SMPN 9 Mataram Perkuat Pendampingan Siswa Berkebutuhan Khusus

  • 07 Sep 2026 15:44 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Mataram - Tantangan pendidikan inklusif di SMPN 9 Mataram tidak hanya berkaitan dengan penerimaan siswa berkebutuhan khusus, tetapi juga bagaimana sekolah memberikan pendampingan sesuai kondisi masing-masing anak.

Dalam pendataan kebutuhan khusus, sekolah mencatat 11 siswa dengan kondisi yang beragam, mulai dari hambatan fisik hingga kognitif.

Kepala SMPN 9 Mataram, H. Akhmad Pahrurazi, mengatakan sekolah terus berupaya menyesuaikan layanan agar siswa berkebutuhan khusus tetap dapat mengikuti proses pendidikan bersama siswa lainnya.

“Kita memang harus menerima anak-anak disabilitas. Sekolah reguler tidak boleh menolak. Karena itu kita berusaha memberikan pendampingan sesuai dengan kemampuan yang kita punya,” terangnya, Senin 7 September 2026.

Untuk mendukung proses tersebut, SMPN 9 Mataram memiliki satu Guru Pendamping Khusus atau GPK. Guru tersebut saat ini tengah mengikuti pelatihan untuk meningkatkan kemampuan dalam memberikan layanan kepada siswa berkebutuhan khusus.

Selain GPK, guru Bimbingan dan Konseling juga memberikan pendampingan, terutama bagi siswa yang mengalami hambatan kognitif.

“Kalau yang disabilitas kognitif biasanya ada bimbingan dari grup BK. Ada juga alumni SD yang sampai sekarang belum bisa membaca, maka secara telaten teman-teman itu melatih secara khusus, membimbing secara khusus mereka untuk belajar membaca,” jelas Pahrurazi.

Menurutnya, proses pendampingan tidak dapat dilakukan secara instan. Guru harus memberikan pembelajaran secara bertahap dan menyesuaikannya dengan kemampuan setiap anak.

“Kita harus sabar. Kemampuan mereka kan berbeda-beda, jadi tidak bisa disamakan dengan anak-anak yang lain. Pendekatannya juga harus khusus,” katanya.

Sekolah juga melihat keberadaan siswa berkebutuhan khusus sebagai bagian dari proses pembelajaran sosial bagi seluruh peserta didik. Interaksi dengan teman sebaya diharapkan dapat membantu perkembangan siswa sekaligus menumbuhkan sikap saling menghargai.

Pahrurazi berharap keberadaan siswa berkebutuhan khusus di sekolah reguler tidak hanya dipandang sebagai kewajiban, tetapi juga sebagai kesempatan membangun lingkungan pendidikan yang lebih inklusif.

“Kita berharap dengan bergabung bersama teman-temannya, mereka juga bisa berkembang. Anak-anak yang lain juga belajar bagaimana menghargai dan membantu teman yang memiliki kebutuhan berbeda,” katanya, mengakhiri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....