Cegah Perundungan sejak Dini, SMPN 15 Mataram Perkuat Materi MPLS
- 20 Jul 2026 20:42 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Mataram - Maraknya penggunaan media sosial di kalangan remaja turut menghadirkan tantangan baru bagi dunia pendidikan, salah satunya meningkatnya risiko perundungan di ruang digital. Menyikapi kondisi tersebut, SMP Negeri 15 Mataram memasukkan edukasi anti-bullying dan etika bermedia sosial sebagai bagian penting dalam rangkaian Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) tahun 2026.
Materi tersebut disampaikan melalui kolaborasi dengan Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo). Peserta didik baru tidak hanya dikenalkan cara menggunakan media sosial secara bijak, tetapi juga diberikan pemahaman mengenai dampak cyberbullying serta pentingnya menghormati orang lain, baik di dunia nyata maupun dunia digital.
Ketua Panitia MPLS SMPN 15 Mataram, Lutfi Qurratul Aini, mengatakan pembahasan mengenai perundungan selalu menjadi perhatian sekolah setiap tahun. Hanya saja, materi tahun ini diperkuat dengan isu literasi digital yang semakin dekat dengan kehidupan remaja.
"Ketika Kominfo datang, kami juga membahas cyberbullying. Kami meminta narasumber menyisipkan materi itu, kemudian dikaitkan juga dengan bullying yang terjadi secara langsung di lingkungan sekolah," jelasnya, Senin 20 Juli 2026.
Menurut Aini, pendekatan tersebut dipilih agar peserta didik memahami bahwa perundungan tidak hanya berbentuk tindakan fisik atau verbal, tetapi juga dapat terjadi melalui media sosial. Pemahaman itu dinilai penting mengingat aktivitas digital kini menjadi bagian dari keseharian siswa.
Ia mengungkapkan, edukasi mengenai bullying sebenarnya bukan hal baru di SMPN 15 Mataram. Pada pelaksanaan MPLS tahun-tahun sebelumnya, sekolah juga rutin menghadirkan narasumber dari berbagai instansi untuk memberikan pemahaman kepada peserta didik mengenai dampak perundungan.
"Materi bullying ini selalu kami sampaikan setiap tahun. Jadi bukan hanya tahun ini saja, tetapi memang menjadi perhatian kami dalam setiap pelaksanaan MPLS," ujarnya.
Selain melalui penyampaian materi, sekolah juga mengajak siswa memahami batas antara candaan dan perilaku yang dapat menyakiti orang lain. Menurut Aini, kesadaran tersebut penting dibangun sejak awal agar peserta didik mampu menciptakan lingkungan pergaulan yang sehat.
"Saya selalu mengatakan kepada anak-anak, bercanda itu boleh selama kedua belah pihak sama-sama senang. Kalau salah satunya merasa tersinggung atau tidak nyaman, itu sudah masuk kategori bullying," ucapnya.
Upaya pencegahan tidak berhenti di lingkungan sekolah. SMPN 15 Mataram juga melibatkan orang tua melalui sosialisasi sebelum MPLS berlangsung. Dalam kegiatan itu, sekolah mengajak keluarga menyepakati aturan penggunaan telepon genggam di rumah, mulai dari durasi hingga waktu penggunaannya.
Langkah tersebut diambil setelah banyak orang tua menyampaikan bahwa selama masa liburan anak lebih banyak menghabiskan waktu menggunakan telepon genggam. Karena itu, sekolah menilai pengawasan penggunaan gawai perlu dilakukan secara bersama antara guru dan keluarga.
"Dari awal kami meminta anak-anak membuat komitmen bersama orang tua mengenai waktu penggunaan HP. Kalau orang tua sudah membuat aturan, kami minta mereka berjanji untuk mematuhinya," terangnya.
Aini berharap kolaborasi antara sekolah dan orang tua terus terjalin setelah MPLS berakhir. Menurutnya, pembentukan karakter peserta didik tidak cukup dilakukan melalui kegiatan di sekolah, tetapi juga memerlukan pendampingan yang konsisten dari keluarga.
"Harapan saya, orang tua benar-benar bekerja sama dan berkolaborasi dengan sekolah untuk mewujudkan Generasi Emas Indonesia 2045," katanya, mengakhiri.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....