Mahasiswa Didorong Berkarya, Berpikir, dan Berikan Dampak

  • 29 Sep 2026 09:00 WIB
  •  Mataram
Poin Utama
  • TANIN#7 mendorong mahasiswa tidak hanya fokus pada akademik, tetapi juga berani berkarya dan mengembangkan gagasan inovatif.
  • LKTIN menjadi ruang bagi mahasiswa menuangkan ide sekaligus mengembangkan karya hingga tahap presentasi dan prototype.
  • Rangkaian TANIN#7 mempertemukan mahasiswa dengan dunia akademik, usaha, inovasi, dan potensi lokal NTB.

RRI.CO.ID, Mataram - Mahasiswa tidak hanya dituntut aktif dalam kegiatan perkuliahan, tetapi juga didorong untuk berani berkarya, mengembangkan gagasan, serta memberikan dampak nyata bagi lingkungan sekitar. Semangat tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam talkshow Sore Ceria Pro 2 Mataram, Senin, 28 September 2026, bersama M. Ikhwan Hukma Shabiyya atau Aby, Head of Committee TANIN#7, dan Nana Sofiana, panitia TANIN#7.

Dalam talkshow, Aby menyampaikan bahwa mahasiswa memiliki potensi besar untuk mengambil peran dalam menghadapi berbagai tantangan di era modern. Perkembangan teknologi, perubahan sosial, hingga persoalan pembangunan berkelanjutan membutuhkan generasi muda yang mampu berpikir kritis, kreatif, dan inovatif.

Menurut Aby, dunia perkuliahan seharusnya tidak hanya menjadi ruang untuk memperoleh pengetahuan akademik. Mahasiswa juga memiliki kesempatan untuk mengembangkan ide dan mengubahnya menjadi karya yang dapat memberikan manfaat lebih luas.

Gagasan tersebut menjadi salah satu dasar penyelenggaraan TANIN#7 HMPS Peternakan Universitas Mataram. Kegiatan yang telah memasuki tahun ketujuh ini mengangkat tema “Mengukir Peradaban Masa Depan: Eksplorasi Gagasan Inovatif dalam Mendukung SDG’s Menghadapi Tantangan di Era Modern”.

Nana menambahkan, ruang bagi mahasiswa untuk berkarya dalam TANIN#7 tidak hanya diberikan melalui kompetisi karya tulis ilmiah. Rangkaian kegiatan juga dikemas dengan berbagai agenda yang memungkinkan mahasiswa berinteraksi, bertukar gagasan, mengenal potensi daerah, hingga melihat peluang pengembangan produk dan usaha.

Salah satunya melalui Lomba Karya Tulis Ilmiah Nasional atau LKTIN. Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa diberikan kesempatan menuangkan ide dan inovasi yang berkaitan dengan berbagai tantangan di era modern serta mendukung pencapaian SDGs Indonesia 2030.

Aby menjelaskan, prosesnya tidak berhenti pada penulisan karya. Para finalis nantinya akan mempresentasikan gagasan yang telah mereka susun. Penilaian juga mencakup paper, presentasi, poster, hingga implementasi dalam bentuk prototype atau produk.

Sementara itu, Nana menyampaikan bahwa mahasiswa juga dapat melihat sisi lain dari dunia peternakan melalui Nusaloka Fest atau EXPO. Kegiatan ini menjadi ruang untuk mempertemukan pelaku usaha, masyarakat, akademisi, dan pihak terkait dalam pengembangan sektor peternakan di NTB.

Menurut kedua narasumber, keberadaan ruang seperti TANIN#7 penting bagi mahasiswa karena dapat mempertemukan proses belajar dengan pengalaman langsung. Mahasiswa tidak hanya menghasilkan gagasan, tetapi juga belajar menyampaikan ide, membangun jejaring, mengenal potensi lokal, serta melihat bagaimana sebuah inovasi dapat dikembangkan.

Rangkaian TANIN#7 akan berlangsung pada 16 hingga 21 Oktober 2026 dengan sejumlah agenda, mulai dari presentasi finalis LKTIN, Nusaloka Fest, Seminar Nasional Peternakan, TANIN Begawe dan Malam Penganugerahan, hingga field trip wisata NTB.

Melalui semangat “mahasiswa nggak cuma kuliah: berkarya, berpikir, dan berdampak”, TANIN#7 diharapkan menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan potensi sekaligus menghadirkan gagasan yang dapat terus dikembangkan dan memberi manfaat bagi masyarakat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....