Gagasan “Sekolah Gembira” Jadi Fondasi Transformasi SMKN 1 Lingsar

  • 03 Mar 2026 09:35 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Mataram - Transformasi manajemen dan kultur sekolah menjadi fokus utama Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 1 Lingsar dalam menata arah baru pendidikan vokasi. Sejak awal tahun, berbagai pembenahan dilakukan untuk memastikan lulusan memiliki daya saing global sekaligus karakter yang kuat. Pendekatan ini dirancang tidak sekadar administratif, melainkan menyentuh suasana psikologis dan sosial warga sekolah.

Kepala SMKN 1 Lingsar, Ahmad Sabli, S.Pd., menegaskan bahwa langkah pertama yang ia lakukan setelah dilantik adalah meninjau ulang visi dan program strategis sekolah. Evaluasi tersebut dilakukan untuk membaca potensi, tantangan, serta kebutuhan riil siswa dan industri. Hasilnya, lahirlah gagasan besar bertajuk “Sekolah Gembira”.

Menurutnya, konsep tersebut bukan sekadar slogan, melainkan strategi membangun ekosistem belajar yang kondusif. Lingkungan tanpa intimidasi dan tekanan diyakini mampu mendorong kreativitas serta kedisiplinan yang lahir dari kesadaran, bukan paksaan. Ia menilai suasana emosional positif menjadi prasyarat penting peningkatan kompetensi.

“Sekolah Gembira itu artinya tidak ada intimidasi, tidak ada tekanan, tidak ada marah-marah. Semua dimulai dari senyum dan sapa agar energi positif terbangun sejak pagi,” jelas Ahmad Sabli, Selasa 3 Maret 2026.

Ia menjelaskan, perubahan kultur diawali dari pimpinan hingga guru, lalu menular kepada siswa. Setiap pagi, siswa disambut dengan sapaan untuk membangun kedekatan emosional. Pendekatan ini diyakini memperkuat kepercayaan sehingga proses pembinaan lebih efektif.

Transformasi ini juga merespons dinamika sebelumnya yang sempat menjadi sorotan publik. Manajemen sekolah berupaya memastikan kegiatan siswa tetap kreatif namun terarah dan beretika. Kontrol dilakukan melalui pendampingan, bukan pembatasan berlebihan.

“Kita tidak membatasi kreativitas, tetapi memberi pemahaman. Seni tetap seni, ada batasan nilai dan norma yang harus dijaga,” katanya.

Dalam jangka menengah, sekolah memprioritaskan penguatan kompetensi berbasis praktik. Kegiatan pembelajaran dirancang agar siswa lebih banyak terlibat langsung dalam proses produksi dan inovasi. Guru berperan sebagai pembimbing, sementara siswa menjadi pelaku utama.

Ahmad Sabli menekankan bahwa setiap program wajib melibatkan siswa secara signifikan. Ia bahkan melarang kegiatan yang hanya menjadikan siswa sebagai pelengkap. Prinsip ini diyakini membentuk mental profesional sejak dini.

“Siswa harus terlibat penuh, dari merancang sampai mengeksekusi. Kalau gagal, itu bagian dari proses belajar dan evaluasi,” tegasnya.

Dari sisi tata kelola, koordinasi internal diperkuat untuk menyelaraskan seluruh jurusan dengan visi besar sekolah. Komite sekolah dan mitra industri juga diajak merumuskan program berbasis kebutuhan pasar kerja. Langkah ini diharapkan menciptakan efisiensi sekaligus keberlanjutan.

Ia menargetkan sejumlah program prioritas mulai berjalan efektif pada tahun ajaran baru. Persiapan dilakukan secara matang agar implementasi tidak sekadar formalitas. Evaluasi berkala akan menjadi bagian dari sistem kontrol mutu.

Lebih jauh, Ahmad Sabli menekankan pentingnya karakter sebagai fondasi kompetensi. Disiplin, sikap profesional, dan etika pelayanan dipandang sama pentingnya dengan keterampilan teknis. Menurutnya, keseimbangan antara kecerdasan intelektual dan emosional menjadi kunci menghadapi era globalisasi.

“Kita ingin lulusan yang kompeten dan berdaya saing global, tetapi tetap berkarakter. Itulah esensi pendidikan vokasi yang kami bangun di SMKN 1 Lingsar,” katanya, mengakhiri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....