BI NTB: Pertanian Tetap Jadi Penopang Ekonomi dan Pengendali Inflasi Daerah

  • 08 Mei 2026 15:43 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Mataram — Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) mencatat sektor pertanian masih menjadi penopang utama perekonomian daerah, seiring meningkatnya luas panen dan produksi padi maupun jagung pada triwulan I 2026.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia NTB, Hario K. Pamungkas mengatakan, peningkatan produksi tanaman pangan tersebut menunjukkan sektor pertanian masih memiliki peran strategis dalam mendukung ekonomi NTB. “Terjadi peningkatan luas panen dan produksi padi maupun jagung secara tahunan. Ini menunjukkan sektor tanaman pangan masih tumbuh positif,” ujarnya, saat memaparkan materi pada kegiatan bincang bareng media (BBM), yang tergabung pada Forum Wartawan Ekonomi (FWE) NTB, di Mataram, Jum'at 8 Mei 2026.

Selain menopang produksi pangan, sektor pertanian juga masih menjadi penyerap tenaga kerja terbesar di NTB. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), sekitar 32,86 persen penduduk bekerja di sektor pertanian.

Menurut Hario, tingginya kontribusi sektor pertanian juga ditunjang nilai tukar petani (NTP) yang masih berada di atas angka 100. Kondisi itu menandakan pendapatan petani masih mampu menutupi biaya produksi usaha pertanian.

“Artinya, usaha pertanian masih memberikan keuntungan bagi petani,” katanya.

Di sisi lain, BI NTB mencatat Provinsi NTB mengalami deflasi sebesar 0,11 persen secara bulanan atau month to month (mtm) pada April 2026. Angka tersebut menempatkan NTB sebagai salah satu dari delapan provinsi di Indonesia yang mengalami deflasi pada periode tersebut.

Hario menjelaskan, deflasi terutama disumbang oleh penurunan harga cabai rawit, daging ayam ras, dan emas perhiasan. Selain itu, Kabupaten Sumbawa menjadi daerah dengan tingkat deflasi terdalam di NTB, yakni mencapai minus 0,55 persen.

“Secara umum, penurunan harga cabai rawit menjadi penyumbang utama deflasi di NTB,” katanya.

Meski demikian, sejumlah komoditas masih mengalami kenaikan harga pada April 2026. Di antaranya tarif angkutan udara, tarif air minum atau PDAM di Kota Mataram untuk golongan tertentu, serta harga tomat.

Untuk inflasi tahunan atau year on year (yoy), NTB tercatat sebesar 3,27 persen, lebih tinggi dibanding inflasi nasional yang berada di angka 2,42 persen. Sementara inflasi tahun kalender NTB mencapai 1,82 persen, juga berada di atas angka nasional sebesar 1,06 persen.

Kendati lebih tinggi dari nasional, Hario menegaskan angka inflasi NTB masih berada dalam rentang target inflasi nasional sebesar 2,5 persen plus minus 1 persen.

“Ini tetap menjadi perhatian bersama agar inflasi NTB tetap terkendali dalam rentang sasaran nasional,” ujarnya.

Memasuki periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idul Adha, BI NTB mewaspadai potensi kenaikan harga sejumlah komoditas. Berdasarkan evaluasi lima tahun terakhir, komoditas yang kerap memicu inflasi saat Idul Adha antara lain tarif angkutan udara, bawang merah, beras, tomat, cabai rawit, dan ikan bandeng.

BI NTB juga terus memantau perkembangan harga pangan strategis pada awal Mei 2026. Berdasarkan data Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP), harga cabai merah dan daging sapi cenderung menurun, sedangkan cabai rawit, daging ayam ras, dan minyak goreng mengalami kenaikan. Sementara harga beras relatif stabil.

Sebagai langkah pengendalian inflasi, BI NTB bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) akan menggelar rapat koordinasi pada 12 Mei 2026 guna merumuskan langkah stabilisasi harga menjelang Idul Adha.

Hingga April 2026, BI NTB juga telah memfasilitasi pelaksanaan Gerakan Pangan Murah di 44 titik di berbagai daerah. Selain itu, BI bersama Badan Pangan Nasional dan pemerintah daerah mendatangkan sekitar 2,48 ton cabai rawit ke Lombok Tengah dan Lombok Timur saat Ramadan untuk menjaga stabilitas pasokan dan harga.

“Karena saat Ramadan kemarin belum masuk musim panen cabai rawit di NTB, maka kami mendatangkan pasokan dari luar daerah,” kata Hario.

Selain operasi pasar dan sidak distributor bersama TPID, BI NTB juga memberikan bantuan sarana produksi kepada petani binaan guna meningkatkan produktivitas pertanian serta terus melakukan edukasi pengendalian inflasi kepada masyarakat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....