Embung Kearifan Lokal Pertanian di Lombok untuk Adaptasi Kekeringan
- 31 Jul 2026 17:15 WIB
- Mataram
Poin Utama
- Pengembangan embung di Lombok berawal dari krisis pertanian yang terjadi di tahun 70an.
- Jika ditotal, ada 2000-unit embung di Lombok, yang sejak dulu dibangun secara berkelompok dan pribadi oleh masyarakat.
- Eksistensi embung peternakan di NTB sekitar 10 persen dari total embung yang ada saat ini.
RRI.CO.ID, Mataram - Selain sebagai kearifan lokal, fungsi bangunan embung di Pulau Lombok merupakan bentuk adaptasi kekeringan agronomi di Nusa Tenggara Barat (NTB).
Istilah embung sangat familiar di masyarakat Sasak Lombok Ketika mengacu pada kuantitas. Praktik penampungan air ini banyak ditemukan di wilayah Selatan Lombok yang berkarakter tanah liat. Petani di Lombok Selatan memilih membuat embung dalam jumlah banyak karena perbedaan karakter tanah dengan kawasan pertanian di Utara Lombok. Di Utara, tanah pertanian banyak dipengaruhi oleh dampak letusan Gunung Rinjani dan banyaknya pecahan batu sebagai aliran air terjun.
Peneliti Pertanian Tanaman Pangan BRIN Ahmad Suriadi di dalam dialog Merajut Pangan Bumi Gora Pro 1 RRI Mataram, Juli 2026, mengatakan, praktik pembuatan embung merujuk pada curah hujan yang minim di Selatan Lombok. Berbeda dengan di kawasan Utara Lombok yang lebih tinggi curah hujannya. Sehingga praktik pembangunan embung lebih familiar di masyarakat Lombok Selatan.
Embung yang digunakan petani untuk menampung curah hujan kemudian digunakan untuk mengairi lahan pertanian. Praktik ini sekaligus menahan laju air hujan terbuang percuma ke muara Sungai. Melalui embung, masyarakat dapat menahan air untuk tidak segera mengalir ke laut. Praktik ini juga sering disebut Rangkep dalam Bahasa Sasak.
| Baca juga: Menjaga Kelestarian Bahasa Ibu, Ayo Literasi |
Menurut Suriadi, menahan air hujan untuk pertanian juga dikenal di luar Nusa Tenggara Barat. Di Jawa Barat, Masyarakat Sunda menyebutnya sebagai Situ. Sama dengan di Lombok, pemanfaatan embung erat kaitannya dengan status lahan kering di satu daerah. Sehingga petani kemudian memanfaatan luas lahan pertanian untuk membangun embung. Praktik ini selanjutnya mengadopsi teknologi pengaliran mata air ke dalam embung.
Ahli Hidrologi di Mataram Surana mengatakan, pengembangan embung di Lombok berawal dari krisis pertanian yang terjadi di tahun 70an. Sehingga dimulailah studi tentang embung di Lombok dan Sumbawa. Studi dilakukan melalui bantuan pemerintah Jepang yang mendatangkan para ahli ke Indonesia. Maka tak heran, jika saat itu, Lombok disebut sebagai embung country oleh pemerintah Jepang.
"Embung yang dibangun warga di desa memiliki skala. Mulai dari skala kecil hingga sekala menengah. Jika ditotal, ada 2000-unit embung di Lombok, yang sejak dulu dibangun secara berkelompok dan pribadi oleh masyarakat," kata Surana.
Teknologi pun berkembang, dan pemerintah kemudian mulai menginisiasi pembangunan bendungan di NTB. Diikuti pembangunan saluran irigasi sebagai sarana distribusir air ke lahan pertanian. Pembangunan bendungan erat kaitannya dengan mata air di sekitar bendungan. Untuk itu, saluran irigasi memegang peranan penting bagi komoditi pertanian yang memerlukan air dalam jumlah banyak.
Keberadaan Embung di Indonesia, untuk saat ini, kata Surana, masuk sebagai isu strategis nasional. Eksistensinya juga mendapat perhatian dari Balai Wilayah Sungai di masing-masing provinsi. Adapun perawatan maupun pengembangannya sekaligus menjadi tanggung jawab BWS. Sistem ini tidak hanya berlaku di Lombok, tetapi juga di Pulau Sumbawa.
Surana mengatakan, di tengah perkembangannya, embung rakyat ada yang dijadikan embung peternakan. Eksistensi embung peternakan di NTB sekitar 10 persen dari total embung yang ada saat ini. Hanya saja, tingkat kerusakannya berlangsung masif karena faktor sedimen di dasar embung. Di satu sisi, ada embung jadi spot pariwisata sehingga berlangsung equal.
Dosen Fakultas Teknologi Pangan dan Agroindustri (Fatepa) Universitas Mataram Guyup Mahardian mengatakan, kearifan lokal yang yang berwujud bangunan embung tidak boleh hilang dari aktivitas Bertani Masyarakat Pulau Lombok. Lebih lagi, iklim dunia terbaru Adalah ancaman perubahan iklim.
Dalam konteks ini, kata Guyup, orang tua di Lombok telah memproyeksikan kondisi iklim di waktu mendatang. Sementara dari sisi akademis, peneliti terus melakukan riset tentang teknologi yang bisa digunakan Masyarakat untuk tetap memfungsikan embung sebagai kearifan lokal pertanian. Fakultas Teknologi Pangan dan Agroindustri Universitas Mataram akan mengumpulkan data lebih dulu sebagai sumber informasi awal dan menjadi data base sebelumnya menjadi informasi publik.
Bagi Guyup, kebutuhan debit air menjadi tantangan utama pertanian modern. Kasus pencurian air yang terjadi di Masyarakat menjadi bukti bahwa pertanian di daerah memiliki persoalan yang serius. Ternyata, bukan hanya asset negara yang mengalami pencurian, akan tetapi, distribusi air bagi petani. Namun, ketika semua memiliki sistem pengairan yang terpetakan, maka jumlah air yang tersedia bisa diukur kemampuannya. Selanjutnya diikuti riset terbesar para akademisi di Tanah Air.
Baik Suriadi, Surana, maupun Guyup, menggarisbawahi, daya tarikkeberadaan embung pertanian terletak di psikologi insan pertanian. Yaitu, yang hampir selalu ingin melihat kondisi pertanian di masa lampau. Praktik itu untuk menjawab keraguan atas kemampuan embung dari berbagai aspek dalam mengairi pertanian di Lombok.
Guyup tersendiri mengatakan, ada beberapa pertanyaan yang bisa dipakai untuk mengukut relevansi itu, yaitu, Apakah kemampuan petaninya sudah relevan dengan kepemilikan embung? Apakah petani pemilik lahan sudah mengadopsi infrastruktur teknologi yang populer? Apakah petani sudah memiliki anggaran yang cukup untuk mengoptmalkan embung sebagai bagain dari mitigasi pertanian? Ketiga-tiganya harus terintegrasi, kata Guyup.
Akhirul kalam, sebut Guyup, semua tidak bisa menutup mata tentang teknologi pertanian terbaru karena kondisi tanah pertanian di NTB menanti perbaikan. Meski tidak seluruhnya dalam kondisi tandus, namun karakter wilayah juga menentukan peluang curah hujan ke depan. Sehingga Pembangunan embung sebaiknya memperhatikan karakter wilayah tersebut. Adapun yang sudah ada saat ini lebih ditujukan untuk menangkap curah hujan agar air hujan tidak langsung bermuara ke Sungai atau laut, tetapi dapat tertahan dengan baik dan kompatibel dengan teknologi pertanian.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....