SMPN 15 Mataram Bergerak Menuju Zero Waste
- 02 Sep 2026 05:17 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Mataram - Upaya SMPN 15 Mataram mengurangi sampah mulai menunjukkan hasil. Melalui pembiasaan membawa kotak makan dan tumbler serta pengelolaan sampah berdasarkan jenisnya, volume sampah sekolah yang sebelumnya mencapai 13 troli setiap hari kini berkurang menjadi sekitar tiga troli.
Kepala SMPN 15 Mataram, Sri Wahyu Indriani, mengatakan pengurangan tersebut merupakan bagian dari penerapan Gerakan Sekolah Sehat (GSS), khususnya pilar sehat lingkungan.
Sekolah tidak hanya meminta siswa menjaga kebersihan, tetapi juga mengubah kebiasaan yang berpotensi menghasilkan sampah sekali pakai. Salah satunya dengan membawa makanan dan minuman dari rumah menggunakan wadah yang dapat digunakan kembali.
"Anak-anak kami minta membawa sarapan bergizi dari rumah dengan menggunakan kotak makan dan membawa air minum menggunakan tumbler. Itu salah satu cara kami untuk mengurangi sampah," jelasnya, Selasa 1 September 2026.
Kebiasaan tersebut juga diterapkan ketika siswa membeli makanan di kantin. Siswa yang membawa kotak makan dapat menggunakannya sebagai wadah makanan, sementara kantin menyiapkan piring dan mangkuk bagi siswa yang tidak membawa wadah.
Menurut Sri Wahyu, kantin sekolah juga sudah tidak menggunakan mika dan styrofoam untuk penyajian makanan. Sekolah tetap berupaya mengurangi penggunaan kemasan plastik yang masih ditemukan pada sejumlah makanan ringan.
Dari pengelolaan tersebut, sampah yang terkumpul kini dipilah. Sampah organik diarahkan untuk diolah menjadi kompos melalui fasilitas pengolahan yang tersedia di lingkungan sekolah.
Sementara botol minuman dikumpulkan untuk bekerja sama dengan bank sampah. Hasil pengelolaan botol tersebut kemudian memiliki nilai ekonomi dan menjadi bagian dari tabungan yang dikelola petugas kebersihan.
"Alhamdulillah sudah ada pengurangan sampah di SMPN 15. Dulu kami setiap hari itu ada 13 troli sampah, sekarang sudah menjadi tiga troli dan itu sudah dipilah," ujarnya.
Meski terjadi pengurangan signifikan, sekolah masih menghadapi sampah kemasan yang belum sepenuhnya dapat dihindari. Sampah tersebut menjadi bagian yang masih harus dibawa ke tempat pembuangan akhir.
Sri Wahyu ingin jumlah sampah tersebut terus ditekan hingga tidak lagi dikirim ke TPA. Salah satu peluang yang dilihat adalah menjadikan persoalan sampah sebagai bagian dari kegiatan kokurikuler siswa.
Sebelumnya, SMPN 15 Mataram juga memiliki program ECOBREAK yang menghasilkan sejumlah fasilitas dari kegiatan pengelolaan dan pemanfaatan sampah. Namun, sekolah kini perlu menyesuaikan kegiatan tersebut dengan pola kokurikuler yang berlaku.
"Harapan saya, satu troli ini akan hilang menjadi zero waste. Itu yang masih menjadi pemikiran kami ke depan," katanya.
Pengurangan sampah juga berdampak pada frekuensi pengangkutan. Jika sebelumnya truk harus datang setiap hari karena volume sampah mencapai 13 troli, kini pengangkutan dilakukan sekitar dua kali dalam sepekan dengan jumlah sampah yang jauh lebih sedikit.
Bagi SMPN 15 Mataram, pengelolaan sampah sekaligus menjadi pembelajaran bagi siswa bahwa menjaga lingkungan dapat dimulai dari kebiasaan sederhana yang dilakukan setiap hari.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....