Pelemahan Rupiah Jadi Peluang, NTB Harus Perkuat Ekspor dan Wisata
- 19 Mei 2026 09:12 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Mataram – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dinilai tidak hanya membawa dampak negatif terhadap perekonomian nasional, tetapi juga membuka peluang bagi sektor ekspor dan pariwisata untuk tumbuh lebih kuat. Hal itu disampaikan dosen ekonomi Doktor Firmansyah saat membahas kondisi ekonomi terkini dan dampak pelemahan rupiah, di RRI Mataram, Selasa 19 Mei 2026.
Menurut Firmansyah, melemahnya rupiah memang berdampak pada kenaikan harga berbagai barang impor maupun bahan baku yang berasal dari luar negeri. Kondisi tersebut pada akhirnya memengaruhi harga kebutuhan masyarakat.
“Produk-produk luar negeri atau bahan baku dari luar negeri tentu mengalami peningkatan harga. Semua negara saling terhubung, sehingga ketika kurs berubah maka harga-harga tertentu ikut bergerak,” ujarnya.
Meski demikian, ia menjelaskan bahwa dalam sejarah ekonomi global, beberapa negara justru pernah memanfaatkan pelemahan mata uang untuk meningkatkan daya saing ekspor. Negara seperti Vietnam, China hingga Jepang pernah membiarkan mata uangnya melemah guna mendorong produk mereka lebih kompetitif di pasar internasional.
“Untuk eksportir tentu ini menguntungkan. Produk kita menjadi lebih murah di pasar internasional sehingga daya saing meningkat,” katanya.
Firmansyah menilai momentum pelemahan rupiah saat ini seharusnya dimanfaatkan pemerintah untuk memperkuat orientasi ekspor, termasuk di daerah seperti Nusa Tenggara Barat yang memiliki sektor unggulan pariwisata dan komoditas ekspor.
Ia menyebut wisatawan asing yang memegang dolar atau mata uang yang lebih kuat akan memperoleh nilai tukar lebih besar ketika berbelanja menggunakan rupiah.
Dampaknya, wisatawan berpotensi tinggal lebih lama dan membelanjakan uang lebih banyak selama berada di daerah wisata.
“Ini momentum bagus bagi daerah pariwisata seperti Lombok. Wisatawan bisa lebih lama menginap dan lebih banyak berbelanja,” ujarnya.
Selain sektor pariwisata, NTB juga dinilai memiliki peluang memperbesar ekspor komoditas seperti udang, kopi, gerabah hingga produk pertanian lainnya. Pemerintah didorong memberikan insentif bagi pelaku usaha yang berorientasi ekspor.
Namun di sisi lain, Firmansyah mengingatkan bahwa dampak negatif pelemahan rupiah tetap harus diantisipasi, terutama karena Indonesia masih bergantung pada impor sejumlah kebutuhan pokok dan bahan baku, termasuk kedelai untuk produksi tahu dan tempe.
“Kita masih banyak menggunakan barang impor. Ketika rupiah melemah tentu harga ikut naik dan itu dirasakan masyarakat,” katanya.
Ia juga menyoroti dampak geopolitik global terhadap harga minyak dunia yang berimbas pada biaya energi dan transportasi. Menurutnya, kenaikan harga BBM akan memicu efek berantai terhadap biaya distribusi barang hingga kebutuhan dasar masyarakat. Karena itu, pemerintah dinilai perlu menjaga stabilitas ekonomi melalui penguatan ekspor dan strategi substitusi impor agar ketergantungan terhadap produk luar negeri dapat dikurangi.
“Pemerintah perlu mendorong kebijakan berorientasi ekspor dan substitusi impor. Barang-barang yang selama ini diimpor harus mulai diproduksi sendiri,” ujarnya.
Firmansyah menambahkan, penguatan fundamental ekonomi menjadi kunci agar Indonesia mampu menghadapi gejolak global. Ia mengingatkan masyarakat agar tidak panik berlebihan terhadap pelemahan rupiah karena masih terdapat peluang yang bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan pendapatan negara.
“Jangan melihat pelemahan rupiah hanya dari sisi negatifnya. Ada peluang yang bisa dimanfaatkan, terutama untuk ekspor dan pariwisata,” katanya.
Ia pun berharap momentum pelemahan rupiah dapat dimanfaatkan NTB untuk memperkuat promosi pariwisata dan meningkatkan kunjungan wisatawan mancanegara, terutama menjelang momentum Hari Kebangkitan Nasional.
“Kalau belum sanggup mendatangkan modal besar, datangkan orang sebanyak-banyaknya. Pariwisata harus menjadi penggerak ekonomi daerah,” ujar Firmansyah.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....