UIN Mataram Gali Naskah dan Tradisi Islam Lokal Perkuat Kajian Islam Nusantara
- 11 Sep 2026 20:34 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Mataram - UIN Mataram mulai menjajaki penguatan kajian Islam lokal melalui penggalian khazanah naskah dan tradisi kepesantrenan masyarakat Sasak, Samawa, dan Mbojo. Upaya tersebut salah satunya diwujudkan melalui Focus Group Discussion (FGD) yang membahas kekayaan intelektual Islam di Nusa Tenggara Barat.
FGD bertajuk “Menggali Khazanah Naskah dan Tradisi Kepesantrenan Sasak, Samawa dan Mbojo untuk Peneguhan Identitas Keilmuan Islam Nusantara” digelar Wakil Rektor III UIN Mataram, Prof. H. Jumarim, M.HI, pada Kamis 10 September 2026.
Forum tersebut menghadirkan Ahmad Baso Almakassari sebagai pembicara, bersama tokoh adat Sasak, tokoh agama, dan sejarawan. Pertemuan menjadi ruang untuk mempertemukan pengetahuan yang berkembang dalam tradisi masyarakat dengan pendekatan akademik dalam mengkaji sejarah dan perkembangan Islam di NTB.
Prof. H. Jumarim mengatakan FGD tersebut sekaligus menjadi langkah awal untuk menjajaki pendirian Pusat Studi Naskah dan Pesantren UIN Mataram.
“FGD ini merupakan salah satu bentuk usaha kita untuk menjajaki pendirian Pusat Studi Naskah dan Pesantren UIN Mataram. Kita ingin agar kekayaan naskah dan tradisi keilmuan Islam yang ada di NTB tidak hanya menjadi warisan sejarah, tetapi juga terus dikaji dan dikembangkan sebagai sumber pengetahuan,” terang Prof. Jumarim.
Menurutnya, keberadaan pusat studi nantinya dapat menjadi ruang untuk mengkaji, mendokumentasikan, dan mengembangkan berbagai khazanah keilmuan Islam yang tumbuh dalam masyarakat Sasak, Samawa, dan Mbojo.
Gagasan tersebut menjadi penting karena warisan intelektual Islam lokal tidak hanya berupa peninggalan sejarah. Naskah dan tradisi kepesantrenan juga dapat menjadi sumber untuk memahami perkembangan pemikiran keislaman, pendidikan, serta dinamika sosial masyarakat di masa lalu.
Ahmad Baso Almakassari dalam forum tersebut memberikan gambaran mengenai keberadaan naskah Sasak yang masih perlu ditelusuri dan dikaji lebih jauh. Menurutnya, naskah-naskah tersebut tidak hanya ditemukan di Lombok, tetapi juga tersebar di sejumlah lokasi di luar Lombok.
Kondisi tersebut menunjukkan perlunya penelusuran dan pendataan yang lebih terintegrasi. Dengan demikian, berbagai naskah yang tersebar dapat dipelajari sebagai satu kesatuan khazanah intelektual untuk memahami perkembangan pemikiran masyarakat Sasak.
Pengkajian naskah juga dapat membuka ruang untuk melihat hubungan antara tradisi intelektual lokal dengan perkembangan Islam di Nusantara. Karena itu, naskah tidak semata-mata diperlakukan sebagai benda peninggalan masa lalu, tetapi sebagai sumber pengetahuan yang masih memiliki relevansi akademik.
Kehadiran tokoh adat, tokoh agama, dan sejarawan dalam FGD turut memperluas perspektif pembahasan. Pengetahuan yang diwariskan melalui tradisi masyarakat dapat dipertemukan dengan penelitian akademik sehingga kajian mengenai sejarah Islam lokal tidak hanya bertumpu pada satu pendekatan.
UIN Mataram berharap penggalian khazanah Sasak, Samawa, dan Mbojo dapat menjadi bagian dari penguatan identitas keilmuan Islam Nusantara. Rencana pendirian Pusat Studi Naskah dan Pesantren juga diharapkan menjadi ruang berkelanjutan untuk merawat sekaligus mengembangkan warisan intelektual Islam lokal.
Langkah tersebut menempatkan tradisi keilmuan masyarakat NTB tidak hanya sebagai bagian dari sejarah daerah, tetapi juga sebagai sumber kajian akademik yang dapat dikembangkan untuk menjawab kebutuhan keilmuan pada masa kini.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....