Unram Latih Santri Gili Gede Olah Bahan Lokal Jadi Pewarna Alami

  • 21 Agt 2026 11:10 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Mataram : Sebanyak 15 santri Pondok Pesantren Al-Intishor Mataram yang berasal dari Gili Gede, Lombok Barat, mengikuti pelatihan pengolahan bahan lokal menjadi pewarna alami pada 2-9 Agustus 2026. Kegiatan ini mendapat dukungan pendanaan dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM), Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat BIMA Tahun Anggaran 2026 dengan Nomor Kontrak 3974/UN18.L1/PP/2026.

Program Universitas Mataram tersebut diketuai Dian Wijaya Kurniawidi dari Program Studi Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA). Tim pelaksana melibatkan Zamroni Alpian Muhtarom pada bidang manajemen dan hilirisasi produk, Lalu Muhammad Aby Dujana pada bidang lingkungan dan teknis pewarnaan, serta Nurmutyah Naylah dan Sofiana Aprilia sebagai asisten fasilitator dan dokumentasi.

Pelatihan dirancang untuk menjawab kebutuhan keterampilan produktif santri setelah menyelesaikan pendidikan di pesantren. Bahan alami yang mudah ditemukan diperkenalkan bukan hanya sebagai sumber warna, tetapi juga sebagai bahan baku produk yang dapat diolah, dikemas, dipromosikan, dan dikembangkan dengan membawa identitas lokal Gili Gede.

"Kami ingin santri tidak berhenti pada pengetahuan tentang bahan penghasil warna. Mereka perlu memahami alur produksi, mampu bekerja secara berkelompok, mencatat proses, menilai hasil, serta menjelaskan nilai produk kepada calon konsumen," ujar Dian.

Dari Daun Lokal Menjadi Pewarna Kain

Kegiatan diawali dengan pengenalan program, penyuluhan mengenai pewarna alami, dan pre-test untuk memetakan pengetahuan awal peserta. Santri kemudian dibagi dalam kelompok untuk mempraktikkan pengolahan daun mangga muda dan daun jati sebagai sumber warna.

Dalam praktik produksi, peserta memilih dan membersihkan daun, mengeringkannya, lalu melakukan pengovenan pada suhu 70 derajat Celsius selama dua jam. Bahan kering dihaluskan menggunakan blender dan mortar, kemudian disaring dengan ayakan 100 mesh agar diperoleh serbuk yang lebih halus dan seragam. Serbuk selanjutnya diolah menjadi larutan warna dan diaplikasikan pada kain melalui tahap pencelupan, mordanting, fiksasi menggunakan tawas, serta pengeringan.

Melalui tahapan tersebut, peserta dapat mengamati perubahan bahan tumbuhan menjadi warna yang menempel pada kain. Praktik kelompok juga membantu santri memahami pembagian kerja, konsistensi proses, kebersihan alat, dan pentingnya dokumentasi produksi untuk memperoleh hasil yang dapat diulang.

Proses pengolahan bahan lokal menjadi pewarna alami.

Produksi Disambungkan dengan Hilirisasi

Pelatihan tidak berhenti pada pembuatan pewarna. Peserta memperoleh materi penentuan nama produk, penyusunan narasi nilai lokal Gili Gede, desain label dan kemasan menggunakan Canva, perhitungan harga pokok produksi, penetapan harga jual, serta promosi melalui media digital. Rangkaian ini disusun agar keterampilan teknis memiliki arah menuju usaha sederhana yang realistis bagi santri.

Hasil evaluasi internal menunjukkan nilai post-test pada kelas pembuatan pewarna, desain dan Canva, serta pemasaran digital meningkat dibandingkan nilai pre-test. Hingga 9 Agustus 2026, pelaksanaan keseluruhan program telah mencapai sekitar 80 persen. Pendampingan lanjutan diarahkan pada penguatan kualitas produk, kemasan, dan praktik pemasaran.

Untuk mendukung keberlanjutan kegiatan, tim menyiapkan perangkat pembelajaran, contoh produk, dokumentasi proses, serta alat dan bahan pendukung bagi mitra. Dukungan tersebut diharapkan memungkinkan santri mengulang praktik secara mandiri dan mengembangkan pewarna alami sebagai keterampilan produktif pasca-pesantren.

Dian menyampaikan terima kasih kepada DPPM Kemdiktisaintek atas dukungan pendanaan dan kepercayaan melalui Program BIMA Tahun Anggaran 2026. "Dukungan DPPM memungkinkan tim menghadirkan pembelajaran yang lebih lengkap, mulai dari penguasaan proses hingga hilirisasi. Kami berharap manfaat program terus berkembang melalui praktik mandiri para santri," katanya.

Melalui kolaborasi antara perguruan tinggi dan pesantren, potensi bahan lokal diharapkan tidak hanya menjadi pengetahuan, tetapi dapat tumbuh menjadi produk bernilai tambah. Program ini sekaligus memberi ruang bagi santri untuk mengembangkan kreativitas, kemandirian, dan kepedulian terhadap pemanfaatan sumber daya alam secara bertanggung jawab.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....