UNRAM dan UB Kenalkan Alarm Berbasis IoT untuk Mitigasi Gempa dan Tsunami di Awang

  • 17 Sep 2026 18:10 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Lombok Tengah – Upaya meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat terhadap ancaman gempa bumi dan tsunami terus dilakukan di kawasan pesisir selatan Lombok. Universitas Mataram (UNRAM) bersama Universitas Brawijaya (UB) menggelar kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat di Desa Persiapan Awang, Kabupaten Lombok Tengah, Selasa 21 Juli 2026.

Kegiatan bertajuk “Edukasi dan Sosialisasi Sistem Alarm Peringatan Dini untuk Mitigasi Bencana Gempa Bumi dan Tsunami di Desa Persiapan Awang, Lombok Tengah” tersebut dilaksanakan Program Studi Fisika FMIPA UNRAM bersama Departemen Fisika FSTM UB.

Tim pengabdian diketuai Adella Ulyandana Jayatri, S.Si., M.T. dari UNRAM dan Mayang Bunga Puspita, S.Si., M.Eng. dari UB.

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kapasitas masyarakat di kawasan pesisir yang memiliki potensi menghadapi bencana gempa bumi dan tsunami. Riwayat tsunami yang pernah melanda pesisir selatan Lombok pada 19 Agustus 1977 menjadi salah satu catatan penting mengenai risiko bencana di wilayah tersebut.

Perkenalkan Sistem Deteksi Guncangan Berbasis IoT

Dalam kegiatan tersebut, tim UNRAM dan UB memperkenalkan sistem pemantauan getaran tanah berbasis Internet of Things (IoT).

Sistem menggunakan sensor akselerometer untuk merekam pergerakan atau guncangan tanah secara kontinu dari tiga arah. Data yang diperoleh kemudian diproses menggunakan unit mikrokontroler dan dikirim melalui jaringan internet ke penyimpanan digital berbasis cloud.

Data tersebut selanjutnya dapat dipantau melalui dasbor digital menggunakan perangkat seperti telepon pintar. Sistem juga dilengkapi mekanisme batas ambang tertentu. Ketika parameter guncangan yang terukur melewati nilai yang telah ditetapkan, perangkat dapat memicu alarm berupa sirine di lokasi pemasangan.

Tim pengabdian menyebut teknologi tersebut diharapkan dapat menjadi sarana pendukung bagi masyarakat dan aparat desa dalam memperoleh informasi mengenai kondisi getaran di wilayahnya secara lebih cepat.

“Teknologi hanya menjadi salah satu bagian dari mitigasi. Yang tidak kalah penting adalah masyarakat memahami risiko, mengenali peringatan, mengetahui jalur evakuasi, dan mampu mengambil tindakan dengan cepat ketika terjadi kondisi darurat,” ujar Adella Ulyandana Jayatri, seperti dikutip dari siaran pers resminya, Kamis 17 September 2026.

Namun, perangkat tersebut bukan dimaksudkan sebagai pengganti sistem peringatan dini resmi pemerintah. Informasi yang dihasilkan perangkat perlu tetap dikombinasikan dengan informasi serta arahan dari lembaga yang berwenang.

Warga Didorong Kenali Jalur Evakuasi

Selain memperkenalkan teknologi, kegiatan yang berlangsung di Aula Kantor Desa Persiapan Awang tersebut juga diisi dengan edukasi kebencanaan. Masyarakat diberikan pemahaman mengenai potensi risiko gempa bumi dan tsunami, termasuk tindakan yang perlu dilakukan ketika terjadi kondisi darurat.

Sosialisasi juga mencakup pengenalan jalur evakuasi. Warga diarahkan untuk mengetahui jalur menuju lokasi aman agar dapat segera melakukan evakuasi dan tidak mengalami kebingungan ketika bencana terjadi.

Tim pengabdian menekankan, teknologi peringatan tidak akan berjalan optimal tanpa respons masyarakat yang cepat dan tepat. Karena itu, pengetahuan mengenai tanda-tanda bencana, prosedur evakuasi, serta pengenalan lokasi aman menjadi bagian penting dalam membangun kesiapsiagaan masyarakat pesisir.

Dorong Kolaborasi Perguruan Tinggi dan Masyarakat

Melalui kegiatan tersebut, UNRAM dan UB mendorong penguatan kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah desa, Tim Siaga Bencana, dan masyarakat dalam menghadapi potensi bencana di kawasan pesisir Teluk Awang.

Pemanfaatan teknologi berbasis IoT diharapkan dapat menjadi salah satu instrumen pendukung pemantauan kondisi lingkungan secara lebih cepat dan terintegrasi. Sementara itu, edukasi dan sosialisasi diharapkan mampu meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai mitigasi serta prosedur evakuasi ketika menghadapi ancaman gempa bumi dan tsunami.

Tim pengabdian juga menilai keberlanjutan program menjadi faktor penting. Sistem yang telah diperkenalkan perlu dipelihara dan dievaluasi secara berkala agar dapat berfungsi secara optimal.

Di sisi lain, edukasi kebencanaan perlu terus diperkuat melalui sosialisasi dan simulasi evakuasi secara berkala.

Dengan menggabungkan pemanfaatan teknologi dan peningkatan kapasitas masyarakat, upaya mitigasi bencana di kawasan pesisir Teluk Awang diharapkan semakin kuat sehingga masyarakat lebih siap menghadapi potensi gempa bumi dan tsunami.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....