ICCS dan Semnaskom 2026, Dorong Inovasi Komunikasi untuk Pemberdayaan Masyarakat

  • 01 Okt 2026 09:41 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Mataram - Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Mataram (Unram) kembali menggelar The 4th International Conference on Communication Science (ICCS) yang dirangkaikan dengan Seminar Nasional Komunikasi (Semnaskom) ke-7. Dua agenda tersebut akan dilaksanakan pada 15 Oktober 2026 di Mataram, Lombok.

Ketua Panitia ICCS ke-4 sekaligus dosen Ilmu Komunikasi Unram, Muhammad Jamiluddin Nur, S.Pd., M.I.Kom., mengatakan penyelenggaraan tahun ini memiliki keistimewaan karena ICCS untuk pertama kalinya dalam rangkaian kegiatan tersebut digabungkan dengan Semnaskom.

Menurutnya, penggabungan dua forum tersebut memberikan ruang yang lebih luas bagi akademisi, praktisi, mahasiswa maupun aktivis sosial untuk berbagi hasil penelitian dan pengabdian yang telah dilakukan.

"Yang spesial dari ICCS tahun ini karena digabungkan dengan Seminar Nasional Komunikasi yang sudah memasuki penyelenggaraan ke-7. Kegiatan ini menjadi wadah untuk mendiseminasikan hasil penelitian maupun pengabdian yang telah dilakukan oleh peneliti, praktisi, mahasiswa dan aktivis sosial," jelasnya, 1 Oktober 2026.

Ia menambahkan, forum tersebut tidak hanya diarahkan sebagai kegiatan akademik untuk mempresentasikan hasil penelitian. ICCS dan Semnaskom juga dirancang sebagai ruang pertemuan berbagai pihak untuk membangun kolaborasi dalam mengembangkan inovasi di bidang komunikasi.

"Selain sebagai wadah diseminasi hasil penelitian dan pengabdian, kegiatan ini juga menjadi wadah kolaborasi banyak pihak, baik akademisi, praktisi, pemerintah dan pihak lainnya untuk melakukan inovasi di bidang komunikasi," ujarnya.

Konsep tersebut tercermin dalam tema yang diangkat, yakni "Communication Innovation for Sustainable Community Improvement". Tema ini menempatkan inovasi komunikasi sebagai salah satu bagian penting dalam mendorong peningkatan kualitas dan pemberdayaan masyarakat secara berkelanjutan.

Jamiluddin mengatakan, keterlibatan pembicara dari sejumlah negara menjadi bagian penting dalam memperluas perspektif yang dibahas dalam forum tersebut. Para pembicara berasal dari Indonesia, Malaysia, Belgia dan China.

"Pembicaranya berasal dari berbagai negara. Ada dari Belgia, China, Indonesia dan Malaysia. Jadi, perspektif yang dibawa dalam kegiatan ini cukup beragam," ungkapnya.

Ia juga menjelaskan, ICCS dan Semnaskom menghadirkan tujuh pembicara dari dalam dan luar negeri. Mereka berasal dari kalangan akademisi maupun praktisi dengan latar belakang keilmuan dan pengalaman yang beragam.

Pembicara internasional di antaranya Prof. Anang Sujoko, S.Sos., M.Si., D.Comm. dari Universitas Brawijaya, Ts. Dr. Latifah binti Abd Latib dari Universiti Putra Malaysia, Prof. Charlotte De Backer dari University of Antwerp, Belgia, serta Dr. Hui Geng dari Guilin University of Technology, China.

Sementara pembicara nasional terdiri atas Prof. Dr. Adhyanti Nurjanah, S.Sos., M.Si. dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Dr. Agus Purbathin Hadi, M.Si. dari Universitas Mataram, serta Ririn Hayudiani yang merupakan aktivis pemberdayaan perempuan.

Selain menghadirkan pembicara lintas negara, kegiatan tersebut juga diikuti lebih dari 50 peserta. Mereka berasal dari berbagai latar belakang yang berkaitan dengan bidang komunikasi, penelitian, pendidikan maupun aktivitas sosial.

Menurut Jamiluddin, keberagaman peserta dan pembicara diharapkan dapat membuka pertukaran gagasan yang lebih luas. Kolaborasi yang terbentuk juga diharapkan tidak berhenti selama kegiatan berlangsung, tetapi dapat berkembang menjadi kerja sama dan inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat.

"Kami berharap kegiatan ini bisa menjadi praktik positif untuk mendorong inovasi di bidang komunikasi untuk memberdayakan masyarakat. Itu sesuai dengan tema kegiatan yang kami angkat tahun ini," tuturnya.

Adapun ruang lingkup ICCS dan Semnaskom meliputi inovasi komunikasi dan peningkatan kualitas masyarakat, inovasi media dan teknologi untuk literasi publik, strategi komunikasi dan pemberdayaan, serta komunikasi inklusif dan aksesibilitas informasi.

Forum tersebut juga membahas komunikasi untuk perubahan perilaku dan sosial, kolaborasi multiplatform untuk transformasi masyarakat, hingga persoalan hukum media, etika dan politik dalam demokrasi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....