Bukan Sekadar Membaca, Siswa Mataram Hadapi Tantangan Literasi Digital
- 01 Sep 2026 09:16 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Mataram - Kemampuan membaca bukan satu-satunya persoalan yang dihadapi sebagian siswa di Kota Mataram. Di tengah penerapan asesmen berbasis digital, kemampuan menggunakan perangkat komputer juga menjadi tantangan yang perlu mendapat perhatian sekolah.
Kepala SDN 61 Mataram, Wasis Utomo, mengungkapkan kondisi tersebut dalam diskusi pemanfaatan buku pengayaan Gerakan Literasi Nasional (GLN) di Kota Mataram. Ia menilai persoalan yang dihadapi siswa di sekolahnya tidak sepenuhnya berkaitan dengan kemampuan memahami bacaan, tetapi juga keterbatasan literasi digital.
Wasis menyebut kemampuan digital siswa yang masih minim menjadi salah satu hal yang perlu dibenahi. Bahkan, sebagian siswa disebut belum terbiasa menggunakan perangkat sederhana seperti tetikus ketika harus mengerjakan soal yang disajikan melalui media digital.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena proses pembelajaran dan asesmen semakin banyak memanfaatkan perangkat teknologi. Kemampuan memahami soal perlu berjalan beriringan dengan keterampilan menggunakan perangkat yang menjadi sarana dalam mengaksesnya.
Meski menghadapi kendala tersebut, SDN 61 Mataram tetap berkomitmen memanfaatkan buku pengayaan yang diterima dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Buku tersebut diharapkan dapat digunakan untuk memperkuat kemampuan literasi siswa secara substansial.
Buku pengayaan tersebut merupakan bagian dari dukungan Kemendikdasmen untuk merespons rendahnya capaian literasi siswa dalam Asesmen Nasional 2025. Di Kota Mataram, sebanyak 20 sekolah menerima sedikitnya 200 eksemplar buku untuk masing-masing satuan pendidikan.
Balai Bahasa Provinsi NTB bersama Dinas Pendidikan Kota Mataram kemudian memberikan penguatan kepada sekolah mengenai strategi pemanfaatan buku. Guru didorong menyesuaikan bahan bacaan dengan kemampuan membaca siswa agar penggunaannya lebih tepat sasaran.
Lentera menjelaskan, buku-buku yang disalurkan telah dilengkapi label jenjang untuk membantu guru mengidentifikasi tingkat pembaca yang sesuai. Sebelum menentukan bahan bacaan, guru juga disarankan melakukan asesmen terhadap tingkat kemahiran membaca siswa.
Penguatan literasi juga tidak hanya diarahkan melalui kegiatan di sekolah. Nurcholis Muslim memperkenalkan inovasi “Benar-Benar Membaca, Membaca Benar-Benar” untuk membangun kebiasaan membaca secara konsisten dengan target yang jelas.
Menurutnya, keterlibatan orang tua juga dapat diperkuat agar kegiatan membaca tidak berhenti ketika siswa berada di lingkungan sekolah. Dukungan keluarga dinilai dapat membantu membangun kebiasaan membaca secara lebih berkelanjutan.
Sementara itu, SDN 15 Mataram telah menyiapkan pemanfaatan buku pengayaan melalui program “Pusaka Ceria”. Sekolah berharap tambahan koleksi tersebut dapat memperkuat kegiatan yang selama ini dilakukan untuk menumbuhkan budaya membaca peserta didik.
Sekolah juga berharap bahan bacaan berbahasa daerah dapat turut diberikan pada kesempatan berikutnya. Kehadiran bacaan yang menggunakan bahasa ibu dinilai dapat membantu siswa membangun kedekatan dengan bahasa dan budaya lokal.
Balai Bahasa Provinsi NTB untuk sementara masih melakukan pemantauan pada aspek ketersampaian buku. Evaluasi mengenai dampak penggunaannya terhadap kemampuan siswa akan dilakukan setelah sekolah memiliki waktu yang cukup untuk menerapkan buku-buku tersebut.
Kondisi di SDN 61 Mataram menunjukkan bahwa penguatan literasi di sekolah membutuhkan pendekatan yang lebih luas. Kemampuan memahami bacaan tetap penting, tetapi perlu berjalan bersama kecakapan digital agar siswa mampu mengikuti proses pembelajaran dan asesmen yang semakin berkembang.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....