Pelatihan Plantation Worker di SMKPP Mataram Tuntas, Semua Peserta Kompeten

  • 18 Sep 2026 19:42 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Mataram - Sebanyak 97 peserta Pelatihan dan Sertifikasi Teknis Plantation Worker di SMKPP Negeri Mataram dinyatakan kompeten setelah menyelesaikan rangkaian pelatihan dan uji sertifikasi selama 18 hari.

Kegiatan yang ditutup pada Jumat 18 September 2026 ini merupakan bagian dari program SMK Go Global, melalui kerja sama SMKPP Negeri Mataram dengan Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) Nusa Tenggara Barat (NTB). Program tersebut diarahkan untuk menyiapkan tenaga kerja dengan kompetensi yang sesuai kebutuhan pasar kerja luar negeri, khususnya sektor perkebunan kelapa sawit.

Kepala SMKPP Negeri Mataram, Sugiarta, S.Pi., M.Pd., M.Si., mengatakan kegiatan tersebut merupakan kerja sama SMKPP Negeri Mataram dengan BP3MI NTB dalam pelaksanaan pelatihan kompetensi yang dilanjutkan dengan uji sertifikasi kompetensi pertanian. Program ini menjadi bagian dari SMK Go Global yang dibuka pada 1 September 2026.

Pelatihan mulai dilaksanakan pada 2 September dan berlangsung selama 15 hari dengan total 140 jam. Setelah tahap pelatihan selesai, peserta mengikuti uji sertifikasi selama tiga hari.

"Kegiatan ini merupakan kerja sama SMKPP Negeri Mataram dengan BP3MI untuk melaksanakan pelatihan kompetensi yang kemudian dilanjutkan dengan uji sertifikasi kompetensi pertanian," jelasnya.

Pada awal kegiatan, sebanyak 100 peserta mengikuti pelatihan. Namun, dua peserta mengundurkan diri karena alasan sakit dan persoalan keluarga, sehingga 98 peserta menyelesaikan tahapan pelatihan dan memenuhi persyaratan untuk mengikuti uji sertifikasi.

Uji sertifikasi kompetensi pengelolaan tanaman kelapa sawit dinilai oleh LSP Pertanian Nasional dengan melibatkan lima asesor, yakni Diah Purnamasari, S.TP., Arief Rinaudin, STP., Prayogo Richi NM, SP., M.Pd., Bagus Krisna Heru W., dan Ir. Soemarsono, MP.

Dari 98 peserta yang menyelesaikan pelatihan, sebanyak 97 orang mengikuti proses asesmen. Satu peserta tidak dapat mengikuti uji sertifikasi karena mengalami kecelakaan. Seluruh 97 peserta yang mengikuti asesmen dinyatakan lulus atau kompeten dan selanjutnya tinggal menunggu sertifikat kompetensi.

Sugiarta menjelaskan sertifikat tersebut menjadi salah satu persyaratan bagi tenaga kerja yang akan ditempatkan di luar negeri sesuai bidang pekerjaan yang akan dijalankan. Dalam pelatihan ini, kompetensi yang disiapkan adalah pengelolaan tanaman kelapa sawit atau plantation worker.

Menurutnya, program SMK Go Global memberi kesempatan kepada lulusan pendidikan vokasi untuk memperluas akses terhadap peluang kerja, termasuk pekerjaan di luar negeri. Keterlibatan pemerintah juga dinilai membantu peserta karena seluruh rangkaian pelatihan hingga sertifikasi tidak dibebankan kepada peserta.

"Program ini sangat kami dukung karena pemerintah turut hadir dalam menyiapkan peluang pekerjaan di luar negeri. Dengan dukungan pemerintah, beban masyarakat menjadi lebih ringan, terutama karena sertifikasi menjadi persyaratan bagi tenaga kerja yang akan ditempatkan," ujarnya.

Selama mengikuti pelatihan, peserta mendapatkan sejumlah fasilitas, mulai dari alat pelindung diri, tas, penginapan, makan, transportasi hingga uang saku. Pembiayaan juga mencakup kebutuhan bahan praktik, tenaga pengajar, asesor, hingga proses sertifikasi.

Penutupan Pelatihan dan Sertifikasi Teknis Plantation Worker di SMKPP Negeri Mataram.

Sementara itu, Kepala BP3MI NTB, Kadir, S.Pd., mengatakan pelatihan Plantation Worker diberikan untuk memastikan calon pekerja memiliki bekal keterampilan sebelum menjalankan pekerjaan di sektor perkebunan kelapa sawit, khususnya di Malaysia.

Menurut Kadir, pekerjaan di perkebunan sawit membutuhkan keterampilan teknis sehingga peserta harus memahami pekerjaan yang akan dilakukan sebelum diberangkatkan. Karena itu, pelatihan tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga membekali peserta dengan keterampilan praktis.

"Peserta benar-benar kami latih dan siapkan agar memiliki kemampuan untuk melakukan pekerjaan di sektor plantation, khususnya perkebunan sawit. Karena pekerjaan ini cukup berat, mereka harus dibekali ilmu dan keterampilan agar siap bekerja di Malaysia," kata Kadir.

Materi yang diberikan meliputi perawatan tanaman, pembibitan, pemupukan, maintenance, pruning hingga teknik pemanenan. Peserta juga diperkenalkan dengan berbagai alat pertanian yang digunakan dalam pekerjaan perkebunan sawit agar tidak asing ketika sudah berada di tempat kerja.

Kadir menyebut peserta pelatihan berasal dari berbagai wilayah di NTB karena program tersebut dibuka untuk masyarakat di seluruh provinsi. Setelah mendapatkan sertifikasi, peserta akan melanjutkan proses pemberkasan dan penyiapan dokumen untuk keberangkatan sebagai pekerja migran.

Tahapan menuju penempatan juga telah dipersiapkan sejak sebelum pelatihan berlangsung. Kadir mengatakan BP3MI terlebih dahulu memastikan ketersediaan pekerjaan agar keterampilan yang diberikan kepada peserta memiliki tujuan penempatan yang jelas.

"Jobnya sudah tersedia. Sebelum kami melatih, kami memastikan terlebih dahulu kebutuhan pekerjaannya, sehingga setelah mengikuti pelatihan mereka memiliki peluang untuk melanjutkan ke proses penempatan," terangnya.

Para peserta sebelumnya juga telah dibantu membuat akun pada sistem yang digunakan untuk mengakses lowongan pekerjaan. Mereka selanjutnya dapat mengikuti proses pendaftaran, seleksi hingga tahapan penempatan ke Malaysia.

Kadir menjelaskan proses menuju keberangkatan biasanya membutuhkan waktu sekitar tiga bulan. Pemberangkatan dilakukan secara bertahap oleh perusahaan yang menangani proses penempatan, sambil menunggu penyelesaian seluruh tahapan administrasi dan sertifikat kompetensi.

Program SMK Go Global yang berjalan di NTB tidak hanya mencakup pelatihan Plantation Worker. Sejumlah pelatihan lain masih berjalan, antara lain barista, bahasa Inggris dan konstruksi. Untuk program yang telah selesai, selain Plantation Worker terdapat pelatihan konstruksi.

Kadir mengatakan NTB memperoleh alokasi sekitar seribu peserta untuk berbagai jenis pelatihan dari target nasional sekitar 40 ribu tenaga kerja. BP3MI NTB juga terus menjalin kerja sama dengan lembaga pelatihan lain agar cakupan jenis pekerjaan yang dapat disiapkan semakin luas.

Menurut Kadir, kerja sama dengan lembaga pendidikan atau pelatihan dilakukan setelah melalui proses penilaian. Lembaga yang akan menjadi tempat pelatihan harus memiliki kurikulum, fasilitas dan tenaga pengajar yang sesuai dengan kebutuhan program.

"Setelah dilakukan asesmen dan lembaga tersebut dinilai mampu melaksanakan pelatihan, baru kami melakukan perjanjian kerja sama. Jadi tidak semua sekolah bisa langsung melaksanakan pelatihan," katanya.

Bagi SMKPP Negeri Mataram, pelaksanaan Plantation Worker ini merupakan kerja sama perdana dengan BP3MI NTB untuk bidang tersebut. Sugiarta berharap kegiatan dapat dilanjutkan pada angkatan berikutnya dan dikembangkan sesuai kebutuhan tenaga kerja di luar negeri, terutama yang berkaitan dengan sektor pertanian dan agribisnis.

Sugiarta menilai program SMK Go Global menjadi salah satu upaya memperluas peluang bagi lulusan sekolah kejuruan agar dapat memanfaatkan kebutuhan tenaga kerja, baik di dalam maupun luar negeri. Ia berharap kompetensi yang dimiliki lulusan dapat terus disesuaikan dengan kebutuhan dunia kerja.

Dengan berakhirnya pelatihan dan sertifikasi pada Jumat 18 September 2026, sebanyak 97 peserta telah menyelesaikan tahapan pembekalan dan dinyatakan kompeten sebagai Plantation Worker. Selanjutnya, mereka memasuki proses administrasi, seleksi dan penempatan untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja sektor perkebunan kelapa sawit di Malaysia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....