UIN Mataram Siapkan Warga Jadi Penggerak Pencegahan Pernikahan Anak

  • 23 Agt 2026 18:40 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Lombok Barat – Pencegahan pernikahan anak di Desa Gapuk, Lombok Barat, diarahkan tidak berhenti pada kegiatan penyuluhan. UIN Mataram mendorong masyarakat memiliki kelompok yang dapat melanjutkan edukasi sekaligus menjadi pengingat ketika muncul potensi perkawinan usia anak.

Wakil Rektor III UIN Mataram, Prof. Dr. H. Jumarim, M.H.I., mengatakan edukasi yang dilakukan sekali tidak cukup untuk mengubah pola pikir masyarakat. Kesadaran harus terus dirawat melalui kelompok yang memiliki ruang untuk berdiskusi dan menyampaikan kembali pengetahuan kepada lingkungan sekitarnya.

"Untuk mewujudkan masyarakat yang baik, edukasi harus dilakukan secara terus-menerus. Agar edukasi itu nyambung, masyarakat perlu dikelompokkan dan diwadahi untuk terus melakukan diskusi," jelasnya, Sabtu 22 Agustus 2026.

Menurut Prof. Jumarim, pendekatan tersebut merupakan bagian dari pendidikan kritis. Masyarakat tidak hanya menerima informasi dari pemerintah atau akademisi, tetapi secara bertahap memiliki kemampuan untuk mengambil sikap terhadap persoalan yang terjadi di lingkungannya.

Dalam konteks pernikahan anak, kelompok masyarakat diharapkan mampu menjadi pihak yang mengingatkan keluarga maupun anak agar tidak mengambil keputusan perkawinan sebelum mencapai kesiapan yang memadai.

Ia menilai kelompok perempuan juga memiliki posisi penting dalam proses tersebut. Dalam pengabdian di Desa Gapuk, telah ada kelompok perempuan yang menjadi bagian dari upaya pengorganisasian masyarakat.

Prof. Jumarim menyebut keberadaan kelompok seperti itu dapat menjadi modal sosial untuk memperkuat edukasi setelah program pengabdian selesai.

"Output dari pendidikan kritis yang sudah terorganisir itu adalah mereka sendiri yang mencegah dirinya menikah dini, menjadi juru bicara untuk mencegah anaknya, dan seterusnya," terangnya.

Pendekatan tersebut sekaligus mengubah posisi masyarakat dari sekadar penerima program menjadi pihak yang ikut menjaga keberlanjutan gerakan pencegahan.

Prof. Jumarim menilai perubahan semacam ini membutuhkan waktu. Namun, perkembangan pola perkawinan masyarakat Sasak menunjukkan bahwa perubahan sosial mulai berlangsung, terutama pada kelompok yang memiliki akses pendidikan lebih baik.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....