Direktur Pascasarjana UIN Mataram Ingatkan Mahasiswa Tak Bergantung pada AI

  • 07 Sep 2026 06:15 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Mataram - Kehadiran artificial intelligence (AI) di era ini membuat mahasiswa semakin mudah mencari, merangkum, dan mengolah informasi. Di lingkungan akademik, kemudahan tersebut justru perlu diimbangi dengan kemampuan memilah sumber dan membangun pemikiran sendiri.

AI, menurut Direktur Pascasarjana UIN Mataram Prof. Dr. H. Subhan Abdullah Acim, M.A., tidak perlu dipandang sebagai sesuatu yang harus dijauhi mahasiswa. Teknologi tersebut dapat dimanfaatkan selama ditempatkan sebagai alat bantu, bukan sebagai pengganti proses berpikir.

“AI di dalam dunia akademik itu sebuah keniscayaan. Pasti muncul dan sebenarnya semacam alat bantu bagi kita di dunia akademik, bukan semacam fondasi cara berpikir,” ujarnya, Minggu 6 September 2026.

Persoalannya muncul ketika mahasiswa menerima begitu saja hasil yang diberikan AI lalu menjadikannya sebagai isi karya ilmiah. Padahal, jawaban AI merupakan hasil pengolahan dan rangkuman dari berbagai informasi yang tersedia, sehingga belum tentu seluruhnya sesuai dengan konteks penelitian yang sedang dikerjakan.

Karena itu, menurutnya mahasiswa tetap harus kembali kepada sumber asli. Buku, jurnal, makalah, maupun karya ilmiah yang menjadi rujukan perlu dibaca dan dipahami sebelum digunakan sebagai dasar argumentasi.

Prof. Subhan menilai proses tersebut sangat penting, terutama bagi mahasiswa S2 dan S3. Pada jenjang tersebut, mahasiswa tidak cukup hanya mampu mengumpulkan informasi, tetapi juga harus bisa menguji, membandingkan, dan menghasilkan analisis sendiri.

Ia bahkan menemukan tulisan akademik yang menunjukkan gejala penggunaan AI secara tidak kritis. Salah satu tandanya adalah isi pembahasan tidak selaras dengan referensi yang dicantumkan.

“Ketika bicara tentang kuda, referensinya tentang domba. Tidak nyambung kan, itu karena mesin tidak punya pemikiran,” ujarnya.

Menurutnya, kondisi tersebut terjadi karena mahasiswa mengambil hasil rangkuman AI tanpa melakukan pemeriksaan lebih dalam terhadap sumber yang sebenarnya.

Padahal, referensi yang ditampilkan AI semestinya menjadi pintu untuk membaca sumber asli, bukan berhenti pada rangkuman yang diberikan mesin.

Karya ilmiah tetap harus menunjukkan kemampuan mahasiswa dalam menyampaikan gagasan dengan bahasa dan pemikirannya sendiri. Kutipan dari buku atau sumber ilmiah diperbolehkan selama identitas sumber dan bagian yang dikutip dicantumkan secara jelas.

“Seorang pendidik itu harus bisa menulis atau mengutarakan, mendeskripsikan buah pikirannya dengan bahasa dia sendiri, dengan pikirannya sendiri,” tutur Prof. Subhan.

Karena itu, penggunaan AI tidak semestinya berhenti pada pertanyaan apakah mahasiswa boleh atau tidak menggunakannya. Yang lebih penting adalah bagaimana teknologi tersebut digunakan secara etis tanpa menghilangkan proses membaca dan berpikir.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....