkan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), Pemerintah Kota Mataram, Pemerintah Kabupaten Lombok Barat, serta Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), di Gedung Sangkareang, Kantor Gubernur NTB, Senin, 16 Maret 2026.
Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal, mengatakan pemerintah tidak melihat adanya potensi konflik berarti di tengah masyarakat. Ia menilai warga NTB telah lama hidup berdampingan dengan tradisi toleransi yang kuat.
“Dalam diskusi tadi tidak ada kekhawatiran. Kita optimistis masyarakat NTB sudah hidup rukun beratus-ratus tahun dan memahami bagaimana menjaga toleransi,” kata Iqbal.
Meski demikian, pemerintah tetap menyusun sejumlah kesepakatan teknis untuk mengantisipasi potensi gesekan di lapangan. Salah satu perhatian utama adalah pelaksanaan pawai ogoh-ogoh yang menjadi bagian dari rangkaian Nyepi.
Menurut Iqbal, pawai ogoh-ogoh dijadwalkan berlangsung pada 18 Maret 2026 sehingga tidak bersinggungan langsung dengan malam takbiran yang diperkirakan jatuh pada 19 Maret malam.
Sesuai kesepakatan, pawai ogoh-ogoh dimulai pukul 12.00 Wita hingga 17.00 Wita dan dilanjutkan dengan tradisi perang api. Namun, pemerintah meminta panitia menyesuaikan penggunaan pengeras suara ketika waktu salat tiba.
“Ketika azan berkumandang, sound system dari pawai ogoh-ogoh diminta dikecilkan hingga azan selesai,” ujar Iqbal.
Pemerintah juga menyiapkan skenario jika Hari Raya Idulfitri diputuskan jatuh pada 20 Maret 2026. Dalam situasi itu, malam takbiran yang berlangsung pada 19 Maret akan bertepatan dengan masa tapa brata penyepian umat Hindu.
Untuk itu, pemerintah akan mengatur volume pengeras suara takbiran serta mengarahkan rute pawai agar tidak melewati kawasan permukiman umat Hindu yang sedang menjalankan ibadah Nyepi. Iqbal berharap pengaturan ini justru memperkuat citra NTB sebagai daerah yang mampu menjaga harmoni antarumat beragama.
“Kita ingin NTB menjadi contoh bagaimana toleransi itu dijaga bersama,” kata mantan Duta Besar Indonesia untuk Turki tersebut.
Ketua FKUB NTB, Dr. Buya M. Subki Sasaki, juga meminta media turut menyebarkan informasi yang menyejukkan kepada masyarakat. Ia menegaskan situasi di NTB tetap aman dan kondusif.
“NTB adalah daerah yang aman, nyaman, dan masyarakatnya terbiasa hidup saling menghormati,” ujarnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....