Profesor Berdampak Perkuat Kolaborasi Bangun Pertanian Sembalun Berkelanjutan

  • 09 Agt 2026 19:56 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Lombok Timur – Tim Program Profesor Berdampak melanjutkan kegiatan ketiga dan keempat di kawasan Agrowisata Sembalun, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, pada 8–9 Agustus 2026. Kegiatan mengusung tema “Melalui Program Profesor Berdampak Kita Tingkatkan Sinergitas untuk Membangun Pertanian Terpadu Berkelanjutan di Kawasan Agrowisata Sembalun.”

Program yang diketuai Prof. M. Sarjan, M.Agr.CP., Ph.D. tersebut melibatkan sejumlah mitra, di antaranya Universitas Hamzanwadi, Universitas 45 Mataram, Universitas Muhammadiyah Mataram, SMKPP Negeri Mataram, serta kelompok pemuda lokal Barisan Pemuda Adat Nusantara (BPAN).

Kegiatan hari pertama diawali dengan diskusi bersama perwakilan petani maju senior, petani muda, Kelompok Wanita Tani (KWT), serta pengurus BPAN. Diskusi difokuskan untuk menggali berbagai persoalan, kebutuhan, serta harapan masyarakat dalam pengembangan kopi dan komoditas unggulan Sembalun.

Ketua Tim Program Profesor Berdampak, Prof. M. Sarjan, mengatakan petani merupakan pihak yang paling mengetahui persoalan yang mereka hadapi dalam kegiatan budidaya maupun usaha tani.

“Yang merasakan dan mengetahui masalah yang dihadapi selama budidaya dan usaha tani adalah petani itu sendiri. Kami dari berbagai bidang datang untuk mendengarkan dan bersama-sama mencari solusi terbaik yang bisa dilakukan bersama,” ujarnya, Minggu 9 Agustus 2026.

Menurut dia, pendekatan tersebut penting agar program yang dijalankan tidak berhenti pada kegiatan akademik, tetapi benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat dan memberikan dampak nyata bagi petani.

Dalam diskusi tersebut, H. Ruspaini menyampaikan harapannya agar Program Profesor Berdampak dapat membantu petani mengembangkan budidaya tanaman sehat, khususnya kopi. Ia juga mengajak komunitas petani Sembalun mengembalikan kejayaan kopi Arabika asli Sembalun melalui gerakan pembibitan.

Sementara itu, Ustaz Qudus mengapresiasi keterlibatan para profesor secara langsung bersama masyarakat. Ia mengajak petani Sembalun untuk mendukung dan terlibat aktif dalam program yang dilaksanakan Universitas Mataram.

Ustaz Qudus juga mengungkapkan bahwa dirinya bersama mahasiswa KKN Universitas Mataram telah berinisiatif melakukan pembibitan sekitar 20 ribu pohon kopi untuk dipersiapkan ditanam pada musim hujan mendatang.

Dari kalangan petani milenial, Akbar menekankan pentingnya penyusunan standar operasional prosedur (SOP) dalam penerapan Good Agricultural Practices (GAP) pada tanaman kopi. Menurutnya, petani membutuhkan panduan sederhana dan praktis agar penerapan GAP dapat dilakukan secara konsisten.

Ia juga berharap pendampingan tidak hanya menyasar sektor hulu, tetapi mencakup persoalan di sektor hilir, terutama pengolahan (processing) dan pemasaran produk kopi.

“Jangan hanya dibantu di hulunya, tetapi kami juga berharap dibantu bagaimana masalah di hilir, seperti processing dan pemasaran. Kami membutuhkan panduan sederhana terkait perkopian di hilir,” katanya.

Harapan serupa disampaikan Endo, perwakilan BPAN yang fokus pada pengembangan kopi. Ia mendorong adanya inovasi penggunaan input nonkimia, baik pupuk maupun pestisida, terutama untuk budidaya stroberi yang menjadi salah satu komoditas wisata petik sendiri di Sembalun.

Menurutnya, stroberi yang dikonsumsi dalam kondisi segar perlu mendapat perhatian dari aspek keamanan pangan sehingga konsumen memperoleh jaminan produk yang aman.

Menanggapi berbagai masukan tersebut, anggota Tim Program Profesor Berdampak dari Universitas Mataram, yakni Prof. Taufik Fauzi, Prof. Ruth Stella, Prof. Aluh Nikmatullah, Prof. Yusron Saadi, Prof. Sulhaeni, dan Ir. Hery Haryanto, M.Si., menyatakan komitmen untuk melanjutkan pendampingan kepada petani.

Pendampingan diarahkan pada pengembangan pertanian terpadu berkelanjutan, terutama penerapan GAP pada budidaya kopi dan praktik budidaya sehat pada berbagai komoditas unggulan lainnya, termasuk produk yang dikonsumsi segar seperti stroberi.

Tim juga mendorong kemandirian input pertanian dengan memanfaatkan bahan baku yang tersedia di sekitar petani. Salah satunya melalui pembuatan pupuk organik dari limbah pertanian dan peternakan dengan memanfaatkan dekomposer yang dapat diproduksi secara mandiri.

Selain itu, petani komoditas segar didorong mulai mendaftarkan produknya untuk memperoleh sertifikat Prima 3 sebagai jaminan keamanan pangan produk segar. Sertifikasi tersebut diharapkan meningkatkan kepercayaan konsumen sekaligus membuka peluang peningkatan nilai tambah dan harga jual produk.

Diskusi juga mengangkat pentingnya mempertahankan kearifan lokal dalam pembangunan pertanian berkelanjutan. Sejumlah praktik seperti penentuan jadwal tanam dan gotong royong dinilai masih relevan untuk dipertahankan di tengah perkembangan teknologi, modernisasi, dan digitalisasi.

Karena itu, Tim Program Profesor Berdampak mendorong terbentuknya model pertanian yang mengintegrasikan kearifan lokal (local wisdom) dengan intervensi teknologi modern.

Kolaborasi lintas perguruan tinggi juga mendapat dukungan dari Universitas Hamzanwadi, Universitas 45 Mataram, dan Universitas Muhammadiyah Mataram. Masing-masing diwakili Prof. Khirjan Nahdi, Dekan Ir. Baharudin, M.P., dan Budi Wiryono, SP., M.Si.

Mereka menyatakan dukungan terhadap kolaborasi tersebut dan siap bersama-sama mendampingi petani Sembalun dalam mewujudkan sistem pertanian terpadu dan berkelanjutan.

Dukungan juga datang dari Kepala SMKPP Negeri Mataram, Sugiartha, SP., M.Si. yang saat ini sedang menempuh program doktor di Pascasarjana Universitas Mataram. Ia menyatakan kesiapan mendukung program melalui penyediaan tenaga berkompetensi maupun sarana laboratorium, termasuk laboratorium kultur jaringan.

Sementara itu, perwakilan LSPB Mataram dan MAPORINA NTB juga menyatakan komitmen untuk terlibat aktif dalam kolaborasi pendampingan tersebut.

Setelah sesi diskusi, kegiatan dilanjutkan dengan demonstrasi pembuatan pupuk organik yang diperkaya agen hayati Trichoderma cair. Peserta juga mendapatkan praktik pembuatan pestisida berbahan lokal dari daun paitan sebagai salah satu alternatif untuk mengurangi ketergantungan terhadap pestisida kimia.

Melalui rangkaian kegiatan tersebut, Program Profesor Berdampak diharapkan menjadi ruang kolaborasi antara akademisi, petani, generasi muda, dunia pendidikan, dan pemangku kepentingan lainnya untuk membangun ekosistem pertanian Sembalun yang produktif, sehat, mandiri, dan berkelanjutan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....