Unram dan UGM Gandeng Warga Awang Wujudkan Pesisir Teluk Awang Zero Waste
- 19 Sep 2026 21:02 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Lombok Tengah – Upaya mewujudkan kawasan pesisir bebas sampah terus dilakukan melalui kolaborasi perguruan tinggi dan masyarakat. Universitas Mataram (Unram) bersama Universitas Gadjah Mada (UGM) menggandeng masyarakat Desa Persiapan Awang, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, dalam program bertema Sinergi Perguruan Tinggi dan Masyarakat Pesisir Mewujudkan Kawasan Zero Waste.
Kegiatan yang berlangsung di Desa Persiapan Awang, 28 Juli 2026, tersebut melibatkan tim dosen Unram dan UGM, mahasiswa, serta perwakilan Karang Taruna Sasak Bajo Desa Awang.
Ketua Pengabdian Unram, Ramadian Ridho Illahi, M.Sc., mengatakan persoalan sampah plastik menjadi salah satu tantangan yang perlu mendapat perhatian serius di kawasan pesisir.
Desa Awang belum memiliki tempat pembuangan sampah sendiri. Sementara layanan pengangkutan sampah hanya datang sekitar dua kali dalam sepekan. Kondisi tersebut membuat sampah rumah tangga, plastik, dan kaca berpotensi menumpuk di sekitar permukiman maupun kawasan pantai.
"Dari sekian banyak sampah plastik yang dikumpulkan dari lingkungan desa, setiap kilogram yang tidak masuk ke laut merupakan langkah kecil namun berarti bagi Teluk Awang," ujar Ramadian, seperti dikutip dari siaran pers resminya, Sabtu 19 September 2026.
Menurutnya, plastik menjadi salah satu jenis sampah anorganik yang paling dominan di Desa Awang, dengan proporsi sekitar 60 persen. Sebagian besar sampah tersebut belum tertangani melalui proses daur ulang sehingga berpotensi mencemari lingkungan pesisir dan laut.
Karena itu, tim pengabdian memperkenalkan teknologi pencacahan plastik sebagai salah satu solusi yang dapat diterapkan masyarakat.
Mesin pencacah plastik berukuran kompak yang diperkenalkan dalam program tersebut mampu mengolah sekitar 10 kilogram plastik per jam. Plastik kemudian dicacah menjadi serpihan kecil atau flakes sehingga volumenya dapat berkurang hingga sekitar 70 persen.
Dengan bentuk yang lebih ringkas, plastik hasil pencacahan menjadi lebih mudah disimpan, diangkut, maupun dipasarkan sebagai bahan baku daur ulang.

Libatkan Komunitas Lokal
Sementara itu, Ketua Pengabdian UGM, Dr. Chotimah, M.Si., mengatakan kolaborasi dengan masyarakat menjadi bagian penting dalam program tersebut. Pendekatan yang digunakan tidak hanya memberikan solusi dari luar, tetapi juga mendorong masyarakat untuk memiliki kemampuan mengelola sampah secara mandiri.
Keterlibatan Karang Taruna Sasak Bajo menjadi salah satu bagian penting dalam membangun sistem pengelolaan sampah berbasis komunitas.
"Program ini tidak hanya berbicara mengenai teknologi, tetapi bagaimana masyarakat memiliki kapasitas dan peran dalam mengelola persoalan sampah di lingkungannya," kata Chotimah.
Pelatihan dilaksanakan dalam tiga sesi yang memadukan ceramah interaktif, demonstrasi penggunaan mesin pencacah, dan praktik bersama.
Melalui metode tersebut, masyarakat tidak hanya mendapatkan pemahaman mengenai dampak sampah plastik terhadap lingkungan, tetapi juga diperkenalkan pada tahapan pengolahan sampah plastik hingga menjadi material yang memiliki nilai jual.
Sampah Plastik Berpotensi Bernilai Ekonomi
Pengelolaan sampah plastik dalam program tersebut juga diarahkan untuk membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.
Plastik yang berhasil dikumpulkan dan diolah menjadi flakes dapat dipasarkan dengan kisaran harga Rp3.200 hingga Rp10.000 per kilogram, tergantung jenis dan kualitas material.
Tim pengabdian juga telah mengidentifikasi sejumlah saluran pemasaran yang dapat dijajaki masyarakat, di antaranya platform daur ulang Scrapo, grup Facebook "Limbah Plastik Jual Beli Indonesia", serta marketplace seperti Shopee dan Tokopedia.
Saluran pemasaran tersebut dapat menjadi alternatif untuk mempertemukan masyarakat pengelola sampah dengan produsen maupun pelaku usaha yang membutuhkan bahan baku plastik daur ulang.
Meski nilai ekonominya masih relatif terbatas, program ini dinilai sebagai langkah awal untuk membangun ekosistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan di Desa Awang.
Dukung Kebersihan Kawasan Mandalika
Desa Awang berada di kawasan sekitar Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika. Karena itu, pengelolaan sampah di wilayah pesisir tidak hanya berkaitan dengan kebersihan lingkungan, tetapi juga berkaitan dengan keberlangsungan kehidupan masyarakat nelayan dan perkembangan pariwisata.
Ramadian mengatakan, keberlanjutan menjadi salah satu perhatian utama setelah program pengabdian selesai. Masyarakat dan komunitas lokal diharapkan dapat melanjutkan praktik pengumpulan serta pengolahan sampah plastik secara mandiri.
Sementara itu, Chotimah berharap pengalaman di Desa Awang dapat menjadi pembelajaran untuk pengembangan model pengelolaan sampah berbasis masyarakat di desa-desa pesisir lainnya.
Program kolaborasi Unram dan UGM tersebut diharapkan mampu mengubah cara pandang masyarakat terhadap sampah. Sampah tidak lagi sekadar material yang harus dibuang, tetapi dapat dikelola menjadi bahan yang memiliki manfaat lingkungan sekaligus potensi ekonomi.
Dengan sinergi perguruan tinggi, komunitas pemuda, dan masyarakat, upaya mewujudkan kawasan pesisir Teluk Awang yang lebih bersih dan berkelanjutan diharapkan dapat terus berkembang.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....