Dari Sampah Jadi Produk Bernilai, Unram Perkuat Ekonomi Sirkular di Desa Suela
- 17 Sep 2026 17:14 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Lombok Timur - Pengembangan Desa Suela sebagai kawasan agrowisata tidak hanya membutuhkan penguatan potensi wisata, tetapi juga kesiapan masyarakat dalam menjaga lingkungan. Persoalan sampah menjadi salah satu tantangan yang dihadapi desa yang berada di jalur transit menuju kawasan Sembalun tersebut.
Desa Suela memiliki sejumlah potensi yang dapat dikembangkan sebagai daya tarik agrowisata. Selain Kebun Raya Lemor yang telah dikenal, terdapat Sungai Brang Paok dan kawasan Embung Kembar yang berpotensi menjadi bagian dari pengembangan destinasi wisata desa.
Desa Suela juga tengah merintis pengembangan desa wisata yang terintegrasi dalam Jejaring Desa Wisata (Jadesta) Kementerian Pariwisata RI. Namun, upaya tersebut masih menghadapi keterbatasan sarana pengolahan sampah, belum tersedianya Tempat Pembuangan Akhir (TPA) lokal, serta keterbatasan anggaran operasional desa.
Kondisi tersebut mendorong akademisi Kelompok Bidang Ilmu Sumber Daya Air, Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Mataram (Unram), melakukan pendampingan kepada masyarakat. Program yang dipimpin Humairo Saidah, S.T., M.T. itu diarahkan pada pengelolaan sampah dari tingkat rumah tangga dengan melibatkan masyarakat secara langsung.
Humairo bersama Dr. Made Mahendra, M. Bagus Budianto, M.T., Atas Pracoyo, Ph.D., dan Dr. Eng. Hartana, serta mahasiswa, memberikan edukasi, pelatihan teknis, dan pendampingan kepada warga. Pendekatan tersebut diharapkan dapat mengubah kebiasaan masyarakat dari membuang atau membakar sampah menjadi mengolahnya secara mandiri.
Salah satu kegiatan dilakukan melalui sosialisasi bertajuk “Sampah Kita Tanggung Jawab Siapa”. Kegiatan tersebut menyasar warga, anggota Karang Taruna, dan ibu-ibu PKK dengan materi mengenai pemilahan sampah berdasarkan jenisnya, yakni organik, anorganik, dan residu.
Hasil evaluasi setelah kegiatan menunjukkan seluruh peserta atau 100 persen peserta memahami bahwa pengelolaan sampah merupakan tanggung jawab setiap individu. Pemahaman tersebut menjadi bagian penting dalam membangun kesadaran kolektif masyarakat untuk menangani sampah sejak dari sumbernya.
Pada aspek teknis, warga diperkenalkan dengan pengolahan sampah organik menggunakan drum komposter aerobik dan composter bag yang merupakan bantuan dari Dinas LHK Provinsi NTB. Tim juga memperkenalkan sistem dua drum bertumpuk yang dapat digunakan untuk menghasilkan Pupuk Organik Cair (POC) dan bio-enzim.
Produk hasil pengolahan tersebut dapat dimanfaatkan kembali oleh masyarakat, khususnya untuk mendukung produktivitas lahan pertanian di Desa Suela. Dengan demikian, sampah organik tidak hanya dipandang sebagai persoalan lingkungan, tetapi juga dapat kembali dimanfaatkan dalam aktivitas pertanian warga.
Pengolahan sampah juga dikembangkan melalui metode biokonversi menggunakan larva Black Soldier Fly atau maggot BSF. Sampah sisa makanan dimanfaatkan sebagai media biokonversi yang menghasilkan maggot untuk pakan ternak serta pupuk kasgot.
Sementara untuk sampah anorganik, Unram berkolaborasi dengan Bank Sampah Sultan Tanjung memberikan keterampilan kepada warga untuk mengolah plastik sekali pakai menjadi ecobrick. Produk tersebut dapat digunakan sebagai bahan furnitur sederhana maupun berbagai produk kerajinan.
Program tersebut sekaligus diarahkan untuk mendukung sejumlah tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs). Berdasarkan kriteria evaluasi dampak perguruan tinggi dalam Times Higher Education (THE) Impact Rankings, program ini dikaitkan dengan SDG 6, SDG 11, SDG 12, dan SDG 13.
Pada SDG 6 tentang Air Bersih dan Sanitasi Layak, pengelolaan sampah diharapkan mencegah kebiasaan membuang sampah ke saluran air dan sungai. Upaya tersebut ditujukan untuk menjaga kualitas air Sungai Brang Paok dan kawasan Embung Kembar sekaligus mengurangi risiko pencemaran serta banjir di wilayah hilir.
Program ini juga mendukung SDG 11 mengenai Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan melalui penguatan kapasitas masyarakat dalam mengelola sampah secara mandiri. Lingkungan desa yang lebih bersih, sehat, dan tertata diharapkan turut mendukung kenyamanan masyarakat dan wisatawan.
Sementara itu, pemanfaatan sampah organik menjadi kompos dan maggot BSF serta pengolahan plastik menjadi ecobrick sejalan dengan SDG 12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab. Praktik tersebut menerapkan prinsip Reduce, Reuse, Recycle (3R) sekaligus mendorong konsep ekonomi sirkular di tingkat desa.
Pengurangan pembakaran sampah secara terbuka atau open burning dan penumpukan sampah organik juga menjadi bagian dari kontribusi program terhadap SDG 13 tentang Penanganan Perubahan Iklim. Langkah tersebut diarahkan untuk mengurangi emisi gas rumah kaca, termasuk karbon dioksida dan metana.
Keberlanjutan program selanjutnya akan diperkuat melalui integrasi kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) mahasiswa dan pemenuhan Indikator Kinerja Utama (IKU) perguruan tinggi. Pendampingan berkala di lapangan diharapkan dapat menjaga keberlanjutan praktik pengelolaan sampah yang telah diperkenalkan kepada masyarakat.
Selain itu, pembentukan kelompok peduli sampah di setiap dusun dan kerja sama jangka panjang dengan bank sampah mitra diproyeksikan menjadi fondasi pengembangan Desa Suela sebagai kawasan agrowisata yang mandiri dalam pengelolaan lingkungan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....