Kaum Muda dan Kebangkitan Nahdlatul Ulama

  • 30 Jan 2026 07:17 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Mataram - Secara historis, NU telah mengalami dua “ledakan” besar dalam perjalanan panjangnya. Ledakan pertama terjadi ketika ulama NU tampil sebagai kekuatan utama dalam melawan kolonialisme, terutama melalui “Resolusi Jihad” yang menegaskan posisi NU sebagai entitas perjuangan umat dan bangsa. Inilah yang kemudian dikenal sebagai Nahdlatul ulama (NU).

Ledakan kedua hadir ketika Gus Dur bersama para ulama lainnya mengembalikan orientasi NU ke ranah sosial-keagamaan melalui “Khittah NU”. Gerakan ini tidak hanya mengoreksi arah perjuangan organisasi, namun juga mengilhami generasi muda NU untuk membangun wacana kritis serta memperkuat mobilitas sosial di tengah masyarakat. Fase ini dikenal sebagai nahdlah tsaniyah.

Namun, seiring berjalannya waktu, semangat kebangkitan (nahdlah) tersebut perlahan mulai kehilangan “ruh”-nya. Dinamika internal yang berkembang justru menggeser orientasi nilai dan perjuangan awal NU. Dalam kondisi inilah, sebagaimana dikemukakan Kiai Nur Khalik, muncul apa yang ia sebut sebagai “polarisasi” dalam tubuh NU, yang kecenderungannya semakin politis dan menjauh dari basis etos sosial-keagamaan yang dahulu menjadi fondasi utamanya.

Polarisasi tersebut akan terus terjadi hingga melahirkan nahdlah tsalitsah NU. Dengan nada optimistik, Kiai Nur Khalik menulis seperti ini:

“Kondisi polarisasi ini akan melahirkan Nahdlah Ketiga NU, bila ia direstorasi menjadikan NU berdaulat secara eko-nomi, kebudayaan, dan politik. Hari ini belum terjadi: bisa besok, lusa, lusa-nya lagi, dan seterusnya” (NU Online, 2025).

Kebangkitan ketiga NU, menurut beliau, adalah terwujudnya kedaulatan ekonomi, kebudayaan, dan sosial-politik. Pernyataan Kiai Nur Khalik ini tentu tidak tepat dibaca sebagai sebuah “penantian” pasif, melainkan sebagai “seruan” yang ditujukan kepada warga Nahdliyin, terutama kaum muda. Seruan ini menuntut respons, bukan sekadar harapan. Sebab, sebagaimana telah disinggung sebelumnya, kebangkitan tidak pernah datang dengan sendirinya. Ia bukan sesuatu yang bisa ditunggu, apalagi diharapkan turun begitu saja dari langit. Setiap kebangkitan, bagaimanapun, selalu meniscayakan proses panjang menuju “perwujudan” nyata. Para mu’assis dan muharrik NU telah memberikan teladan konkret tentang bagaimana kebangkitan dibangun melalui kerja, pengorbanan, dan keberanian mengambil peran historis.

Jika demikian, pertanyaannya kemudian mengiringi hal tersebut: bagaimana kita (sebagai generasi muda Nahdliyin) dapat mengambil bagian secara aktif dalam mewujudkan kebangkitan ketiga NU? Menurut hemat penulis, sebagai kaum muda, setidaknya ada dua langkah mendasar yang dapat kita lakukan untuk membantu mewujudkan nahdlah tsalitsah NU. Pertama, menghidupkan kembali jalur “kultural” NU. Selama ini, kita kerap melihat kaum muda NU lebih banyak terserap dalam kerja-kerja struktural yang sering kali beririsan dengan kepentingan politis daripada melakukan upaya melestarikan wilayah kultural NU, meskipun tentu tidak semua kaum muda berada dalam kecenderungan yang sama. Banyak di antara mereka lebih memilih meniti karier di dalam struktur organisasi, lembaga, atau banom NU, ketimbang menjaga dan menghidupkan ideologi, amaliah, serta tradisi intelektual NU di tengah derasnya arus digitalisasi yang terus menggerus ruang-ruang kultural tersebut.

Dalam konteks tertentu, kecenderungan tersebut tentu dapat dipandang positif, sebab menunjukkan bahwa kaum muda NU tidak bersikap apatis terhadap dunia politik. Namun, persoalannya muncul ketika keterlibatan yang semakin dalam di ranah politik struktural justru membuat mereka “tenggelam” dan perlahan melupakan akar kulturalnya sendiri. Akibatnya, jalur kultural NU kian terasa “sepi” dan kurang progresif. Berbagai wacana dan gerakan kultural bahkan nyaris “sekarat” dalam konteks kekinian. Tidak sedikit kaum muda NU yang lebih tergiur oleh “posisi” di jalur struktural-politis, ketimbang harus “membanting tulang” menghidupkan kerja-kerja kultural.

Melihat kondisi semacam ini, upaya menghidupkan kembali jalur kultural NU-terutama di kalangan kaum muda-menjadi sebuah keniscayaan. Kita tidak mungkin sepenuhnya menggantungkan harapan pada generasi tua semata, mengingat perbedaan cara pandang dan pengalaman historis yang cukup signifikan antara mereka dan kita. Meski demikian, hal itu tidak berarti berjalan sendiri-sendiri. Sebaliknya, ruang kolaborasi justru harus dibuka dan diperkuat. Ketika jalur kultural ditopang secara bersama oleh generasi tua dan generasi muda, “jangkar kebudayaan pesantren” akan semakin kokoh, dan akar ideologis NU pun kian menguat.

Kedua, membentuk dan memperkuat jaringan kaum muda NU. Dulu, kaum muda NU yang bergerak di jalur kultural kerapkali mengadakan pertemuan di berbagai kota, seperti Yogyakarta, Jakarta, Surabaya, dan sejumlah daerah lainnya. Dalam forum-forum tersebut, mereka mendiskusikan beragam persoalan topik NU, negara, serta dinamika kehidupan masyarakat akar rumput. Isu-isu nasional hingga internasional menjadi topik utama yang dibahas secara kritis. Dari ruang-ruang diskusi inilah lahir berbagai ide dan gagasan yang kemudian diaktualisasikan melalui program-program lembaga maupun LSM. Kita bisa menyebut, misalnya, LKiS, Syarikat Indonesia, LAPAR, eLSAD, Fahmina Institute, Lakpesdam NU, Desantara, dan lain sebagainya.

Melalui pembentukan jaringan kaum muda NU semacam ini, kita memiliki ruang bersama untuk membahas isu-isu strategis, memahami persoalan masyarakat secara lebih mendalam, serta merumuskan solusi dari perspektif kaum muda Nahdliyin. Terlebih lagi, di tengah kemajuan teknologi digital yang kian pesat, sudah semestinya jaringan tersebut mampu memanfaatkan teknologi sebagai sarana perjuangan sosial. Teknologi digital dapat diarahkan untuk kepentingan masyarakat kelas bawah, khususnya warga NU, sekaligus dijadikan medium untuk menawarkan gagasan, menghadirkan perspektif baru, dan membangun solidaritas yang lebih luas.

Kedua langkah di atas, bagaimanapun, masih bersifat “gelondongan” dan memerlukan pengolahan lebih lanjut. Pada tataran teknis, tentu dibutuhkan sebuah “konsolidasi akbar” agar gagasan-gagasan tersebut dapat menemukan bentuk praksisnya. Namun, satu hal penting harus segera dicatat: upaya itu tidak akan pernah benar-benar berhasil selama sebagian besar kaum muda NU masih terjebak dalam nalar dan tindakan komunalistik yang sempit. Selama kaum muda NU masih disibukkan oleh manuver-manuver politis jangka pendek dan lebih memilih berbaring nyaman di atas “ranjang” kemapanan, kebangkitan ketiga NU tidak lebih dari sekadar “angan-angan” belaka, sebuah wacana kosong yang kehilangan daya ubah nyata.

Jika kaum muda terus-menerus berada dalam pola semacam itu—atau bahkan bersikap “bodo amat” terhadap kondisi NU dan Tanah Air dalam beberapa waktu terakhir, maka dapat dipastikan kebangkitan NU tidak akan pernah benar-benar hadir, baik “besok, lusa, lusanya lagi, dan seterusnya”. Sikap semacam ini hanya akan memperpanjang stagnasi. Bahkan ketika gerak dan ekspresi kaum muda tampak meledak-ledak, keras, atau terkesan sangar, sesungguhnya hal itu kerap tidak lebih dari sekadar “ngamuk” dan “ganas” belaka. Seperti dawuh Mahbub Djunaidi, dalam sebuah tulisan bertajuk: Modern (Kompas, 1 Desember 1991):

“Keberanian itu tidak bisa dibeli di toko-tokoh seperti halnya kita beli cuka. Keberanian itu mesti dibiasakan dari bawah, terus-menerus. Jika masyarakat terbiasa takut tak punya keberanian, sekali timbul keberaniannya, biasanya dalam bentuk ngamuk dan ganas. Agar masyarakat tidak tiba-tiba ngamuk dan ganas, ia mesti dibiasakan untuk bersikap secara terbuka. Bila kamar ditutup rapat dan jendelanya tanpa ventilasi sama sekali, selain hawanya sumpek dan pengap, juga suatu saat bisa meletup.”

Sebagai akhir dari “omon-omon” ini, perlu diingat bahwa Harlah NU satu abad bukan sekadar perayaan usia, melainkan momentum muhasabah bersama: ke mana NU akan melangkah dan siapa yang akan menggerakkan langkah itu. Sejarah telah membuktikan bahwa kebangkitan NU selalu lahir dari keberanian mengambil peran, bukan dari sikap menunggu. Maka, di usia satu abad ini, tanggung jawab itu berada di pundak kita bersama, terutama kaum muda Nahdliyin, untuk menghidupkan kembali “ruh” perjuangan NU dalam bentuk yang relevan dengan zamannya, tanpa tercerabut dari akar tradisi. Semoga NU tetap tegak sebagai penyangga ke-Islaman, ke-Indonesiaan, dan ke-Manusiaan, serta mampu melahirkan nahdlah tsalitsah yang bukan hanya diangankan, melainkan benar-benar diwujudkan.

Selamat Harlah NU satu abad: Merawat Jagat, Menjaga Tradisi, Menjemput Masa Depan.

oleh : Dr. Erwin Padli, M.Hum

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....