Kepala SMAN 3 Mataram Tanamkan Kesetaraan Siswa untuk Cegah Bullying
- 20 Jul 2026 20:39 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Mataram - Memasuki lingkungan sekolah baru sering menjadi tantangan bagi peserta didik yang baru lulus dari jenjang SMP. Selain harus beradaptasi dengan suasana belajar yang berbeda, mereka juga dituntut membangun hubungan sosial yang sehat dengan teman maupun guru. Berangkat dari kondisi tersebut, SMAN 3 Mataram menjadikan pendidikan karakter sebagai fondasi utama dalam pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) tahun ajaran 2026/2027.
Alih-alih hanya mengenalkan lingkungan sekolah, MPLS di SMAN 3 Mataram diarahkan untuk membentuk pola pikir bahwa seluruh peserta didik memiliki kedudukan yang sama. Sekolah meyakini rasa saling menghargai menjadi langkah awal untuk mencegah munculnya praktik perundungan di lingkungan pendidikan.
Kepala SMAN 3 Mataram, Yuspita Martiningrum, mengatakan nilai kesetaraan terus ditekankan kepada peserta didik sejak pra-MPLS hingga kegiatan berakhir. Menurutnya, bullying umumnya berawal dari munculnya perasaan lebih unggul dibandingkan orang lain.
"Di SMA 3 saya tekankan betul, tidak ada yang merasa lebih dan tidak ada yang merasa lebih rendah. Kita semua setara, kita semua satu. Kalau sudah ada yang merasa lebih tinggi daripada temannya, di situlah mulai muncul percikan bullying," jelasnya, Senin 20 Juli 2026.
Selain menanamkan nilai kesetaraan, sekolah juga mengintegrasikan berbagai materi pembentukan karakter yang mengacu pada petunjuk teknis pemerintah. Di antaranya Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, penguatan Ikrar Pelajar, etika, sopan santun, hingga pengenalan bakat dan minat peserta didik.
Yuspita menjelaskan sebagian besar waktu selama MPLS digunakan untuk penyampaian materi karakter. Sementara pada hari terakhir, siswa diberikan kesempatan mengenal berbagai kegiatan ekstrakurikuler agar mampu memilih wadah pengembangan diri sesuai minat dan potensi masing-masing.
"Anak-anak kami beri kesempatan melihat seluruh ekstrakurikuler yang tampil. Dari situ mereka mulai mengenali dirinya, kira-kira cocok di bidang yang mana dan ingin bergabung di kegiatan apa," ujarnya.
Komitmen menciptakan lingkungan sekolah yang aman juga diwujudkan dengan memperketat keterlibatan pihak luar selama MPLS berlangsung. Sekolah memastikan tidak ada intervensi dari alumni maupun senior yang tidak memiliki kepentingan dalam kegiatan tersebut.
Menurut Yuspita, kebijakan tersebut sejalan dengan petunjuk teknis dari Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga NTB yang mengutamakan pelaksanaan MPLS secara ramah, edukatif, dan bebas dari praktik senioritas.
"Alhamdulillah tahun ini kami semakin ketat. Alumni yang tidak berkepentingan tidak kami fasilitasi masuk selama MPLS. Jadi tidak ada intervensi ataupun gangguan dari pihak luar," tegasnya.
Ia menambahkan suasana yang kondusif selama MPLS berdampak pada hubungan antarpeserta didik. Hingga hari pertama kegiatan belajar mengajar berlangsung, sekolah tidak menerima laporan mengenai konflik maupun tindakan yang mengarah pada perundungan.
Bagi Yuspita, kondisi tersebut menunjukkan bahwa penanaman nilai saling menghormati sejak awal mampu membantu peserta didik membangun hubungan yang lebih positif. Karena itu, sekolah akan terus menjaga budaya saling mendukung selama mereka menempuh pendidikan di SMAN 3 Mataram.
"Sejak awal saya selalu sampaikan kepada mereka bahwa kalian ini bersaudara. Perjalanan untuk bisa masuk ke SMAN 3 Mataram tidak mudah, jadi mari saling mendukung dan saling menjaga selama tiga tahun ke depan," tuturnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....