Pendidikan Anak Sade Tetap Berlanjut di tengah Pemulihan
- 31 Agt 2026 06:36 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Mataram - Musibah kebakaran yang melanda Desa Adat Sade, Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, pada Sabtu, 22 Agustus 2026, tidak hanya meninggalkan kerusakan pada rumah dan lingkungan warga. Anak-anak yang selama ini tumbuh dan belajar di kawasan tersebut juga ikut kehilangan ruang belajar, perlengkapan sekolah, serta rutinitas yang menjadi bagian dari keseharian mereka.
Di tengah proses pemulihan tersebut, pendidikan anak menjadi perhatian penting. Hal ini menjadi topik utama dalam program SPADA Pro 2 RRI Mataram, Jumat, 28 Agustus 2026 pukul 09.00–10.00 WITA, bersama Noor Ain Husein, Founder Yayasan Chili Community House.
Bagi kak Ain sapaan akrabnya, pemulihan pascakebakaran tidak cukup hanya dengan memenuhi kebutuhan pangan, pakaian maupun tempat tinggal. Anak-anak juga membutuhkan ruang untuk kembali belajar, bermain dan beraktivitas sehingga mereka perlahan dapat melewati pengalaman berat akibat bencana.
Keterlibatan Chili Community House dalam pemulihan anak-anak Sade memiliki cerita tersendiri. Yayasan tersebut sebelumnya memang telah memiliki sanggar belajar di Kampung Sade dan secara rutin mendampingi anak-anak.
Kak Ain mengungkapkan kegiatan pendidikan di Sade sebelumnya dilakukan setiap Rabu dan Kamis. Karena itu, kebakaran yang turut menghanguskan sanggar belajar menjadi kehilangan yang dirasakan langsung oleh yayasan dan anak-anak yang selama ini mereka dampingi.
Kedekatan tersebut membuat Chili Community House memilih untuk tidak berhenti pada bantuan tanggap darurat. Fokus kemudian diarahkan pada bagaimana anak-anak dapat kembali menjalani aktivitas pendidikan setelah kehilangan berbagai perlengkapan akibat kebakaran.
Kak Ain menjelaskan bahwa kondisi anak-anak pascabencana perlu dilihat secara menyeluruh. Mereka bukan hanya kehilangan barang-barang yang digunakan sehari-hari, tetapi juga mengalami perubahan lingkungan secara tiba-tiba.
Bencana dapat meninggalkan pengalaman yang berbeda pada setiap anak. Karena itu, selain kebutuhan fisik, kondisi emosional mereka menjadi perhatian dalam pendampingan.
Chili Community House sebelumnya telah melakukan trauma healing dengan menghadirkan aktivitas yang dekat dengan dunia anak, seperti bermain, menggambar, mewarnai dan kegiatan kelompok. Pendekatan tersebut dibuat agar anak-anak memiliki kesempatan untuk kembali berinteraksi, tertawa dan menjalani aktivitas bersama.
Dalam pendampingan pascakebakaran, kegiatan anak-anak juga diisi dengan belajar, menggambar, bermain, menari, bernyanyi hingga aktivitas lainnya. Tujuannya bukan sekadar mengisi waktu, tetapi membantu mereka kembali memiliki rutinitas dan merasa aman setelah mengalami kejadian yang mengejutkan.
Bagi Kak Ain, anak-anak perlu dipandang sebagai anak-anak yang sedang berusaha kembali menjalani kehidupannya, bukan terus-menerus ditempatkan sebagai korban.
Pendekatan seperti ini penting karena pemulihan psikologis anak tidak selalu harus dilakukan melalui percakapan formal. Bermain dan belajar bersama juga dapat menjadi ruang bagi anak untuk mengekspresikan diri dan membangun kembali rasa percaya diri.
Kebakaran juga membuat sebagian anak kehilangan perlengkapan yang mereka butuhkan untuk bersekolah. Seragam, sepatu, tas, buku dan alat tulis menjadi barang yang harus kembali disiapkan agar aktivitas pendidikan dapat berjalan.
Chili Community House kemudian melakukan pendataan kebutuhan anak, termasuk usia, sekolah, ukuran seragam dan ukuran sepatu. Langkah tersebut dilakukan agar bantuan pendidikan dapat diberikan sesuai kebutuhan masing-masing anak.
Upaya tersebut mulai diwujudkan melalui penyaluran perlengkapan sekolah. Pada Kamis, 27 Agustus 2026, sedikitnya 50 anak terdampak kebakaran menerima bantuan berupa tas, sepatu, seragam, buku dan alat tulis.
Bantuan perlengkapan sekolah mungkin terlihat sederhana, tetapi bagi anak-anak yang kehilangan barang-barangnya akibat kebakaran, hal tersebut menjadi bagian penting untuk mengembalikan mereka ke rutinitas.
Dengan kembali memiliki seragam, tas, buku dan alat tulis, anak-anak memiliki bekal untuk kembali bertemu teman-temannya dan mengikuti kegiatan belajar.
Kebakaran yang terjadi di Sade berdampak cukup luas. Berdasarkan laporan awal pemerintah daerah yang dikutip RRI, peristiwa pada 22 Agustus tersebut berdampak pada sekitar 120 kepala keluarga atau 320 jiwa.
Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah juga melakukan pendataan dan verifikasi terhadap rumah adat yang terdampak. Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa proses pemulihan masyarakat Sade membutuhkan waktu dan melibatkan banyak aspek.
Di tengah proses tersebut, memastikan anak-anak tetap mendapatkan pendidikan menjadi bagian yang tidak kalah penting.
Sebab, pendidikan bukan hanya tentang buku dan ruang kelas. Bagi anak-anak yang baru saja mengalami bencana, kegiatan belajar dapat menjadi salah satu cara untuk mengembalikan rutinitas yang sempat terputus.
Kembali belajar juga berarti kembali bertemu teman, bermain, berinteraksi dengan guru dan menjalani kegiatan yang sebelumnya menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Salah satu harapan besar Chili Community House setelah kebakaran adalah membangun kembali sanggar belajar di Sade.
Sanggar tersebut sebelumnya menjadi ruang bagi anak-anak untuk mendapatkan pendampingan pendidikan. Kak Ain berharap tempat itu dapat kembali hadir sehingga kegiatan pendidikan yang selama ini dilakukan yayasan bersama anak-anak Sade dapat dilanjutkan.
Namun, ke depan sanggar tersebut diharapkan tidak hanya menjadi tempat belajar akademik. Ruang itu juga dapat menjadi tempat anak-anak mengembangkan kemampuan, keberanian, kreativitas dan rasa percaya diri.
Harapan tersebut sejalan dengan fokus Chili Community House yang selama ini memberikan perhatian pada pendidikan anak. RRI sebelumnya mencatat yayasan tersebut mengembangkan pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada pelajaran, tetapi juga keterampilan hidup, kemandirian, disiplin, fokus dan rasa hormat.
Pemulihan pascabencana tidak terjadi dalam satu malam. Rumah mungkin perlu dibangun kembali, lingkungan perlu ditata dan berbagai kebutuhan dasar harus dipenuhi secara bertahap.
Namun, di tengah proses tersebut, masa depan anak-anak juga tidak boleh ikut tertunda.
Kembalinya anak-anak ke sekolah menjadi lebih dari sekadar aktivitas rutin. Itu adalah tanda bahwa kehidupan perlahan bergerak kembali. Mereka kembali membawa tas, memakai seragam, membuka buku, bertemu teman dan memikirkan cita-cita.
Melalui pendampingan, trauma healing, pemenuhan perlengkapan sekolah dan rencana pembangunan kembali sanggar belajar, Chili Community House berupaya memastikan bahwa api yang membakar sebagian kawasan Sade tidak ikut memadamkan semangat belajar anak-anaknya.
Bagi Kak Ain, membantu anak-anak kembali mendapatkan pendidikan adalah bagian dari upaya memastikan mereka tetap memiliki ruang untuk tumbuh, berkembang dan menatap masa depan.
Sade mungkin sedang membangun kembali banyak hal yang hilang. Tetapi bagi anak-anaknya, satu hal yang harus terus dijaga adalah kesempatan untuk belajar dan bermimpi.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....