STKIP Tamsis Bima Dorong Guru ‘Sulap’ Cerita Rakyat Mbojo Jadi E-Comic
- 17 Agt 2026 11:43 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Bima – Cerita rakyat Mbojo yang selama ini diwariskan dari generasi ke generasi kini mulai memasuki era digital. Sebanyak 15 guru SDN Inpres 2 Sie, Kabupaten Bima, didorong menjadi penulis sekaligus kreator bahan bacaan digital dengan mengubah cerita rakyat Mbojo menjadi E-Comic berbantuan teknologi Artificial Intelligence atau AI.
Program inovatif tersebut dilaksanakan oleh tim dosen dan mahasiswa STKIP Taman Siswa Bima melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat bertajuk Pemberdayaan Guru SDN Inpres Sie 2 dalam Pengembangan E-Comic Cerita Rakyat Mbojo Berbasis Teaching at the Right Level (TaRL) Berbantuan AI untuk Penguatan Literasi Siswa SD.
Kegiatan ini didanai oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia melalui Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM).
Tim pelaksana terdiri dari Suriya Ningsyih, M.Pd sebagai ketua, bersama Ahyar, M.Pd dan Arif Rahman Hakim, M.Si, serta melibatkan dua mahasiswa STKIP Taman Siswa Bima.
Program tersebut berangkat dari sejumlah persoalan yang dihadapi sekolah, mulai dari keterbatasan bahan bacaan berbasis kearifan lokal, belum optimalnya pemahaman guru tentang pembelajaran literasi sesuai tingkat kemampuan membaca siswa, hingga masih terbatasnya pemanfaatan teknologi dalam pengembangan media pembelajaran.
Padahal, Bima memiliki kekayaan cerita rakyat Mbojo yang sarat nilai budaya dan pesan moral. Potensi inilah yang kemudian diolah menjadi bahan bacaan digital agar lebih dekat dengan dunia anak-anak masa kini.
Ketua Tim Pelaksana, Suriya Ningsyih, M.Pd, mengatakan program tersebut tidak sekadar mengajarkan guru menggunakan teknologi, tetapi juga mendorong mereka menciptakan sendiri bahan bacaan yang sesuai dengan kebutuhan siswa.
“Kami ingin peserta memperoleh pengalaman yang utuh. Guru tidak hanya memahami teori, tetapi juga memiliki pengalaman praktis dalam membangun dan mengembangkan cerita anak,” ujarnya.
Rangkaian kegiatan dimulai dengan sosialisasi dan penyamaan persepsi bersama pihak sekolah pada 3 Juli 2026. Selanjutnya, pada 18 Juli 2026, para guru mengikuti pelatihan penulisan komik cerita anak yang bersumber dari cerita rakyat Mbojo.
Dalam pelatihan tersebut, peserta dibekali teknik menentukan tema, membangun karakter dan penokohan, menyusun alur cerita, memilih bahasa yang sesuai usia anak, hingga merumuskan pesan moral.
Untuk memperkuat kemampuan praktis peserta, tim STKIP Taman Siswa Bima turut menghadirkan penulis profesional Akh Dirman Al Amin. Kehadirannya memberikan pengalaman langsung kepada guru mengenai proses kreatif dalam membangun cerita anak.
Setelah menyelesaikan naskah, para guru kemudian memasuki tahap baru, yakni mengembangkan cerita menjadi komik digital.
Pada pelatihan 15 Agustus 2026, peserta diperkenalkan dengan pemanfaatan ChatGPT sebagai alat bantu untuk mengembangkan ide, menyempurnakan naskah, menyesuaikan bahasa dengan karakteristik pembaca anak, hingga mendukung proses pengembangan ilustrasi.
Naskah dan ilustrasi tersebut selanjutnya dikemas menjadi E-Comic digital menggunakan E-Book Creator Premium. Namun, penggunaan AI dalam program ini tidak dimaksudkan untuk menggantikan kreativitas guru.
Anggota tim pelaksana, Ahyar, M.Pd, menegaskan bahwa teknologi hanya menjadi alat bantu, sementara ide cerita dan nilai-nilai budaya tetap berada di tangan guru.
“AI kami tempatkan sebagai alat bantu, bukan sebagai pengganti kreativitas guru. Ide cerita, nilai budaya, pesan moral dan konteks lokal tetap menjadi bagian penting yang berasal dari guru dan lingkungan budaya setempat,” jelasnya.
Menariknya, pengembangan E-Comic tersebut juga menggunakan pendekatan Teaching at the Right Level atau TaRL. Pendekatan ini diterapkan agar bahan bacaan yang dibuat tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga sesuai dengan tingkat kemampuan membaca siswa.
Menurut Ahyar, bahan bacaan yang baik harus mampu menjangkau kemampuan pembaca anak. “Prinsipnya, bahan bacaan harus sesuai dengan level kemampuan membaca anak. Karena itu, TaRL menjadi salah satu landasan dalam mengembangkan cerita dan komik yang nantinya digunakan sebagai bahan bacaan literasi,” katanya.
Dengan pendekatan tersebut, guru diarahkan untuk mempertimbangkan penggunaan bahasa, struktur cerita dan tingkat kompleksitas bacaan sesuai karakteristik siswa.
Sementara itu Kepala SDN Inpres 2 Sie menyambut positif program tersebut. Menurutnya, kegiatan ini memberikan manfaat besar bagi sekolah, baik dalam meningkatkan kompetensi guru maupun menghadirkan bahan bacaan baru yang dekat dengan lingkungan budaya siswa.
“Sangat berharga sekali karena penguatan literasi membaca merupakan salah satu program prioritas sekolah-sekolah dasar di Kabupaten Bima,” ujarnya.
Salah seorang peserta, Nurul Arini, S.Pd, mengaku memperoleh pengalaman baru dalam menulis cerita anak dan mengembangkan bahan bacaan digital.
“Kegiatan ini sangat bermanfaat karena setelah mengikuti kegiatan, kami memiliki kemampuan dalam menulis cerita anak dan mengembangkan E-Comic,” ungkapnya.
Setiap peserta ditargetkan menghasilkan minimal satu produk E-Comic. Artinya, sedikitnya 15 bahan bacaan digital berbasis cerita rakyat Mbojo diharapkan lahir dari program tersebut.
Pendampingan juga tidak berhenti pada tahap pelatihan. Tim STKIP Taman Siswa Bima akan terus mendampingi para guru hingga produk E-Comic selesai dikembangkan dan siap dimanfaatkan sebagai bahan bacaan literasi di sekolah.
Program ini menjadi ruang pertemuan antara warisan budaya Mbojo, kreativitas guru, kebutuhan literasi anak dan perkembangan teknologi digital.
Cerita yang dahulu hidup melalui tutur kini mulai menemukan bentuk baru di layar digital. Bukan hanya untuk menjaga agar warisan Mbojo tidak hilang, tetapi juga agar generasi muda dapat mengenal, membaca dan mencintai budayanya melalui cara yang lebih dekat dengan kehidupan mereka.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....