Pengukuhan Guru Besar, Rektor UIN Mataram Ingatkan Profesor Perkuat Pengabdian

  • 12 Agt 2026 09:11 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Mataram - Pengukuhan dua profesor baru di Universitas Islam Negeri Mataram menjadi momentum untuk menegaskan kembali besarnya tanggung jawab yang melekat pada gelar guru besar. Jabatan akademik tersebut tidak dipandang sebagai akhir perjalanan seorang akademisi, tetapi justru menjadi awal dari tanggung jawab keilmuan dan pengabdian yang semakin besar.

Pesan tersebut disampaikan Rektor UIN Mataram, Prof. Dr. H. Masnun Tahir, M.Ag., dalam pengukuhan Guru Besar ke-72 dan ke-73 UIN Mataram yang berlangsung di Auditorium UIN Mataram, Rabu, 5 Agustus 2026.

Dalam momentum tersebut, Prof. Dr. Muhammad Sa’i, M.A. dan Prof. Dr. H. Fathul Maujud, M.A. resmi dikukuhkan sebagai guru besar UIN Mataram.

Prof. Masnun menegaskan bahwa pencapaian jabatan akademik tertinggi bagi seorang dosen harus diikuti dengan tanggung jawab yang lebih besar dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan pengabdian kepada masyarakat.

“Maqam guru besar memang lebih tinggi, tetapi jalan yang harus ditempuh setelahnya justru semakin terjal,” ujarnya.

Menurut Rektor, guru besar memiliki posisi penting dalam membangun tradisi keilmuan di lingkungan perguruan tinggi. Seorang profesor diharapkan dapat menjadi sumber inspirasi bagi dosen muda, memberikan keteladanan akademik kepada mahasiswa, sekaligus menghadirkan pemikiran yang dapat menjawab berbagai persoalan di tengah masyarakat.

Karena itu, tanggung jawab seorang guru besar tidak cukup hanya diukur dari produktivitas publikasi ilmiah. Publikasi menjadi salah satu bagian dari capaian akademik, tetapi kontribusi profesor harus dapat diwujudkan melalui berbagai bentuk pengabdian yang memberikan dampak nyata.

Guru besar, lanjut Prof. Masnun, diharapkan mampu menghasilkan riset yang memberikan manfaat, melahirkan inovasi, serta aktif dalam pengabdian kepada masyarakat. Gagasan yang dikembangkan juga diharapkan mampu merespons berbagai persoalan, mulai dari pendidikan, sosial, keagamaan, lingkungan, kebudayaan hingga perkembangan teknologi dan transformasi digital.

Dengan demikian, ilmu pengetahuan yang dikembangkan para profesor tidak hanya berhenti dalam lingkungan akademik, tetapi dapat memberikan solusi sekaligus kemaslahatan bagi masyarakat.

Selain mendorong produktivitas keilmuan, Prof. Masnun juga mengingatkan para guru besar agar mampu menjadi penghubung berbagai kekuatan yang dimiliki perguruan tinggi. Profesor diharapkan tidak bekerja secara terpisah, tetapi mampu mempertemukan lintas disiplin ilmu, generasi, gagasan, dan kepentingan untuk membangun kolaborasi.

“Kita membutuhkan integrator yang menyatukan dan mensinergikan berbagai potensi, bukan fragmentator yang memecah dan mengkotak-kotakkan. Guru besar harus menjadi perekat keilmuan dan penggerak kolaborasi,” pesannya.

Menurutnya, kemampuan membangun sinergi menjadi semakin penting dalam menghadapi berbagai persoalan yang semakin kompleks. Kolaborasi lintas keilmuan dinilai dapat memperluas kontribusi perguruan tinggi sekaligus memperkuat peran akademisi dalam memberikan solusi terhadap kebutuhan masyarakat.

Rektor juga mendorong para profesor untuk memperluas ruang pembinaan terhadap dosen-dosen muda. Regenerasi akademik dinilai menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan tradisi keilmuan dan memperkuat kapasitas intelektual UIN Mataram.

Bertambahnya jumlah guru besar, menurut Prof. Masnun, tidak semestinya hanya menjadi capaian statistik kelembagaan. Kehadiran profesor harus memberikan efek berkelanjutan melalui pembinaan, pendampingan, pengembangan riset, serta transfer pengetahuan kepada generasi akademisi berikutnya.

Pengukuhan Prof. Dr. Muhammad Sa’i, M.A. dan Prof. Dr. H. Fathul Maujud, M.A. sebagai Guru Besar ke-72 dan ke-73 UIN Mataram pun menjadi lebih dari sekadar seremoni akademik. Momentum tersebut sekaligus membawa pesan mengenai peran strategis guru besar dalam memperkuat kualitas dan keberlanjutan institusi.

Para profesor diharapkan dapat menjalankan peran sebagai penjaga tradisi keilmuan, penggerak inovasi, mentor bagi generasi akademik berikutnya, sekaligus penggerak kolaborasi di lingkungan perguruan tinggi.

Dengan semakin bertambahnya guru besar, UIN Mataram diharapkan memiliki kekuatan intelektual yang semakin besar untuk mengembangkan ilmu pengetahuan sekaligus memberikan kontribusi kepada masyarakat. Pada akhirnya, gelar profesor diharapkan tidak hanya menjadi simbol pencapaian akademik, tetapi menjadi jalan untuk menghadirkan ilmu yang bermanfaat bagi masyarakat dan peradaban.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....