Aksi Bhayangkari NTB Hidupkan Kembali Terumbu Karang Gili Sudak
- 01 Mei 2026 14:53 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Lombok Barat - Pagi itu, laut di Gili Sudak tampak tenang, Kamis 30 April 2026. Airnya jernih, memantulkan langit biru yang seolah ikut merayakan semangat Hari Bumi. Dari kejauhan, rombongan perahu bergerak perlahan dari Pelabuhan Tawun, membawa satu misi sederhana namun bermakna besar: menanam harapan di dasar laut.
Di antara rombongan itu, tampak Uty Edy Murbowo, Ketua Bhayangkari Daerah NTB, yang memimpin langsung aksi penanaman terumbu karang dalam rangka memperingati Hari Bumi ke-56. Bagi sebagian orang, kegiatan ini mungkin terlihat seperti seremoni tahunan. Namun di Sekotong, ini adalah langkah nyata menjaga kehidupan.
Wilayah Sekotong memang dikenal sebagai salah satu surga tersembunyi di Lombok Barat. Keindahan bawah lautnya menyimpan kekayaan hayati yang luar biasa. Namun seperti banyak kawasan pesisir lainnya, ancaman kerusakan terumbu karang menjadi bayang-bayang yang tak bisa diabaikan.
Di sinilah aksi kecil itu menemukan maknanya.
Dengan penuh semangat, para peserta—dipimpin langsung oleh Uty—bersiap menyelam. Didampingi Citra Yasmara, mereka turun ke kedalaman, membawa struktur media tanam yang kelak akan menjadi rumah baru bagi biota laut. Perlahan, satu per satu terumbu karang ditempatkan di titik yang telah ditentukan.

Tak ada tepuk tangan di bawah air. Hanya gelembung-gelembung yang naik ke permukaan, seakan menjadi saksi bisu sebuah komitmen.
“Ini bukan sekadar kegiatan seremonial,” ujar Uty sebelumnya. Baginya, apa yang ditanam hari itu adalah investasi jangka panjang—bukan hanya untuk lingkungan, tetapi juga untuk masa depan pariwisata dan kehidupan nelayan setempat.
Terumbu karang bukan sekadar hiasan laut. Ia adalah benteng alami dari abrasi, rumah bagi ribuan spesies, dan penopang utama ekosistem laut. Ketika karang rusak, rantai kehidupan pun ikut terganggu.
Kesadaran itulah yang ingin ditanamkan melalui kegiatan ini. Bahwa menjaga laut bukan hanya tugas pemerintah atau komunitas tertentu, melainkan tanggung jawab bersama.
Kegiatan ini juga menjadi cerminan sinergi antara Bhayangkari dan peran institusi kepolisian dalam menjaga kelestarian sumber daya alam. Sebuah pendekatan yang tak hanya berfokus pada penegakan hukum, tetapi juga pada edukasi dan aksi nyata di lapangan.

Menjelang siang, kegiatan pun berakhir. Namun jejaknya akan terus hidup di dasar laut Gili Sudak. Terumbu-terumbu kecil yang baru ditanam itu kelak akan tumbuh, berkembang, dan menjadi bagian dari ekosistem yang lebih besar.
Dan mungkin, beberapa tahun ke depan, saat wisatawan menyelam di perairan ini, mereka tak hanya akan melihat keindahan laut—tetapi juga merasakan cerita tentang sekelompok orang yang pernah datang, menanam harapan, dan percaya bahwa perubahan bisa dimulai dari dasar laut. (Joe/RRI)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....