Profesor UNRAM Berdampak Bekali Siswa MTsN 2 Lobar Keterampilan Sabun Kelor

  • 05 Sep 2026 11:51 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Lombok Barat – Tanaman kelor yang selama ini mudah dijumpai di lingkungan masyarakat mulai diangkat menjadi bagian dari inovasi pembelajaran di MTs Negeri 2 Lombok Barat. Melalui Program Profesor Berdampak, madrasah tersebut mengembangkan pembelajaran berbasis proyek dengan menjadikan pembuatan sabun herbal berbahan dasar daun kelor sebagai salah satu proyek keterampilan bagi peserta didik.

Pertemuan lanjutan program tersebut berlangsung di MTs Negeri 2 Lombok Barat, Sabtu 5 September 2026. Kegiatan ini menjadi bagian dari kolaborasi akademisi perguruan tinggi dengan madrasah untuk merancang bahan ajar yang tidak sekadar menyampaikan teori, tetapi memberikan pengalaman langsung kepada siswa melalui pemanfaatan potensi yang ada di sekitar mereka.

Program Profesor Berdampak dirancang sebagai program berkelanjutan selama tiga tahun. Pada tahap awal, kegiatan diarahkan pada penguatan keterampilan pembuatan produk, sebelum nantinya dikembangkan menuju aspek pemasaran.

Konsep tersebut membuat tanaman kelor tidak hanya dipandang sebagai tanaman yang tumbuh di lingkungan masyarakat. Kelor justru ditempatkan sebagai sumber belajar yang dapat menghubungkan pengetahuan, keterampilan, kreativitas, hingga peluang ekonomi.

Dalam pertemuan itu, peserta membahas penyusunan bahan ajar menggunakan pendekatan Project Based Learning (PjBL). Pembahasan mencakup rancangan tahapan proyek, materi pembelajaran, kegiatan praktik, sistem penilaian, sampai peluang pengembangan sabun herbal kelor menjadi produk yang memiliki nilai guna dan nilai ekonomi.

Melalui model tersebut, siswa nantinya diarahkan mengikuti proses secara bertahap. Mulai dari mengenali tanaman kelor, mempelajari karakteristik dan manfaatnya, memahami proses pengolahan, merancang produk, hingga menghasilkan sabun herbal yang dapat dikemas dengan konsep menarik.

Kepala MTs Negeri 2 Lombok Barat, H. Abdul Azis Faradi, M.Pd., menyambut positif kolaborasi tersebut. Menurutnya, pembelajaran berbasis proyek membuka ruang lebih luas bagi siswa untuk belajar melalui pengalaman nyata sekaligus mengembangkan potensi lokal menjadi sesuatu yang bernilai.

“Melalui kegiatan ini, kami ingin menghadirkan pembelajaran yang tidak hanya selesai di ruang kelas, tetapi dapat menghasilkan karya nyata. Potensi kelor yang ada di sekitar kita dapat menjadi sumber belajar yang sangat menarik sekaligus membuka wawasan siswa tentang inovasi dan kewirausahaan,” ujarnya.

Ia menilai keterampilan yang diperoleh siswa melalui proyek tersebut tidak berhenti pada kemampuan membuat sebuah produk. Prosesnya juga mendorong peserta didik mengasah kemampuan berpikir kritis, bekerja sama, berkomunikasi, memecahkan persoalan, serta mengembangkan kreativitas.

“Anak-anak nantinya tidak hanya mengetahui teori, tetapi juga mengalami sendiri bagaimana sebuah bahan dari lingkungan sekitar dapat diolah menjadi produk. Dari proses itu mereka belajar merencanakan, bekerja dalam tim, menyelesaikan masalah dan melihat peluang,” katanya menegaskan.

Pengembangan sabun herbal berbahan kelor juga membuka kemungkinan pembelajaran lintas bidang. Dalam satu proyek, siswa dapat bersentuhan dengan materi sains, teknologi, lingkungan, keterampilan, ekonomi dan kreativitas.

Pendekatan tersebut dinilai relevan dengan kebutuhan pendidikan yang semakin menekankan kemampuan peserta didik dalam menerapkan pengetahuan. Siswa tidak hanya dituntut memahami materi, tetapi juga mampu menghasilkan karya dan melihat manfaat ilmu dalam kehidupan sehari-hari.

Bagi madrasah, keterlibatan akademisi melalui Program Profesor Berdampak juga menjadi kesempatan untuk memperkuat kapasitas guru dalam merancang pembelajaran inovatif. Pendampingan tersebut diharapkan mampu melahirkan bahan ajar yang lebih kontekstual sekaligus sesuai dengan karakteristik lingkungan dan kebutuhan siswa.

Kolaborasi antara perguruan tinggi dan madrasah itu pun diharapkan tidak berhenti pada satu kegiatan. Pengembangan proyek sabun herbal kelor menjadi bagian dari proses panjang untuk menciptakan model pembelajaran yang dapat terus dikembangkan hingga memiliki nilai manfaat yang lebih luas.

Dengan memanfaatkan potensi lokal, MTs Negeri 2 Lombok Barat berupaya menghadirkan pendidikan yang menggabungkan pengetahuan dengan keterampilan nyata. Gagasan sederhana dari tanaman kelor diarahkan menjadi pengalaman belajar yang dapat menumbuhkan kreativitas sekaligus jiwa kewirausahaan peserta didik.

“Harapannya, kegiatan ini dapat terus berkembang dan memberikan pengalaman yang benar-benar bermanfaat bagi siswa. Apa yang mereka pelajari di madrasah bisa menjadi bekal keterampilan yang dapat digunakan dalam kehidupan sekaligus membuka cara pandang terhadap peluang usaha,” ucapnya.

Program Profesor Berdampak melalui proyek sabun herbal kelor menunjukkan bahwa inovasi pembelajaran dapat berangkat dari sesuatu yang dekat dengan kehidupan siswa. Dari daun kelor, peserta didik belajar mengenali potensi; dari proses pengolahan, mereka mendapatkan keterampilan; dan dari sebuah produk, mereka diperkenalkan pada peluang ekonomi.

Madrasah pun berharap langkah tersebut menjadi bagian dari upaya membangun pendidikan yang Islami, unggul, berprestasi, inovatif dan memberikan dampak nyata bagi peserta didik maupun lingkungan sekitarnya, katanya mengakhiri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....