LPKS Bali Tosha Lombok Kochi Konsisten Buka Jalan Pemuda NTB Magang ke Jepang

  • 05 Okt 2026 14:01 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Mataram – Sebanyak 21 peserta program pemagangan asal Nusa Tenggara Barat (NTB) resmi dilepas untuk mengikuti program magang di Jepang, Senin 5 Oktober 2026.

Pelepasan tersebut menjadi bagian dari komitmen Lembaga Pelatihan Kerja Swasta (LPKS) Bali Tosha Lombok Kochi dalam membuka akses bagi generasi muda NTB untuk meningkatkan keterampilan sekaligus memperoleh pengalaman kerja internasional.

Direktur LPKS Bali Tosha Lombok Kochi, Abdurrahman, SE., MM, mengatakan perjalanan lembaganya dalam menyiapkan tenaga kerja untuk Jepang telah dimulai sejak 2008. Saat itu, lembaganya masih berfokus pada pelatihan bahasa melalui lembaga kursus.

“Selama kurang lebih 18 tahun, kami terus belajar, berproses, dan mengembangkan layanan hingga akhirnya memiliki jalur pengiriman dan penempatan peserta magang sendiri,” ujar Rama panggilan akrab Abdurrahman.

Ia menjelaskan, dalam perkembangannya terbentuk sejumlah lembaga yang saling melengkapi dalam ekosistem pelatihan dan pemagangan tersebut, di antaranya SNI School dan Doryouku.

SNI School berfokus pada pelatihan bahasa Jepang, budaya, kedisiplinan, serta persiapan budaya kerja Jepang. Sementara BTLK dan Doryouku berfokus pada proses pengiriman dan penempatan peserta sesuai kewenangan dan perizinan masing-masing.

Menurut Rama, pembagian peran tersebut dilakukan untuk membangun sistem pelatihan dan penempatan yang lebih terstruktur, profesional, serta tidak tumpang tindih.

Untuk peserta yang dilepas kali ini, mereka akan ditempatkan di sejumlah wilayah Jepang, antara lain Tokyo, Fukushima, Shizuoka, Saitama, dan Osaka.

Sebagian besar peserta akan bekerja pada sektor teknik sipil dan konstruksi, seperti pekerjaan perkerasan, pengaspalan, bekisting, hingga scaffolding.

Rama menyebutkan, beberapa bulan sebelumnya pihaknya juga telah memberangkatkan 25 peserta magang ke Jepang. Seluruh peserta tersebut telah berada di Jepang dan berdasarkan pemantauan, menunjukkan perkembangan yang baik, termasuk dalam kemampuan berbahasa Jepang.

“Kami bersyukur belum menerima laporan negatif terkait peserta yang telah diberangkatkan. Tanggung jawab kami tidak berhenti ketika peserta diberangkatkan. Kami akan terus memantau dan mendampingi mereka selama masa kontrak hingga tiga tahun,” katanya.

Ia menegaskan, pendampingan tersebut dilakukan untuk memastikan peserta mendapatkan keamanan, kenyamanan, dan kesejahteraan selama menjalani program hingga kembali ke Indonesia.

Secara keseluruhan, sejak awal tahun hingga saat ini, jumlah peserta yang telah diberangkatkan melalui jaringan lembaga tersebut mencapai sekitar 80 orang, termasuk peserta dari NTB dan Jawa Timur. Untuk NTB, pemberangkatan telah dilakukan dua kali dengan jumlah sekitar 47 peserta.

Pembiayaan Jadi Perhatian

Rama mengatakan, akses pembiayaan menjadi salah satu perhatian dalam membuka kesempatan pemagangan ke luar negeri. Sebab, meskipun sebagian besar peserta mampu membiayai persiapan keberangkatan, terdapat peserta yang membutuhkan dukungan pembiayaan.

“Kita melihat anak-anak ini pada dasarnya mampu, tetapi memang ada beberapa yang tidak mampu. Mereka yang membutuhkan kami arahkan kepada pembiayaan,” ujarnya.

Karena itu, pihaknya menyambut baik kerja sama dengan perbankan, termasuk rencana penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) dengan Bank NTB Syariah untuk program pembiayaan KUR TKI/magang.

Rama berharap kerja sama tersebut dapat memperluas akses pembiayaan bagi peserta yang memenuhi persyaratan, sehingga persoalan biaya tidak menjadi penghalang bagi anak muda NTB untuk mendapatkan kesempatan magang di Jepang.

Sebelumnya, BTLK dan Doryouku juga telah menjalin kerja sama dengan BPRS Amali dalam mendukung pembiayaan keberangkatan peserta.

“Dukungan pendanaan yang telah diberikan selama ini sangat membantu peserta dalam mempersiapkan keberangkatan ke Jepang,” katanya.

Ia berharap sinergi pemerintah, lembaga pelatihan, perbankan, dunia pendidikan, dan keluarga terus diperkuat untuk membuka lebih banyak peluang bagi generasi muda NTB.

Disnakertrans NTB Dorong LPK Jadi Contoh

Sementara itu, Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi NTB, Dr. H. Aidy Furqan, mengapresiasi program yang dijalankan LPKS Bali Tosha Lombok Kochi.

Menurutnya, lembaga tersebut menunjukkan perkembangan yang baik dalam menyiapkan dan memberangkatkan peserta untuk mengikuti program pemagangan di Jepang.

“Saya cukup terima kasih kepada LPK ini. Salah satu yang saya lihat progresnya bagus. Bahkan semester ini saya dua kali hadir pada kegiatan serupa dan orang tua mereka dihadirkan,” kata Aidy.

Ia mengatakan, sejauh ini pihaknya belum menerima laporan persoalan serius dari peserta yang diberangkatkan melalui program tersebut.

Aidy menekankan pentingnya mencari praktik baik atau best practice dalam penyelenggaraan pemagangan ke luar negeri. Praktik tersebut nantinya dapat menjadi contoh bagi LPK lainnya di NTB.

“Kita jangan mencari masalah. Kita mencari yang best practice. Kalau ada yang bagus-bagus, nanti bisa menjadi benchmark atau model bagi anak-anak kita,” ujarnya.

Menurut Aidy, keberadaan LPK yang mampu memberikan pelatihan sekaligus membuka akses pemagangan ke luar negeri sangat penting dalam meningkatkan kualitas dan daya saing tenaga kerja muda NTB.

Ia juga mendorong masyarakat memanfaatkan sistem informasi ketenagakerjaan yang disediakan pemerintah untuk memperoleh informasi mengenai peluang kerja secara lebih mudah.

“Tidak mesti harus datang langsung. Ada aplikasi siap kerja, tinggal diakses melalui HP,” katanya.

Aidy berharap semakin banyak pemuda NTB yang memanfaatkan peluang pemagangan secara legal, terlatih, dan terarah, sehingga pengalaman yang diperoleh di Jepang dapat menjadi modal untuk meningkatkan keterampilan dan kesejahteraan setelah kembali ke tanah air.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....