Profesor Berdampak Dorong Pertanian Terpadu Berkelanjutan di Sembalun

  • 09 Agt 2026 20:06 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Lombok Timur – Tim Program Profesor Berdampak Universitas Mataram (Unram) melanjutkan kegiatan ke-3 dan ke-4 pada 8–9 Agustus 2026 dengan mengusung tema “Melalui Program Profesor Berdampak Kita Tingkatkan Sinergitas untuk Membangun Pertanian Terpadu Berkelanjutan di Kawasan Agrowisata Sembalun.”

Kegiatan tersebut menjadi ruang kolaborasi antara perguruan tinggi, petani, kelompok pemuda, sekolah vokasi pertanian, serta berbagai lembaga untuk bersama-sama mencari solusi terhadap persoalan pertanian di kawasan Sembalun, Lombok Timur.

Tim yang diketuai Prof. M. Sarjan, M.Agr.CP., Ph.D. melibatkan sejumlah mitra, antara lain Universitas Hamzanwadi, Universitas 45 Mataram, Universitas Muhammadiyah Mataram, SMKPPN Mataram, serta kelompok pemuda lokal Barisan Pemuda Adat Nusantara (BPAN).

Pada hari pertama, kegiatan diawali dengan diskusi bersama perwakilan petani maju senior, petani muda, Kelompok Wanita Tani (KWT), serta pengurus BPAN. Diskusi difokuskan untuk menggali berbagai persoalan, pengalaman, gagasan, dan harapan masyarakat terkait pengembangan kopi dan komoditas unggulan lainnya di Sembalun.

Ketua Tim Program Profesor Berdampak, Prof. M. Sarjan, mengatakan petani merupakan pihak yang paling mengetahui persoalan yang dihadapi dalam kegiatan budidaya maupun usaha tani.

“Yang merasakan dan mengetahui masalah yang dihadapi selama budidaya dan usaha tani adalah petani itu sendiri. Kami dari berbagai bidang datang untuk mendengarkan dan bersama-sama mencari solusi terbaik yang bisa dilakukan,” ujarnya, Minggu 9 Agustus 2026.

Menurutnya, pendekatan tersebut penting agar program yang dilaksanakan tidak berhenti pada kegiatan diskusi, tetapi benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat dan menghasilkan dampak nyata bagi petani.

Dalam diskusi, H. Ruspaini menyampaikan harapan agar Program Profesor Berdampak dapat membantu petani mengembangkan budidaya tanaman sehat, khususnya kopi.

Ia juga mengajak komunitas petani Sembalun untuk bersama-sama mengembalikan kejayaan kopi Arabika asli Sembalun dengan mulai melakukan pembibitan.

Sementara itu, Ustaz Qudus mengapresiasi keterlibatan langsung para profesor dalam kegiatan bersama petani. Ia mengajak masyarakat tani untuk mendukung dan berpartisipasi aktif dalam program yang dikembangkan Unram.

Menurutnya, upaya tersebut bahkan telah mulai dilakukan bersama mahasiswa KKN Unram dengan melakukan pembibitan sekitar 20 ribu pohon kopi yang dipersiapkan untuk ditanam pada musim hujan berikutnya.

Dari kalangan petani milenial, Akbar menyoroti pentingnya penyusunan Standard Operating Procedure (SOP) sebagai panduan sederhana bagi petani dalam menerapkan Good Agricultural Practices (GAP) pada budidaya kopi.

Ia berharap program tidak hanya berfokus pada sektor hulu atau budidaya, tetapi juga membantu petani menyelesaikan persoalan di sektor hilir, terutama pengolahan (processing) dan pemasaran kopi.

“Kami berharap ada panduan sederhana terkait perkopian di sektor hilir sehingga petani tidak hanya mampu menghasilkan produk, tetapi juga meningkatkan nilai tambahnya,” katanya.

Harapan lain disampaikan Endo, perwakilan BPAN yang saat ini fokus pada pengembangan kopi. Ia mendorong adanya inovasi penggunaan input nonkimia, baik pupuk maupun pestisida, terutama untuk budidaya stroberi.

Menurutnya, stroberi merupakan salah satu komoditas yang banyak dikonsumsi secara langsung melalui konsep wisata petik dan makan di tempat. Karena itu, aspek keamanan pangan perlu menjadi perhatian.

“Kalau produk seperti stroberi dikonsumsi segar, mestinya ada jaminan bahwa produk tersebut aman dikonsumsi,” ujarnya.

Menanggapi berbagai aspirasi tersebut, anggota tim Unram yang terdiri atas Prof. Taufik Fauzi, Prof. Ruth Stella, Prof. Aluh Nikmatullah, Prof. Yusron Saadi, Prof. Sulhaeni, dan Ir. Hery Haryanto, M.Si., menyatakan komitmennya untuk melanjutkan pendampingan kepada petani.

Pendampingan tidak hanya dilakukan dalam bentuk diskusi, tetapi diarahkan untuk mewujudkan pertanian terpadu berkelanjutan, terutama melalui penerapan GAP pada budidaya kopi dan praktik budidaya sehat pada berbagai komoditas unggulan Sembalun.

Tim juga mendorong kemandirian petani dalam penyediaan input produksi, baik pupuk maupun pestisida berbahan lokal. Salah satu upayanya adalah mengolah limbah pertanian dan peternakan menjadi pupuk organik menggunakan dekomposer yang dapat dibuat secara mandiri.

Untuk komoditas yang dikonsumsi segar, tim juga mendorong petani mulai mendaftarkan produknya agar memperoleh sertifikat Prima 3 sebagai jaminan keamanan pangan produk segar.

Sertifikasi tersebut diharapkan tidak hanya meningkatkan kepercayaan konsumen, tetapi juga memberikan nilai tambah ekonomi bagi produk pertanian Sembalun.

Integrasi Kearifan Lokal dan Teknologi

Diskusi juga mengangkat pentingnya mempertahankan kearifan lokal (local wisdom) dalam pengembangan pertanian berkelanjutan.

Beberapa praktik masyarakat seperti penentuan waktu tanam dan gotong royong dinilai masih relevan untuk dipertahankan, meskipun sebagian mulai tergerus perkembangan teknologi, modernisasi, dan digitalisasi.

Karena itu, tim mendorong terbentuknya model pertanian yang mengintegrasikan praktik kearifan lokal dengan intervensi teknologi modern.

Kolaborasi lintas perguruan tinggi juga mendapat dukungan dari mitra. Universitas Hamzanwadi, Universitas 45 Mataram, dan Universitas Muhammadiyah Mataram menyatakan kesiapan untuk bersama-sama mendampingi petani Sembalun.

Dukungan tersebut disampaikan masing-masing oleh Prof. Khirjan Nahdi, Dekan Universitas 45 Mataram Ir. Baharudin, MP, serta Budi Wiryono, SP., M.Si. dari Universitas Muhammadiyah Mataram.

Sementara itu, Kepala SMKPPN Mataram Sugiarta,S.Pi.,M.Pd.,M.Si., yang saat ini sedang menempuh program doktor di Pascasarjana Unram, menyatakan siap mendukung program tersebut, termasuk melalui penyediaan tenaga berkompetensi dan pemanfaatan sarana laboratorium, khususnya laboratorium kultur jaringan.

Dukungan serupa juga disampaikan perwakilan LSPB Mataram dan MAPORINA NTB yang menyatakan kesiapannya untuk terlibat aktif dalam program kolaborasi tersebut.

Praktik Pembuatan Pupuk Organik dan Pestisida Nabati

Setelah sesi diskusi, kegiatan dilanjutkan dengan demonstrasi pembuatan pupuk organik yang diperkaya agen hayati Trichoderma cair.

Peserta juga mendapatkan demonstrasi pembuatan pestisida nabati berbahan lokal daun paitan sebagai salah satu alternatif untuk mengurangi ketergantungan terhadap pestisida kimia.

Kegiatan praktik tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong pertanian yang lebih sehat sekaligus memanfaatkan sumber daya lokal yang tersedia di sekitar kawasan pertanian Sembalun.

Melalui kolaborasi berbagai pihak tersebut, Program Profesor Berdampak diharapkan menjadi model pendampingan yang mampu mempertemukan pengetahuan akademik, pengalaman petani, kearifan lokal, teknologi, dan kebutuhan pasar.

Dengan pendekatan tersebut, pengembangan pertanian terpadu berkelanjutan di kawasan Agrowisata Sembalun diharapkan tidak hanya meningkatkan produktivitas, tetapi juga kualitas, keamanan pangan, nilai tambah, dan kesejahteraan petani.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....