FKIP Unram Latih Guru MTsN 2 Lobar Olah Daun Kelor Jadi Sabun Mandi Herbal

  • 08 Agt 2026 17:34 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Lombok Barat — Potensi daun kelor di Desa Montong Are, Kecamatan Kediri, Kabupaten Lombok Barat, mulai diarahkan menjadi produk bernilai ekonomi. Langkah itu diwujudkan melalui kolaborasi MTs Negeri 2 Lombok Barat dengan Universitas Mataram (Unram) dalam Program Profesor Berdampak.

Program pengabdian tersebut tidak sekadar menempatkan kelor sebagai tanaman yang selama ini dikenal memiliki beragam manfaat. Tim pengabdian dari FKIP Unram mendorong pengolahan daun kelor menjadi sabun herbal, sekaligus merancang strategi pemasaran agar produk lokal tersebut memiliki nilai tambah dan peluang meningkatkan pendapatan masyarakat.

Pengabdian bertajuk “Optimalisasi Potensi Lokal Daun Kelor di Desa Montong Are, Kecamatan Kediri: Inovasi Produk Sabun Herbal Kelor dan Strategi Pemasaran untuk Peningkatan Pendapatan Masyarakat” itu dipimpin Prof. Dr. Agus Ramdani.

Dalam pelaksanaannya, Prof. Agus Ramdani didampingi Prof. Dr. Mukhlis, M.Si., Prof. Sudirman Wilian, P.H.D., Prof. Drs. Agus Abhi Purwoko, M.Sc., Ph.D., Dr. I Putu Artayasa, M.Si., Dr. A.A. Sukarso, M.Si., serta Prof. Drs. Aris Doyan, M.Si., Ph.D.

Keterlibatan MTs Negeri 2 Lombok Barat menjadi bagian penting dari upaya mempertemukan dunia pendidikan dengan riset dan pemberdayaan masyarakat. Madrasah tersebut membuka ruang kolaborasi dengan perguruan tinggi agar pengetahuan akademik tidak berhenti di lingkungan kampus, tetapi dapat diterapkan pada potensi yang tumbuh di tengah masyarakat.

Kepala MTs Negeri 2 Lombok Barat, H. Abdul Azis Faradi, S.Pd., M.Pd., menyambut positif kepercayaan Unram yang menjadikan madrasahnya sebagai mitra dalam program tersebut.

Menurut Abdul Azis, kolaborasi itu memberikan ruang pembelajaran yang lebih luas bagi warga madrasah. Tidak hanya memperkaya wawasan akademik, kegiatan tersebut juga membuka pemahaman mengenai bagaimana penelitian dan inovasi dapat diarahkan untuk mengolah sumber daya lokal menjadi sesuatu yang memiliki nilai ekonomi.

“Kolaborasi ini menjadi pengalaman penting bagi warga madrasah untuk memahami bahwa potensi lokal dapat dikembangkan melalui ilmu pengetahuan, inovasi, dan kreativitas,” ujarnya, Sabtu 8 Agustus 2026.

Ia menilai pemanfaatan kelor sebagai bahan dasar produk herbal juga dapat menjadi contoh nyata bagaimana kekayaan alam di sekitar masyarakat tidak sekadar dimanfaatkan secara konvensional, tetapi dikembangkan menjadi produk yang memiliki daya saing.

“Yang tidak kalah penting, kegiatan seperti ini dapat menumbuhkan semangat inovasi dan kewirausahaan di lingkungan pendidikan,” katanya menegaskan.

Bagi para guru, keterlibatan dalam program tersebut juga menjadi kesempatan untuk memperluas perspektif mengenai potensi sumber daya alam daerah. Pengetahuan yang diperoleh diharapkan dapat ditularkan kepada peserta didik sehingga pendidikan tidak hanya berorientasi pada teori, tetapi juga mendorong kepekaan terhadap persoalan dan peluang yang ada di lingkungan sekitar.

Di sisi lain, inovasi sabun herbal kelor diharapkan tidak berhenti pada tahap pembuatan produk. Strategi pemasaran menjadi bagian penting agar hasil pengolahan tersebut dapat dikenal lebih luas, memiliki pasar, dan pada akhirnya memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat Desa Montong Are.

Sinergi MTs Negeri 2 Lombok Barat dan Unram dengan demikian membawa misi yang lebih luas: menghubungkan pendidikan, riset, inovasi, serta pemberdayaan masyarakat dalam satu rangkaian kegiatan.

“Madrasah harus terbuka terhadap kolaborasi yang memberikan manfaat bagi pendidikan sekaligus masyarakat. Kami berharap kerja sama ini melahirkan inovasi yang benar-benar dapat dirasakan manfaatnya,” ucapnya.

Melalui Program Profesor Berdampak, potensi sederhana berupa daun kelor diarahkan menjadi gagasan ekonomi yang lebih produktif. Kolaborasi tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa lembaga pendidikan dapat mengambil peran dalam mendorong pemanfaatan potensi lokal berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi.

“Semoga sinergi ini terus berkembang dan menjadi contoh kolaborasi produktif antara perguruan tinggi dengan lembaga pendidikan di NTB,” katanya mengakhiri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....