Harga Bapok Naik, Rumah Makan di Lobar Pilih tidak Naikkan Harga
- 10 Mar 2026 23:19 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Lombok Barat - Di tengah kondisi kenaikan harga bahan pokok yang terus terjadi di pasaran, sejumlah pelaku usaha kuliner harus memutar otak agar tetap bisa bertahan tanpa membebani konsumen. Salah satunya dialami oleh Rumah Makan Sukmarasa yang merasakan langsung dampak fluktuasi harga bahan baku dalam beberapa bulan terakhir.
Manajer Outlet Sukmarasa, Dian Safitri, mengungkapkan kenaikan harga bahan baku sangat berpengaruh terhadap operasional usaha kuliner yang dijalankan. Menurutnya, beberapa komoditas utama seperti cabai dan bahan dapur lainnya mengalami kenaikan harga yang cukup tajam dibandingkan periode sebelumnya.
“Kalau ditanya pengaruh bahan baku saat ini memang sangat berpengaruh karena beberapa bahan baku kami fluktuatif harganya itu sangat tinggi, apalagi seperti cabai dan beberapa bahan baku lainnya. Dibandingkan beberapa bulan atau tahun sebelumnya, sekarang fluktuasinya jauh lebih tinggi,” ujar Dian saat ditemui RRI di Labuapi, Lombok Barat, Selasa, 10 Maret 2026.
Meski demikian, Sukmarasa memilih tetap mempertahankan harga menu yang dijual kepada pelanggan. Kebijakan ini diambil sebagai bentuk komitmen untuk menjaga daya beli masyarakat di tengah kondisi ekonomi yang tidak stabil.
“Kalau untuk harga menu kami tidak ada perubahan sama sekali. Dari SOP dan standar yang kami miliki juga tidak mengubah gramatur bahan, misalnya cabai tetap sesuai standar walaupun harganya naik,” katanya menegaskan.
Dian menjelaskan, dampak kenaikan bahan pokok lebih banyak memengaruhi perhitungan biaya produksi atau Harga Pokok Penjualan (HPP). Hal tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi pengelola usaha makanan agar tetap menjaga kualitas dan stabilitas harga.
Menurutnya, hubungan dengan para pemasok bahan baku juga sangat dipengaruhi oleh dinamika harga di pasar. Para supplier umumnya menyesuaikan harga dengan tren yang terjadi di tingkat produsen maupun distribusi.
“Supplier tetap ada, tetapi mereka juga melihat tren harga pasar. Jadi ketika ada perubahan harga di pasar, otomatis kami juga ikut merasakan dampaknya,” ucapnya.
Untuk bahan baku tertentu seperti sayur-mayur, pihaknya masih memiliki beberapa alternatif pemasok sehingga dapat mencari pilihan dengan harga yang lebih kompetitif. Namun kondisi berbeda terjadi pada bahan baku utama seperti daging dan cabai.
“Kalau sayur-sayur masih bisa mencari supplier lain ketika ada yang lebih mahal. Tapi kalau bahan besar seperti daging dan cabai, pilihan supplier tidak terlalu banyak sehingga mau tidak mau kami tetap mengambil dari pemasok yang sama,” katanya.
Ia menambahkan, dalam struktur biaya operasional rumah makan, bahan baku menjadi komponen terbesar yang menentukan keberlangsungan usaha. Karena itu, fluktuasi harga sangat terasa dampaknya bagi pelaku usaha kuliner.
“Kalau dihitung dalam persentase, biaya bahan baku di rumah makan bisa mencapai lebih dari enam puluh persen dari total operasional,” katanya mengakhiri.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....