Balai Bahasa NTB Fokus Hidupkan Kembali Tiga Bahasa Daerah
- 25 Agt 2026 21:19 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Mataram - Balai Bahasa Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) tahun ini memprioritaskan revitalisasi tiga bahasa daerah sebagai bagian dari upaya menjaga keberlangsungan bahasa lokal di tengah perubahan masyarakat.
Kepala Balai Bahasa Provinsi NTB, Arie Andrasyah Isa, mengatakan program revitalisasi tersebut merupakan bagian dari target yang diturunkan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa.
Tiga bahasa yang menjadi sasaran revitalisasi tahun ini adalah bahasa Sasak, Samawa, dan Mbojo atau Sasambo.
"Target program revitalisasi bahasa daerah tahun ini ada tiga bahasa, yaitu bahasa Samawa, Sasak, dan Mbojo yang ada di Dompu dan Bima. Program ini merupakan bagian dari target yang diturunkan dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa," jelasnya, Selasa 25 Agustus 2026.
Menurut Arie, revitalisasi bahasa daerah tidak hanya diarahkan untuk mempertahankan keberadaan bahasa sebagai alat komunikasi, tetapi juga memastikan bahasa tersebut tetap digunakan dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Ia menilai keberlangsungan bahasa daerah membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, termasuk masyarakat, lembaga pendidikan, pemerintah daerah, dan para penutur bahasa itu sendiri.
Balai Bahasa NTB juga menjalankan program pembinaan untuk memperkuat penggunaan bahasa Indonesia di berbagai lembaga. Salah satu targetnya adalah mendorong pemerintah kabupaten dan kota mengeluarkan surat keputusan (SK) pengawasan penggunaan bahasa negara di ruang publik.
Program tersebut mengacu pada amanat Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara serta Lagu Kebangsaan.
Arie mengatakan pengutamaan bahasa Indonesia di ruang publik tetap harus berjalan berdampingan dengan pelestarian bahasa daerah dan penguasaan bahasa asing.
"Bahasa Indonesia harus diutamakan, kemudian bahasa daerah harus terus dilestarikan, dan bahasa asing harus kita kuasai. Ini ada aturannya dalam penggunaan bahasa di ruang publik," katanya.
Menurutnya, upaya menjaga bahasa daerah juga dilakukan melalui program penerjemahan buku cerita anak. Balai Bahasa melibatkan penutur jati bahasa daerah untuk menerjemahkan cerita dari bahasa daerah ke bahasa Indonesia.
Program tersebut menyasar bahan bacaan untuk anak pada jenjang pendidikan tertentu, sekaligus menjadi upaya memperkenalkan bahasa daerah kepada generasi muda melalui bahan bacaan.
Arie berharap berbagai program tersebut dapat memperkuat posisi bahasa daerah di tengah perkembangan zaman tanpa mengurangi kedudukan bahasa Indonesia sebagai bahasa negara.
"Intinya adalah bagaimana bahasa daerah kita ini tetap dipelihara, dilestarikan dan dijaga dengan baik," katanya, mengakhiri.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....