Profesor Berdampak Dorong Pertanian Terpadu Berkelanjutan di Sembalun

  • 09 Agt 2026 19:41 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Sembalun – Tim Program Profesor Berdampak melanjutkan kegiatan pendampingan petani di kawasan agrowisata Sembalun, Lombok Timur, pada 8-9 Agustus 2026. Program tersebut diarahkan untuk memperkuat sinergi perguruan tinggi, petani, kelompok pemuda, dan pemangku kepentingan dalam membangun pertanian terpadu yang berkelanjutan.

Kegiatan mengusung tema “Melalui Program Profesor Berdampak Kita Tingkatkan Sinergitas untuk Membangun Pertanian Terpadu Berkelanjutan di Kawasan Agrowisata Sembalun”. Tim dipimpin Prof. M. Sarjan, M.Agr.CP., Ph.D., dengan melibatkan sejumlah perguruan tinggi dan lembaga mitra.

Kolaborasi tersebut melibatkan Universitas Hamzanwadi, Universitas 45 Mataram, Universitas Muhammadiyah Mataram, SMKPP Negeri Mataram, serta kelompok pemuda lokal Barisan Pemuda Adat Nusantara (BPAN).

Pada hari pertama, tim menggelar diskusi bersama perwakilan petani senior, petani muda, Kelompok Wanita Tani (KWT), serta pengurus BPAN. Forum tersebut menjadi ruang untuk menggali langsung berbagai persoalan yang dihadapi petani, khususnya dalam budidaya kopi dan komoditas unggulan Sembalun lainnya.

Ketua Tim Program Profesor Berdampak, Prof. M. Sarjan, mengatakan petani merupakan pihak yang paling memahami persoalan yang terjadi dalam proses budidaya hingga usaha tani.

“Yang merasakan dan mengetahui masalah yang dihadapi selama budidaya dan usaha tani adalah petani itu sendiri. Kami dari berbagai bidang datang untuk mendengarkan dan bersama-sama mencari solusi terbaik yang bisa dilakukan,” ujarnya, Minggu 9 Agustus 2026.

Ia mengatakan masukan dari petani menjadi dasar penting bagi tim dalam menyusun bentuk pendampingan yang sesuai dengan kebutuhan di lapangan.

Salah satu petani senior, H. Ruspaini, berharap program tersebut dapat membantu petani mengembangkan budidaya tanaman sehat, khususnya kopi. Ia juga mendorong petani Sembalun mengembalikan kejayaan kopi arabika asli Sembalun.

Menurutnya, upaya tersebut dapat dimulai dengan memperbanyak pembibitan kopi sejak sekarang sehingga tersedia tanaman yang cukup untuk dikembangkan pada musim tanam berikutnya.

Harapan serupa disampaikan Ustaz Qudus. Ia mengapresiasi keterlibatan para profesor secara langsung dalam berdiskusi dengan petani.

Ia bahkan menyebut telah berinisiatif bersama mahasiswa KKN Universitas Mataram untuk melakukan pembibitan sekitar 20 ribu pohon sebagai persiapan penanaman pada musim hujan berikutnya.

Sementara itu, perwakilan petani milenial, Akbar, menekankan pentingnya panduan teknis dalam penerapan Good Agricultural Practices (GAP) pada tanaman kopi.

Menurutnya, penerapan GAP perlu dilengkapi standar operasional prosedur (SOP) yang sederhana dan mudah diterapkan petani. Pendampingan juga diharapkan tidak berhenti pada sektor hulu, tetapi berlanjut hingga pengolahan dan pemasaran produk.

“Jangan hanya kegiatan di hulu. Kami juga berharap dibantu bagaimana masalah di hilir seperti processing dan pemasaran. Kami membutuhkan panduan sederhana terkait masalah perkopian di hilir,” katanya.

Perwakilan BPAN, Endo, juga mendorong pengembangan budidaya yang lebih sehat, terutama untuk komoditas yang dikonsumsi dalam kondisi segar seperti stroberi.

Ia berharap tersedia inovasi penggunaan input nonkimia, baik pupuk maupun pestisida, dalam budidaya stroberi. Menurutnya, produk yang dikonsumsi langsung oleh wisatawan melalui aktivitas petik sendiri harus mendapatkan perhatian dari aspek keamanan pangan.

Menanggapi berbagai aspirasi tersebut, anggota Tim Program Profesor Berdampak dari Universitas Mataram, Prof. Taufik Fauzi, Prof. Ruth Stella, Prof. Aluh Nikmatullah, Prof. Yusron Saadi, Prof. Sulhaeni, dan Ir. Hery Haryanto, M.Si., menyatakan komitmennya untuk melanjutkan pendampingan kepada petani.

Pendampingan tidak hanya dilakukan melalui diskusi, tetapi diarahkan pada penerapan pertanian terpadu berkelanjutan, khususnya penerapan GAP dalam budidaya kopi dan budidaya sehat pada berbagai komoditas unggulan lainnya.

Tim juga mendorong kemandirian petani dalam penyediaan input pertanian dengan memanfaatkan bahan baku lokal. Salah satunya melalui pembuatan pupuk organik dari limbah pertanian dan peternakan dengan memanfaatkan dekomposer yang dapat diproduksi secara mandiri.

Selain aspek budidaya, keamanan pangan dan peningkatan nilai tambah produk juga menjadi perhatian. Petani komoditas segar didorong mulai mendaftarkan produknya untuk memperoleh sertifikasi Prima 3 sebagai jaminan keamanan pangan produk segar.

Dengan adanya sertifikasi dan label Prima 3 pada kemasan, produk diharapkan memiliki daya saing dan nilai ekonomi yang lebih tinggi di pasar.

Kolaborasi lintas perguruan tinggi juga mendapat dukungan dari Universitas Hamzanwadi, Universitas 45 Mataram, dan Universitas Muhammadiyah Mataram. Masing-masing diwakili Prof. Khirjan Nahdi, Dekan Ir. Baharudin, M.P., dan Budi Wiryono, SP., M.Si.

Ketiganya menyatakan dukungan terhadap kolaborasi bersama Universitas Mataram dalam mendampingi petani Sembalun menuju pertanian terpadu berkelanjutan.

Kepala SMKPP Negeri Mataram, Sugiartha, SP., M.Si., yang saat ini menempuh program doktor di Pascasarjana Universitas Mataram, juga menyatakan kesiapan mendukung program tersebut. Dukungan akan dilakukan melalui penyediaan tenaga kompeten serta pemanfaatan sarana laboratorium, termasuk laboratorium kultur jaringan.

Dukungan serupa disampaikan perwakilan LSPB Mataram dan MAPORINA NTB yang menyatakan kesiapan untuk terlibat aktif dalam program kolaborasi tersebut.

Melalui kolaborasi lintas disiplin dan lembaga tersebut, Program Profesor Berdampak diharapkan tidak hanya menghasilkan rekomendasi, tetapi menghadirkan pendampingan nyata bagi petani Sembalun. Fokusnya mencakup budidaya sehat, kemandirian input, pengolahan hasil, keamanan pangan, hingga peningkatan nilai tambah dan pemasaran komoditas pertanian.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....