Dosen Ilmu Lingkungan Kembangkan Konservasi Tumbuhan Obat Berbasis Pekarangan

  • 17 Sep 2026 16:34 WIB
  •  Mataram
Poin Utama
  • Program pengabdian masyarakat dari Tim Dosen Program Studi Ilmu Lingkungan mengubah pekarangan rumah yang sebelumnya hanya ruang terbuka menjadi lahan produktif dan ruang konservasi tumbuhan obat keluarga di Desa Karang Bayan, Lombok Barat.
  • Kegiatan ini menargetkan anggota Kelompok Tani Konta Nyembao dengan fokus pada memberikan pengetahuan dan praktik pemanfaatan pekarangan secara berkelanjutan.
  • Program dilaksanakan di Aula Desa Karang Bayan pada Kamis 23 September 2026 sebagai wujud pengabdian kepada masyarakat untuk pemberdayaan ekonomi lokal.

RRI.CO.ID, Lombok Barat — Pekarangan rumah yang selama ini hanya menjadi ruang terbuka mulai diarahkan menjadi lahan produktif sekaligus ruang konservasi tumbuhan obat keluarga di Desa Karang Bayan, Kecamatan Lingsar, Kabupaten Lombok Barat.

Upaya tersebut dilakukan Tim Dosen Program Studi Ilmu Lingkungan melalui program pengabdian kepada masyarakat yang digelar di Aula Desa Karang Bayan, Kamis 23 September 2026. Kegiatan menyasar anggota Kelompok Tani Konta Nyembao dengan memberikan pengetahuan sekaligus praktik pemanfaatan pekarangan secara berkelanjutan.

Tim pengabdian terdiri dari Prof. Dr. Drs. H. Ahmad Jupri, M.Eng., Isrowati, M.Sc., Dr. Immy Suci Rohyani, Hilman Ahyadi, M.Si., dan Febrina Amaliya Rha'ifa, M.Sc. Dalam pelaksanaannya, mereka turut melibatkan mahasiswa Program Studi Ilmu Lingkungan.

Program ini tidak hanya diarahkan untuk menambah pengetahuan warga mengenai tanaman herbal. Lebih jauh, pekarangan didorong menjadi bagian dari upaya menjaga keanekaragaman hayati sekaligus menyediakan sumber tanaman obat yang dapat dimanfaatkan keluarga.

Prof. Ahmad Jupri mengatakan, luasnya pekarangan warga Karang Bayan memiliki potensi yang dapat dikembangkan menjadi lahan bernilai ekologis dan ekonomis.

“Pekarangan rumah jangan hanya dipandang sebagai lahan kosong. Kami ingin warga mampu mengenali, menanam, dan merawat tumbuhan obat yang ada di sekitar rumah sehingga memiliki manfaat bagi kesehatan keluarga sekaligus menjaga kelestarian tanaman lokal,” ujar Prof. Ahmad Jupri.

Menurutnya, pemanfaatan pekarangan secara tepat dapat menjadi langkah sederhana yang dimulai dari lingkungan keluarga, tetapi memiliki dampak lebih luas terhadap konservasi tumbuhan dan pemanfaatan sumber daya alam secara berkelanjutan.

Sekretaris Desa Karang Bayan, Mandrawasih, menyambut baik program tersebut. Ia menilai keterlibatan akademisi memberikan tambahan pengetahuan bagi masyarakat mengenai potensi tanaman dan lahan pekarangan yang selama ini belum seluruhnya dimanfaatkan.

Kegiatan kemudian dikemas secara interaktif. Peserta tidak hanya menerima materi mengenai berbagai jenis tumbuhan obat lokal, tetapi juga diajak mengidentifikasi tanaman, memahami manfaatnya, serta mengenal tata cara pengolahannya.

Peserta juga mengikuti diskusi dan presentasi kelompok. Mereka diminta menyusun gambaran pekarangan yang ideal sesuai kondisi lingkungan tempat tinggal masing-masing.

Materi tersebut selanjutnya diterapkan melalui praktik penataan pekarangan. Warga diarahkan mengelola lahan secara efisien dengan tetap memperhatikan aspek produktivitas dan kelestarian lingkungan.

Konsep itu diharapkan tidak berhenti pada kegiatan pengabdian. Warga diharapkan mampu menerapkannya secara mandiri sehingga pekarangan rumah dapat menjadi ruang yang menghasilkan manfaat ekologis sekaligus mendukung kebutuhan tanaman obat keluarga.

Program pengabdian tersebut juga dikaitkan dengan agenda pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 3 tentang kehidupan sehat dan kesejahteraan serta SDG 15 mengenai perlindungan ekosistem daratan dan keanekaragaman hayati.

Melalui pendekatan tersebut, Desa Karang Bayan diarahkan untuk mengembangkan pemanfaatan pekarangan berbasis konservasi. Gagasan akhirnya bukan sekadar menanam tanaman obat, tetapi membangun kebiasaan warga dalam menjaga lingkungan dari tingkat rumah tangga.

“Yang kami bangun adalah kesadaran bahwa konservasi bisa dimulai dari halaman rumah sendiri. Ketika warga mampu merawat dan memanfaatkan tumbuhan obat secara berkelanjutan, pekarangan dapat memberi manfaat bagi keluarga sekaligus lingkungan,” katanya mengakhiri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....