Media Sosial Jadi Tantangan, Balai Bahasa NTB Perkuat Bahasa Santun
- 29 Agt 2026 16:08 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Mataram - Balai Bahasa Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) mendorong masyarakat, terutama pelajar dan mahasiswa, lebih memperhatikan penggunaan bahasa yang baik dan santun di ruang digital. Perkembangan media sosial dinilai membuat penggunaan bahasa semakin beragam sehingga perlu diimbangi dengan pemahaman etika berbahasa.
Kepala Balai Bahasa Provinsi NTB, Arie Andrasyah Isa, mengatakan pembinaan bahasa yang dilakukan pihaknya tidak hanya berfokus pada kemampuan menggunakan bahasa Indonesia secara baik dan benar, tetapi juga pada kesantunan ketika berkomunikasi.
Menurutnya, penggunaan bahasa yang santun menjadi bagian penting dalam program Peningkatan Kemahiran Berbahasa Indonesia yang diselenggarakan oleh Balai Bahasa NTB.
"Dalam peningkatan kemahiran berbahasa Indonesia, kami tidak hanya memberikan materi tentang kompetensi berbahasa Indonesia yang baik dan benar, tetapi juga bagaimana menggunakan bahasa Indonesia yang santun," ujarnya, Sabtu 28 Agustus 2026.
Arie mengakui ruang digital, khususnya media sosial, menjadi salah satu tantangan dalam penggunaan bahasa. Oleh karena itu, Balai Bahasa memilih mendekati masyarakat melalui program Jempol Bola (Jemput Bola), yakni layanan kebahasaan dan kesastraan yang proaktif. Layanan Jempol adalah layanan yang diberikan kepada masyarakat sebelum layanan tersebut diminta oleh masyarakat.
Melalui program tersebut, Balai Bahasa secara aktif mendatangi sekolah, instansi pemerintah, dan lembaga lain untuk menawarkan materi kebahasaan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Di lingkungan sekolah, misalnya, materi yang ditawarkan dapat mencakup etika berbahasa, penggunaan bahasa Indonesia di ruang publik, wajah bahasa di lingkungan sekolah, tata naskah dinas, dan kamus masuk sekolah (KMS), serta literasi (membaca cepat, membaca kritis, dan bedah buku).
Program tersebut juga memungkinkan penerima layanan memilih materi yang dianggap paling sesuai dengan kebutuhan mereka.
"Di sekolah salah satu program Jempol adalah memberikan sosialisasi kepada insan sekolah agar tidak menggunakan bahasa Indonesia yang tidak pada tempatnya," tuturnya.
Untuk mengetahui efektivitas pembinaan bahasa, Balai Bahasa menggunakan pengukuran kemahiran berbahasa melalui tes awal dan tes akhir. Peserta terlebih dahulu dites sebelum menerima materi, kemudian kembali dites setelah pembinaan.
Hasilnya kemudian dapat dibandingkan untuk melihat perubahan kemampuan berbahasa peserta sebelum dan sesudah diberikan materi peningkatan kemahiran berbahasa Indonesia. Selain itu, Balai Bahasa juga menggunakan Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia atau UKBI untuk mengukur tingkat penguasaan bahasa Indonesia.
Arie mengatakan pendekatan tersebut dilakukan agar pembinaan bahasa tidak hanya berhenti pada kegiatan sosialisasi, tetapi memiliki ukuran yang dapat menunjukkan perkembangan kemampuan atau kompetensi berbahasa peserta.
Di sisi lain, Balai Bahasa juga menyediakan akses digital melalui Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) daring. Masyarakat dapat memanfaatkannya untuk memeriksa makna kata, kebakuan kata, dan penggunaan suatu kata sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia. Menurut Arie, kemudahan akses tersebut penting karena generasi muda saat ini sangat dekat dengan perangkat digital.
Ia berharap masyarakat dapat memanfaatkan teknologi bukan hanya untuk berkomunikasi, tetapi juga sebagai sarana belajar dan meningkatkan kemampuan berbahasa.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....