FGD Profesor Berdampak Unram, Kawo Disiapkan Jadi Desa Berbasis Potensi Lokal

  • 12 Agt 2026 17:57 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Lombok Tengah - Beragam potensi pertanian, peternakan, UMKM, hingga peluang agrowisata menjadi modal yang dipetakan untuk mengembangkan Desa Kawo, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah. Pemetaan tersebut dilakukan dalam Focus Group Discussion (FGD) Program Profesor Berdampak Universitas Mataram (Unram), Selasa, 11 Agustus 2026.

Forum yang berlangsung di Aula Kantor Desa Kawo itu mempertemukan LPPM Unram, Tim Profesor Berdampak, Bappeda Provinsi NTB, Baperida Lombok Tengah, organisasi perangkat daerah, Pemerintah Desa Kawo, BPD, BUMDes, kepala dusun, kelompok tani dan peternak, PPL, pelaku UMKM, tokoh masyarakat, DPRD, Dinas Sosial, Tim Penanggulangan Kemiskinan Lombok Tengah, akademisi, serta putra daerah Kawo.

Mengusung tema “Pemetaan Potensi, Permasalahan dan Strategi Pengembangan Desa Kawo melalui Sinergi Program Profesor Berdampak Universitas Mataram dan Program Desa Berdaya Provinsi NTB”, FGD tersebut diarahkan untuk menghubungkan potensi lokal dengan kebutuhan pembangunan dan pendampingan akademik.

Fasilitator FGD, Agus Purbathin Hadi, memfasilitasi pembahasan mengenai kondisi berbagai dusun, potensi masyarakat, sekaligus persoalan yang masih membutuhkan penanganan. Pemetaan dilakukan untuk memastikan pengembangan desa tidak hanya bertumpu pada satu sektor, tetapi memanfaatkan berbagai potensi yang dimiliki masyarakat.

Peserta melihat Desa Kawo memiliki sejumlah modal penting untuk dikembangkan, antara lain pengetahuan masyarakat di bidang pertanian, tingkat pendidikan yang relatif baik, usaha masyarakat yang terus tumbuh, serta motivasi untuk meningkatkan kesejahteraan.

Di sektor pertanian, Kawo memiliki potensi palawija, padi, melon, kacang koro, labu, serta berbagai jenis tanaman lainnya. Pematang lahan juga dapat dimanfaatkan untuk tanaman pangan sehingga produktivitas lahan dapat ditingkatkan.

Potensi pertanian tersebut bahkan dinilai memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi bagian dari sektor pariwisata. Pengalaman masa lalu ketika pertanian Kawo berkembang dengan berbagai jenis sayuran dan mampu dipasarkan ke luar daerah menjadi salah satu inspirasi untuk mengembangkan kembali pertanian sebagai basis ekonomi sekaligus daya tarik wisata.

Konsep agrowisata menjadi salah satu peluang yang muncul dalam diskusi. Pertanian tidak hanya dipandang sebagai kegiatan produksi, tetapi juga dapat menjadi ruang edukasi dan wisata yang menghubungkan masyarakat dengan potensi lokal.

Akademisi sekaligus putra daerah Kawo, Prof. Sukartono, menekankan pentingnya membangun rantai nilai sekaligus memastikan keberlanjutan pasar. Menurutnya, komoditas seperti ayam kampung, kangkung, dan nanas dapat diarahkan untuk memenuhi kebutuhan hotel, restoran, dan kafe.

Namun, peluang tersebut membutuhkan peningkatan kualitas produk. Masyarakat harus mampu memenuhi kebutuhan pasar dari sisi kualitas, keamanan pangan, kuantitas, hingga kontinuitas pasokan.

Karena itu, potensi lokal Kawo perlu dikembangkan dalam sebuah ekosistem bisnis yang menghubungkan produsen dengan pasar. Pendekatan tersebut diharapkan dapat memastikan manfaat ekonomi tidak berhenti pada peningkatan produksi, tetapi benar-benar dirasakan petani, peternak, pelaku UMKM, hingga masyarakat secara luas.

Potensi peternakan juga cukup beragam. Masyarakat mengembangkan ayam kampung, ayam pedaging, ayam petelur, kambing, dan bebek. Bahkan limbah peternakan dapat dimanfaatkan sebagai pupuk untuk mendukung keterpaduan antara peternakan dan pertanian.

Sektor UMKM menjadi potensi lainnya. Produk seperti kerupuk, keripik, dan opak telah diproduksi masyarakat. Persoalan yang dihadapi bukan semata-mata pemasaran lokal, melainkan bagaimana meningkatkan skala usaha dan memperluas jangkauan pasar.

Karena itu, pelaku UMKM membutuhkan bimbingan dan pendampingan untuk meningkatkan kapasitas usaha, digitalisasi pemasaran, kewirausahaan, serta pengembangan produk.

Selain ekonomi, FGD juga menempatkan pemberdayaan masyarakat dan kesehatan sebagai bagian penting dalam pembangunan desa. Perwakilan kader posyandu menyampaikan Desa Kawo pernah menjadi lokus stunting pada 2024.

Kader posyandu dinilai memiliki peran strategis dalam menjaga keberlanjutan program kesehatan masyarakat. Namun, mereka juga membutuhkan peningkatan kapasitas dan peluang pengembangan usaha agar pemberdayaan dapat berjalan lebih berkelanjutan.

Persoalan pembiayaan menjadi tantangan tersendiri setelah ruang intervensi berkurang akibat keterbatasan dana desa. Karena itu, diperlukan kreativitas untuk menggabungkan program kesehatan, pangan, pemberdayaan, dan ekonomi dalam satu pendekatan yang saling mendukung.

LPPM Unram melalui Prof. Syahrul, PhD, menegaskan Program Profesor Berdampak akan memanfaatkan keahlian para profesor dan akademisi untuk memberikan pendampingan sesuai kebutuhan desa.

Sementara Ketua Tim Profesor Berdampak, Prof. Aluh Nikmatullah, menyampaikan bahwa program tersebut sebelumnya telah dikomunikasikan melalui audiensi bersama Pemerintah Desa Kawo, Baperida, dan sejumlah institusi terkait.

Pendekatan yang dibangun bukan sekadar memberikan bantuan, tetapi memperkuat kemampuan masyarakat dalam mengembangkan potensi secara mandiri.

“Tim Profesor Berdampak tidak membawa anggaran, tetapi membawa pendampingan,” ujar Prof. Aluh.

Dalam kerangka pembangunan daerah, Kabid Pemerintahan dan Pembangunan Manusia Bappeda Provinsi NTB, Heri Agustiadi, menjelaskan keterkaitan pengembangan Kawo dengan Program Desa Berdaya. Program tersebut diarahkan untuk mendukung pengentasan kemiskinan, ketahanan pangan dan industrialisasi agroindustri, serta mendorong NTB mendunia.

Sementara Sekretaris Baperida Lombok Tengah memaparkan agenda MASMIRAH, yakni Mewujudkan Masyarakat Lombok Tengah Mandiri, Sejahtera dan Harmonis. Arah pembangunan tersebut mencakup peningkatan kualitas SDM, pelayanan publik, ekonomi inklusif dan berkelanjutan, konektivitas wilayah, serta penguatan budaya luhur.

Sinkronisasi berbagai program dinilai penting agar pembangunan desa tidak berjalan dalam ruang yang terpisah. Perguruan tinggi, pemerintah, masyarakat, dan pelaku usaha perlu bekerja dalam satu ekosistem sesuai kewenangan masing-masing.

Prof. Farid Hemon dari Tim Profesor Berdampak menjelaskan Unram memiliki peran dalam pendampingan akademik, teknologi, inovasi, peningkatan kapasitas, dan riset terapan. Pemerintah daerah berperan dalam kebijakan dan fasilitasi, sedangkan pemerintah desa, BUMDes, kelompok masyarakat, petani, peternak, UMKM, kader posyandu, dan kelompok lainnya menjadi pelaksana utama di lapangan.

Pendekatan tersebut juga memiliki keterkaitan dengan SDGs, mulai dari pengentasan kemiskinan, ketahanan pangan, pertumbuhan ekonomi, inovasi dan infrastruktur, pengurangan kesenjangan, hingga penguatan kemitraan.

FGD kemudian ditutup Prof. Baiq Rien Handayani dengan kesepakatan untuk menindaklanjuti hasil pemetaan dan pembahasan dalam bentuk program yang lebih terarah sesuai kebutuhan masyarakat.

Bagi Desa Kawo, gagasan yang muncul tidak berhenti pada pengembangan sektor ekonomi. Fasilitator Agus Purbathin Hadi mendorong agar Kawo berkembang sebagai desa pusat belajar, tempat masyarakat dapat terus belajar mengembangkan pertanian, peternakan, UMKM, kewirausahaan, dan inovasi.

Gagasan tersebut diharapkan memperkuat posisi Desa Kawo sebagai desa yang tidak hanya tumbuh secara ekonomi, tetapi juga memiliki kemampuan untuk menghasilkan pengetahuan, mengembangkan inovasi, dan menjadi contoh pembangunan berbasis potensi lokal.

Melalui sinergi Program Profesor Berdampak Unram, Program Desa Berdaya Provinsi NTB, dan pembangunan Kabupaten Lombok Tengah, Kawo diarahkan bergerak dari pemetaan menuju aksi, dari bantuan menuju kemandirian, serta dari program yang berjalan sendiri-sendiri menuju kolaborasi yang menghasilkan dampak nyata bagi masyarakat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....