Direktur Pascasarjana UIN Mataram Dorong Riset Dekat dengan Persoalan Daerah

  • 07 Sep 2026 06:15 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Mataram - Penelitian di tingkat Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram diarahkan untuk tidak berhenti pada pembahasan teoritis. Persoalan yang muncul di masyarakat dan lingkungan kerja mahasiswa justru didorong menjadi bagian dari bahan penelitian.

Arah itu tidak lepas dari paradigma integrasi keilmuan yang dikembangkan Pascasarjana UIN Mataram. Ilmu agama dipertemukan dengan ilmu umum untuk melihat sebuah persoalan dari lebih dari satu sudut pandang.

Dalam pendekatan yang digunakan, terdapat tiga pisau analisis, yakni Bayani, Burhani, dan Irfani. Bayani berangkat dari teks, Burhani menggunakan rasionalitas, sedangkan Irfani berkaitan dengan pendekatan intuitif.

Direktur Pascasarjana UIN Mataram Prof. Dr. H. Subhan Abdullah Acim, M.A., menjelaskan ketiganya digunakan untuk membangun hubungan antara ilmu agama dengan disiplin ilmu lainnya.

“Di sini ada Bayani, Burhani, dan Irfani. Tiga pisau inilah yang dipakai untuk mengintegrasikan ilmu agama dengan ilmu umum,” jelasnya, Minggu 6 September 2026.

Dengan pendekatan tersebut, persoalan kesehatan, ekonomi, sosial, politik hingga sains dapat dikaji dalam perspektif keislaman. Al-Qur’an dan hadis menjadi bagian penting dalam upaya melihat fenomena yang berkembang di tengah masyarakat.

Salah satu penelitian yang dicontohkan adalah kajian mengenai narkoba dan kesehatan mental generasi muda. Penelitian tersebut melihat persoalan dari perspektif kesehatan sekaligus agama Islam, termasuk bagaimana pendekatan keagamaan dapat ditempatkan dalam melihat persoalan kecanduan.

Model penelitian seperti itu dinilai dapat mempertemukan berbagai disiplin ilmu sehingga sebuah masalah tidak dilihat secara parsial.

Keterhubungan dengan persoalan nyata juga muncul dari latar belakang mahasiswa yang telah bekerja. Sebagian mahasiswa Pascasarjana UIN Mataram berasal dari lingkungan pemerintahan, perbankan, pendidikan, dan sektor lainnya.

Pengalaman mereka di tempat kerja dapat menjadi bahan penelitian. Mahasiswa yang bekerja di bidang kehumasan, misalnya, dapat mengembangkan kajian dari persoalan yang ditemuinya selama menjalankan tugas di birokrasi.

Prof. Subhan menyebut kondisi tersebut sebagai bentuk kolaborasi dengan pemerintah daerah yang berjalan secara informal. Belum semuanya dituangkan dalam nota kesepahaman tertulis, tetapi interaksi tetap terjadi melalui mahasiswa yang berada di dalam birokrasi.

“Mereka yang sudah bekerja ini otomatis ketika membicarakan tentang tesis atau disertasinya, dia akan menulis apa yang dilakukan selama dia berada di birokrasi,” ujarnya.

Pendekatan tersebut sekaligus menjadi bekal bagi mahasiswa untuk menghadapi dunia kerja. Pascasarjana tidak ingin mahasiswa hanya datang ke kampus, mengikuti perkuliahan, lalu menyelesaikan tesis atau disertasi tanpa pernah mempraktikkan ilmu yang diperoleh.

Mahasiswa justru didorong mengasah kemampuan melalui aktivitas nyata. Mereka yang berlatar belakang pendidikan dapat terus mempraktikkan kemampuan mengajar, sementara mahasiswa di bidang ekonomi dapat mengembangkan pengalaman kewirausahaan.

“Mahasiswa post graduate ini tidak berhenti berinovasi dengan mempraktikkan apa saja yang dia miliki di luar bangku kuliah,” katanya.

Selain pengalaman praktik, mahasiswa juga diarahkan membangun rekam jejak akademik melalui karya ilmiah. Sejak semester awal, mahasiswa diharapkan mulai memahami metodologi dan disiplin ilmunya, kemudian aktif menghasilkan artikel serta mengikuti seminar nasional maupun internasional.

Menurut Prof. Subhan, ukuran keberhasilan mahasiswa S2 dan S3 tidak semata-mata dilihat dari gelar yang diperoleh. Kemampuan menghasilkan karya, mempresentasikan gagasan, melakukan penelitian, serta menerapkan ilmu dalam kehidupan nyata juga menjadi bagian penting.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....