Dari Adelaide, Tiga Srikandi NTB Telusuri Jejak Budaya di Australia

  • 14 Sep 2026 15:51 WIB
  •  Mataram
Poin Utama
  • Tiga Srikandi NTB menelusuri jejak budaya Lombok dan Bima yang tersimpan di Art Gallery of South Australia, Adelaide, mulai dari wastra, keris hingga manuskrip lontar.
  • Kunjungan ini diarahkan untuk memperkuat diplomasi budaya, riset, dokumentasi, dan membawa warisan budaya NTB mendunia.

RRI.CO.ID, Mataram - Tiga perempuan yang mewakili eksekutif, kebudayaan, dan legislatif Nusa Tenggara Barat menelusuri jejak budaya NTB yang tersimpan di Australia. Mereka menemukan wastra Lombok, keris Bima, hingga manuskrip Lombok dalam koleksi Art Gallery of South Australia (AGSA), Adelaide.

Ketiganya adalah Wakil Gubernur NTB Indah Dhamayanti Putri, Ketua Dekranasda NTB Sinta Agathia, dan Ketua DPRD NTB Baiq Isvie Rupaeda. Mereka mengunjungi AGSA pada 11–12 September 2026 bersama Kepala Dinas Kebudayaan NTB, Kepala Museum Negeri NTB, dan tim.

Indah mengatakan kunjungan tersebut bukan sekadar melihat benda budaya yang tersimpan di luar negeri. Menurut dia, NTB perlu menggali pengetahuan, sejarah dan cerita di balik setiap koleksi untuk memperkuat diplomasi budaya.

“Yang kita bawa ke panggung dunia bukan hanya benda budaya. Yang harus kita bawa adalah cerita, pengetahuan, nilai dan sejarah yang ada di balik setiap benda itu,” kata Indah, Senin 14 September 2026.

Di AGSA, delegasi menelusuri sejumlah koleksi dari Lombok, Bali dan Bima. Di antaranya kekombong atau kain ritual dari Lombok Utara, kampuh atau leang dari Lombok Tengah, serta tekstil songket dengan teknik supplementary weft.

Koleksi tersebut menunjukkan bahwa wastra tidak sekadar berbicara tentang motif dan warna. Di dalamnya terdapat pengetahuan tentang kapas, pemintalan, pewarna alam, teknik menenun, ritual, struktur sosial hingga hubungan antardaerah.

Perhatian delegasi juga tertuju pada keris kerajaan asal Bima. Dalam katalog AGSA, keris itu tercatat berasal dari Bima, NTB, dan diperkirakan dibuat pada abad ke-17 hingga awal abad ke-18.

Indah mengatakan keberadaan benda-benda tersebut menjadi alasan NTB perlu memetakan warisan budaya yang tersimpan di luar negeri.

“Kita harus mulai mengetahui, mendata dan membangun komunikasi dengan institusi yang menyimpannya,” ujarnya.

Menurut dia, upaya tersebut tidak selalu harus berujung pada pengembalian benda budaya. Dokumentasi, penelitian, akses pengetahuan dan pemanfaatan sejarah koleksi bagi masyarakat NTB juga penting.

Jejak budaya NTB lainnya ditemukan melalui Hikayat Nabi Yusuf yang ditulis di atas daun lontar. Koleksi itu menunjukkan luasnya warisan budaya NTB, mulai dari manuskrip, sastra, bahasa, arsitektur, senjata tradisional hingga pengetahuan tentang alam.

Pengalaman di AGSA juga menjadi referensi bagi pengembangan Museum Negeri NTB. Kerja sama dengan institusi internasional dinilai dapat diarahkan pada katalogisasi, digitalisasi, konservasi, penelitian asal-usul koleksi, publikasi dan pertukaran pameran.

Cerita tentang Lombok kemudian dibawa ke forum internasional melalui peluncuran buku Two Islands, One Thread: Lombok and Bali Textiles from the Michael Abbott Collections.

Forum tersebut mempertemukan peneliti, kolektor, kurator dan pemerhati tekstil. Sejumlah tokoh Australia hadir, termasuk Menteri Perdagangan dan Pariwisata Australia Senator Don Farrell, pimpinan AGSA serta Michael Abbott AO KC.

Ketua Dekranasda NTB Sinta Agathia mengatakan buku tersebut menunjukkan hubungan dan pertukaran budaya Lombok-Bali, bukan membandingkan keunggulan tekstil kedua pulau.

Menurut Sinta, dokumentasi koleksi tekstil Indonesia yang dilakukan Michael Abbott penting untuk meningkatkan penghargaan terhadap penenun sekaligus menjadi inspirasi bagi generasi muda.

Sementara itu, Ketua DPRD NTB Baiq Isvie Rupaeda mengatakan diplomasi budaya harus menghasilkan manfaat bagi masyarakat. Pelindungan budaya dan penguatan posisi penenun, perajin, seniman, budayawan serta generasi muda harus menjadi bagian dari kerja tersebut.

“Pariwisata membawa orang datang. Kebudayaan membuat orang memahami siapa kita. Dua hal ini harus saling menguatkan,” kata Indah.

Selain diplomasi budaya, delegasi juga bertemu diaspora NTB di Adelaide. Para mahasiswa dan generasi muda didorong membangun ilmu, pengalaman dan jaringan internasional yang nantinya dapat memberi manfaat bagi NTB.

Diaspora NTB di Australia juga dinilai dapat menjadi jembatan untuk membuka peluang kerja sama pendidikan, investasi, perdagangan, pariwisata dan kebudayaan. Salah satunya gagasan konektivitas langsung Adelaide-Lombok yang akan dikaji lebih lanjut.

Kunjungan ke Adelaide itu selanjutnya diarahkan pada kerja konkret, seperti memetakan koleksi NTB di luar negeri, memperkuat museum, mendokumentasikan pengetahuan penenun, serta memperluas penelitian dan publikasi internasional.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....