Literasi Bukan Sekadar Membaca, tetapi Memahami dan Menyaring Informasi

  • 21 Jul 2026 15:25 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Mataram – Bunda Literasi Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), Sinta Agathia Iqbal, mengapresiasi penyelenggaraan Dialog Pemuda Wikithon Aksara bertema literasi yang digelar Ecco Foundation dengan dukungan penuh Kantor Balai Bahasa. Kegiatan tersebut berlangsung di Aula Inovasi Pusat Layanan Usaha Terpadu (PLUT) KUMKM NTB, Gomong, Mataram, Selasa 21 Juli 2026.

Dalam sambutannya, Sinta menegaskan bahwa persoalan literasi masih menjadi pekerjaan rumah besar, baik bagi pemerintah pusat maupun Pemerintah Provinsi NTB. Menurutnya, pemahaman masyarakat terhadap literasi perlu diperluas karena tidak hanya berkaitan dengan kemampuan membaca, tetapi juga kemampuan memahami dan menyaring informasi secara tepat.

“Literasi ini tidak hanya membaca, tetapi bagaimana memahami informasi dengan baik dan tepat, serta mampu memilah mana informasi yang benar dan mana yang tidak benar,” ujarnya.

Ia menjelaskan, tantangan literasi di Indonesia masih cukup besar, terutama di wilayah pedesaan yang jauh dari pusat-pusat perkotaan. Karena itu, keterlibatan komunitas dan relawan literasi menjadi sangat penting dalam membantu pemerintah menjangkau masyarakat hingga ke tingkat akar rumput.

Sinta mengapresiasi berbagai upaya yang telah dilakukan para relawan literasi di NTB. Menurutnya, para relawan memiliki peran strategis dalam menemukan metode dan pendekatan yang sesuai dengan karakteristik masyarakat di masing-masing daerah.

“Pendekatan kepada masyarakat kota tentu berbeda dengan pendekatan kepada masyarakat di pelosok pedesaan. Karena itu, peran relawan literasi sangat penting untuk memahami kebutuhan masyarakat secara langsung,” katanya.

Ia berharap para pegiat literasi yang telah tersebar di berbagai kabupaten dan kota di NTB dapat terus aktif berdialog dan berbagi pengalaman dengan masyarakat. Hasil dari interaksi tersebut diharapkan menjadi masukan berharga bagi pemerintah dan Kelompok Kerja (Pokja) Literasi dalam merumuskan program yang lebih tepat sasaran.

Dalam kesempatan itu, Sinta juga menyoroti tantangan perkembangan teknologi digital yang kini menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat. Menurutnya, penggunaan gawai dan media digital tidak boleh dipandang sebagai ancaman, melainkan harus dimanfaatkan secara bijak untuk meningkatkan kualitas literasi masyarakat.

“Masyarakat saat ini memang tidak bisa lepas dari gadget. Kita tidak boleh bermusuhan dengan teknologi, tetapi harus mampu memanfaatkannya secara bijak. Literasi digital juga harus terus diperkuat,” tegasnya.

Selain itu, ia mengungkapkan bahwa akses terhadap bahan bacaan masih menjadi kendala di sejumlah wilayah NTB. Tidak sedikit masyarakat yang memiliki minat membaca, namun kesulitan mendapatkan buku dan sumber bacaan yang memadai.

Karena itu, Sinta mendorong lahirnya berbagai inovasi dari komunitas dan relawan literasi, seperti pengembangan perpustakaan keliling, taman baca, maupun ruang diskusi masyarakat yang dapat menjadi sarana berbagi informasi dan pengetahuan.

“Perpustakaan keliling dan berbagai gerakan literasi berbasis komunitas bisa menjadi solusi untuk mendekatkan akses bacaan kepada masyarakat,” ujarnya.

Dialog Pemuda Wikithon Aksara diikuti para relawan literasi, pelajar SMA/SMK, mahasiswa, serta berbagai pemangku kepentingan. Hadir pula perwakilan Bappeda NTB, Dinas Dikpora NTB, Kantor Balai Bahasa, Dinas Kearsipan dan Perpustakaan, RRI Mataram, panitia BASAibu Wiki NTB, serta para pemenang Wikithon Aksara.

Melalui forum ini, para peserta tidak hanya berdiskusi mengenai tantangan literasi di NTB, tetapi juga merumuskan berbagai gagasan dan solusi yang diharapkan mampu memperkuat budaya literasi di tengah masyarakat, sekaligus mendorong lahirnya generasi muda yang kritis, kreatif, dan adaptif di era digital.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....