Aroma Harapan dari Teluk Jor, saat Petani Tembakau Beralih Menjadi Pembuat Terasi

  • 23 Jul 2026 11:00 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Mataram - Pagi baru saja menyapa Teluk Jor, Desa Paremas, Kecamatan Jerowaru, Kabupaten Lombok Timur, Provinsi Nusa Tenggara Barat, ketika aktivitas di sebuah rumah produksi terasi mulai berjalan. Di antara aroma udang rebon yang dijemur dan suara pekerja yang sibuk mencetak adonan terasi, Jarjari tampak tekun menyelesaikan pekerjaannya. Sulit membayangkan, beberapa bulan lalu pria itu masih menghabiskan hari-harinya sebagai petani tembakau.

Keputusan meninggalkan lahan tembakau bukanlah pilihan yang mudah. Namun bagi Jarjari, bertahan sebagai petani justru semakin sulit. Biaya produksi terus meningkat, sementara harga jual hasil panen tidak memberikan keuntungan yang sepadan.

"Kalau tanam banyak mungkin untung, tapi kenyataannya banyak yang buntung. Harga jual tembakau rendah, sedangkan pupuk mahal," ujar Jarjari, saat di temui di Teluk Jor pada Jum’at 17 Juli 2026.

Kondisi itu membuatnya mencari sumber penghasilan lain. Kesempatan datang ketika usaha terasi milik Turmuzi membutuhkan tambahan tenaga kerja. Sejak bergabung sekitar tiga hingga empat bulan lalu, Jarjari mengaku mulai merasakan perubahan dalam kondisi ekonomi keluarganya.

Pendapatan yang diperoleh dari membuat terasi kini digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, membayar utang, hingga membiayai kebutuhan anak. Saat pesanan meningkat, ia bersama pekerja lain bahkan harus bekerja hingga malam hari demi memenuhi permintaan pasar.

"Kalau pesanan banyak, jam kerja tidak menentu. Kadang sampai malam, tapi alhamdulillah hasilnya cukup untuk belanja dan bayar utang," katanya.

Jarjari berharap usaha tempatnya bekerja terus berkembang sehingga semakin banyak warga yang mendapatkan kesempatan kerja. Baginya, keberadaan industri rumahan seperti ini menjadi alternatif mata pencaharian di tengah ketidakpastian hasil pertanian dan tangkapan laut.

Usaha terasi tersebut dikelola Turmuzi, generasi kedua yang meneruskan usaha keluarga yang telah dirintis orang tuanya sekitar 15 tahun lalu. Awalnya, pemasaran hanya dilakukan di pasar tradisional. Setelah menyelesaikan kuliah, Turmuzi mulai mengembangkan usaha sejak 2020 dengan memanfaatkan media sosial dan pemasaran daring.

"Dulu orang tua hanya fokus di pasar. Saya mencoba memperluas pemasaran lewat Facebook dan penjualan online supaya manfaatnya lebih besar bagi masyarakat sekitar," katanya.

Perkembangan usaha itu berdampak langsung pada penyerapan tenaga kerja. Jika sebelumnya seluruh proses dikerjakan secara mandiri, kini sedikitnya 10 orang dilibatkan dalam proses produksi. Empat orang bertugas membuat terasi, sedangkan enam lainnya menangani pengemasan.

Menurut Turmuzi, sebagian besar pekerja berasal dari masyarakat sekitar yang sebelumnya hanya mengandalkan hasil melaut atau pekerjaan musiman. Kehadiran usaha tersebut perlahan membantu meningkatkan kesejahteraan mereka.

"Alhamdulillah sekarang mereka lebih berkecukupan. Dulu banyak yang harus berutang karena penghasilan dari laut tidak menentu. Setelah bekerja di sini, ekonomi mereka mulai membaik," ujarnya.

Di balik meningkatnya permintaan pasar, tantangan tetap ada. Kebutuhan bahan baku mencapai sekitar 200 kilogram per hari dan pada waktu tertentu produksi bisa menembus setengah ton. Namun, pasokan udang rebon dari nelayan Jerowaru belum mampu memenuhi kebutuhan tersebut karena sifatnya musiman.

Turmuzi tetap membeli hasil tangkapan nelayan lokal sebagai bahan baku utama untuk menjaga aroma khas terasi produksinya. Namun ketika stok menipis, ia harus mendatangkan bahan baku dari Sumbawa, Lamongan hingga Cirebon agar produksi tidak terhenti.

"Kalau musim udang sedang bagus kami ambil dari nelayan sini. Tapi kalau sepi, terpaksa mengambil dari luar supaya produksi tetap jalan," katanya.

Kini, produk terasi Teluk Jor tidak hanya dipasarkan di Lombok. Permintaan datang dari berbagai daerah di Bali seperti Denpasar, Klungkung, dan Negara, bahkan hingga Surabaya dan Depok. Menurut Turmuzi, konsumen lebih tertarik pada aroma khas terasi buatannya yang menjadi ciri pembeda dengan produk lain.

Perkembangan usaha Turmuzi juga tidak lepas dari pendampingan yang diberikan PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN) melalui program pemberdayaan usaha mikro. Menurut Turmuzi, perusahaan tidak memberikan bantuan modal secara langsung, melainkan membekali pelaku usaha dengan pelatihan pengelolaan bisnis, terutama pencatatan keuangan.

Sebelum mengikuti pembinaan, seluruh pemasukan dari berbagai usaha yang dimilikinya sering kali tercampur sehingga sulit mengetahui besaran keuntungan maupun biaya produksi. "Dulu uang yang masuk langsung digabung semua. Setelah mendapat pelatihan dari AMMAN, kami diajarkan mencatat modal, pengeluaran, dan keuntungan. Sekarang keuangan usaha lebih tertata, kami tahu berapa yang harus disisihkan untuk gaji pekerja, belanja bahan baku, dan pengembangan usaha," ujar Turmuzi.

Bagi Turmuzi, pendampingan tersebut menjadi bekal penting untuk mengembangkan usaha secara berkelanjutan. Ia kini memiliki cita-cita membangun pabrik terasi dengan peralatan yang lebih modern agar kapasitas produksi meningkat, sekaligus membuka lapangan kerja lebih luas bagi masyarakat pesisir.

Dengan pengelolaan usaha yang semakin baik serta dukungan pembinaan dari PT AMMAN Mineral, ia optimistis industri terasi Teluk Jor akan terus tumbuh dan menjadi sumber penghidupan bagi warga yang sebelumnya hanya bergantung pada hasil laut maupun pertanian, seperti Jarjari yang memilih meninggalkan ladang tembakau demi pekerjaan yang lebih menjanjikan.

Di Teluk Jor, kisah Jarjari menjadi gambaran bagaimana sebuah usaha kecil mampu menghadirkan harapan baru. Ketika bertani tembakau tak lagi memberikan kepastian, industri terasi justru menjadi jalan lain untuk menghidupi keluarga. Dari aroma khas udang rebon yang diolah secara tradisional, tumbuh harapan bahwa ekonomi masyarakat pesisir dapat terus bergerak dan berkembang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....