Unram Susun Masterplan Pemulihan dan Rekonstruksi Terintegrasi Desa Sade

  • 28 Agt 2026 21:08 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Mataram - Upaya memulihkan Desa Adat Sade pasca kebakaran diarahkan tidak sekadar pada pembangunan kembali kawasan secara fisik, tetapi juga pada upaya menjaga identitas, kehidupan sosial-budaya, dan keberlanjutan ekonomi masyarakat. Untuk itu, Universitas Mataram (Unram) bersama Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Universitas Gadjah Mada (UGM) menyusun Sade Integrated Recovery & Reconstruction Masterplan sebagai kerangka pemulihan dan rekonstruksi kawasan Desa Sade yang terintegrasi, berbasis kebutuhan masyarakat, serta memperhatikan karakter dan nilai-nilai adat yang hidup di dalamnya.

Penyusunan masterplan tersebut menjadi salah satu hasil pembahasan bersama Pemerintah Provinsi NTB, Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah, unsur terkait, perwakilan masyarakat, serta tim Unram dan UGM di Posko Desa Sade, Rabu 26 Agustus 2026. Dalam pembahasan tersebut disepakati bahwa proses pemulihan dan rekonstruksi perlu dilakukan secara terencana, partisipatif, dan tetap berpijak pada karakter Desa Sade sebagai kawasan permukiman tradisional yang memiliki nilai budaya dan daya tarik pariwisata.

Gubernur NTB menekankan bahwa proses rehabilitasi dan rekonstruksi Desa Sade perlu diarahkan menjadi contoh terbaik pembangunan kembali desa tradisional. Sade diharapkan tidak hanya kembali seperti sebelum bencana, tetapi memiliki kondisi yang lebih baik dan lebih tangguh sebagai sebuah desa tradisional di masa depan.

Dalam kerangka tersebut, pemulihan tidak hanya dipahami sebagai pembangunan kembali aspek fisik (tangible), tetapi juga mencakup aspek nonfisik (intangible) yang melekat pada kehidupan masyarakat Sade. Tradisi, ritual, norma adat, serta pengetahuan lokal yang menjadi bagian dari proses pembangunan kawasan perlu tetap dihormati dan dipertahankan.

Prinsip tersebut menjadi dasar penting dalam penyusunan Sade Integrated Recovery & Reconstruction Masterplan. Masterplan akan mencakup sejumlah aspek utama, meliputi sosial dan budaya; ekonomi dan livelihood; spasial dan fisik; disaster resilience dan fire safety; serta infrastruktur dan utilitas. Keseluruhan aspek tersebut dirancang untuk saling terintegrasi sehingga proses pemulihan dapat menjawab kebutuhan masyarakat sekaligus memperkuat ketahanan kawasan terhadap risiko bencana di masa mendatang.

Sebagai tahap awal, tim Unram segera melakukan pemetaan dan pendataan kawasan untuk memperoleh gambaran menyeluruh mengenai kondisi Desa Sade. Pemetaan mencakup identifikasi kepemilikan, luasan dan denah masing-masing bale, kondisi bangunan, serta elemen kawasan lainnya yang diperlukan sebagai dasar perencanaan.

Selain kondisi fisik, tim juga melakukan pendataan terhadap benda dan artefak yang tersisa pasca kebakaran, termasuk kain dan pakaian tenun, tembikar, serta berbagai benda lain yang masih layak diselamatkan dan ditampilkan. Pendataan tersebut diarahkan untuk mendukung gagasan pembentukan museum temporer yang dapat menjadi ruang penyimpanan sekaligus pengingat mengenai kehidupan dan identitas Sade sebelum kebakaran. Museum tersebut nantinya dapat dilengkapi dengan dokumentasi visual dan artefak yang berhasil diselamatkan.

Ketua Tim Cepat Tanggap (TCT) Sade Unram, Ar. Dr. Ir. Rini Srikus Saptaningtyas, S.T., M.Sc., IPM., ASEAN Eng., mengatakan bahwa tim Unram mulai bergerak melakukan pemetaan, survei, dan dokumentasi sebagai bagian dari proses awal penyusunan masterplan. Kegiatan tersebut melibatkan mahasiswa Unram dari bidang terkait dengan pendampingan dosen arsitektur dan planologi.

“Pemetaan dan pendataan menjadi langkah awal agar setiap keputusan dalam proses pemulihan memiliki dasar informasi yang jelas. Pada saat yang sama, karakter, nilai budaya, serta kebutuhan masyarakat Sade harus menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari proses perencanaan,” ujar Rini.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....