Siswa SMAN 3 Mataram Tembus Final B-Brave BRIN, Bawa Inovasi Pengolahan Limbah Tahu

  • 16 Sep 2026 17:49 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Mataram - Tim SMAN 3 Mataram berhasil melaju ke babak final ajang B-Brave yang diselenggarakan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Tim tersebut menjadi salah satu dari 21 finalis nasional yang bertahan setelah melewati rangkaian seleksi dan pengembangan produk riset.

Ketua Tim Perwakilan Finalis B-Brave SMAN 3 Mataram, Muhammad Khairan Rafie, mengatakan proses seleksi B-Brave tidak dilakukan secara berjenjang dari tingkat kabupaten, provinsi, hingga nasional. Setiap sekolah di Indonesia memiliki kesempatan mendaftarkan timnya melalui mekanisme pendaftaran yang disediakan penyelenggara.

“Pertama itu seleksi administrasi. Semua sekolah di seluruh Indonesia bisa membuat timnya masing-masing untuk mendaftar B-Brave,” ucapnya, Rabu 16 September 2026.

Setelah lolos administrasi, peserta mengikuti tahap bootcamp secara daring. Dalam tahap tersebut, peserta mendapatkan pembekalan dari BRIN mengenai riset sebelum diminta menyusun proposal penelitian.

Proposal yang diajukan kemudian kembali diseleksi untuk menentukan tim yang berhak melanjutkan ke tahap berikutnya. Pada tahap kedua, peserta yang lolos mulai mengembangkan produk riset berdasarkan proposal dengan pendampingan mentor dari BRIN.

Khairan menjelaskan, dari peserta yang jumlahnya mencapai ribuan pada tahap awal, persaingan kemudian mengerucut menjadi 21 tim. Finalis tersebut terbagi dalam tiga klaster, yakni sains, sosial, serta teknologi dan rekayasa, dengan masing-masing klaster terdiri atas tujuh tim.

“Setelah bootcamp dan seleksi proposal di tahap kedua, tersisa tujuh tim di masing-masing bidang. Ada tiga bidang, jadi totalnya 21 tim,” ujarnya.

Tim SMAN 3 Mataram sendiri masuk dalam klaster teknologi dan rekayasa. Mereka mengembangkan inovasi bernama Smart MFC, sebuah purwarupa reaktor bioremediasi untuk membantu pengolahan awal limbah cair tahu dengan memanfaatkan sedimen mangrove dan sistem biofilm.

Inovasi tersebut berangkat dari persoalan limbah cair tahu yang berpotensi mencemari lingkungan apabila langsung dibuang. Melalui Smart MFC, limbah terlebih dahulu diproses dalam reaktor sehingga diharapkan kualitasnya dapat dipantau sebelum mencapai lingkungan.

“Secara umum, kami membuat purwarupa reaktor Smart MFC untuk membantu pengolahan awal limbah cair tahu dengan memanfaatkan sedimen mangrove,” kata Khairan.

Di dalam reaktor tersebut berlangsung proses bioelektrokimia yang menghasilkan listrik dalam skala mikro. Sistem itu kemudian dilengkapi sensor Internet of Things (IoT) untuk memantau perubahan total dissolved solids (TDS) dan tegangan melalui dashboard berbasis web.

Menurut Khairan, Smart MFC tidak hanya dirancang sebagai alat pengolahan limbah. Sistem tersebut menggabungkan pengolahan awal limbah, pemantauan secara digital, serta pengembangan mikroenergi dalam satu sistem.

“Jadi Smart MFC ini bukan hanya reaktornya, tetapi satu sistem yang menggabungkan pengolahan awal limbah, monitor digital dan pengembangan mikroenergi,” ujarnya.

Saat ini tim SMAN 3 Mataram telah berada pada tahap final dan akan mengikuti rangkaian kegiatan nasional di Jakarta pada 21 hingga 24 September 2026. Pada babak tersebut, tujuh tim dari masing-masing klaster akan memperebutkan posisi juara.

Khairan menjelaskan, setiap finalis pada masing-masing klaster tetap akan mendapatkan penghargaan. Namun, predikat juara akan diberikan kepada peringkat pertama, kedua, dan ketiga, yang juga memperoleh piala serta uang pembinaan.

Sementara itu, finalis yang berada pada peringkat keempat hingga ketujuh juga mendapatkan uang pembinaan, meskipun tidak masuk dalam kategori juara pertama hingga ketiga.

Bagi tim SMAN 3 Mataram, keikutsertaan dalam final B-Brave bukan hanya tentang hasil kompetisi. Mereka juga berharap riset yang telah dikembangkan dapat terus dilanjutkan setelah rangkaian kompetisi berakhir.

“Semoga kami bisa mendapatkan hasil yang terbaik di final nanti. Bagaimanapun, insyaallah semoga bisa dapat juara,” katanya.

Lebih dari itu, Khairan berharap Smart MFC dapat dikembangkan kembali setelah tim kembali ke Nusa Tenggara Barat. Pengembangan lanjutan diharapkan dapat membuat teknologi tersebut semakin baik dan memiliki manfaat nyata bagi lingkungan.

“Kami harap proyek kami ini bisa kami kembangkan lagi untuk lebih baik dan lebih bagus ke depannya. Siapa tahu bisa sangat bermanfaat bagi lingkungan, terutama di Nusa Tenggara Barat,” katanya, mengakhiri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....