Pupuk Indonesia Pastikan Pasokan Pupuk Nasional Aman di tengah Gejolak Timteng

  • 10 Mar 2026 08:20 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Mataram - PT Pupuk Indonesia (Persero) memastikan pasokan pupuk nasional tetap terjaga meskipun terjadi dinamika geopolitik di kawasan Timur Tengah. Perusahaan menegaskan memiliki kapasitas produksi yang kuat serta cadangan bahan baku yang memadai untuk menjaga keberlanjutan pasokan pupuk bagi petani di seluruh Indonesia.

Sekretaris Perusahaan Pupuk Indonesia, Yehezkiel Adiperwira, mengatakan perusahaan berkomitmen menjalankan mandat pemerintah untuk memastikan ketersediaan dan keterjangkauan pupuk bagi petani.

“Pupuk Indonesia berkomitmen menjalankan mandat pemerintah untuk memastikan ketersediaan dan keterjangkauan pupuk bagi petani. Di tengah dinamika geopolitik yang terjadi, kami memastikan pasokan pupuk nasional tetap aman sehingga petani dapat terus menanam tanpa perlu khawatir terhadap ketersediaan pupuk,” ujar Yehezkiel, seperti dikutip dalam siaran pers resmi Pupuk Indonesia, Senin 9 Maret 2026.

Saat ini kapasitas produksi Pupuk Indonesia Grup mencapai 14,5 juta ton per tahun untuk berbagai jenis pupuk. Khusus pupuk urea, kapasitas produksi perusahaan bahkan mampu memenuhi seluruh kebutuhan domestik.

Secara fundamental, produksi urea nasional juga memiliki tingkat kemandirian yang cukup tinggi. Hal ini karena bahan baku utamanya berupa gas bumi dapat dipenuhi dari dalam negeri dengan pasokan dan harga yang telah diatur oleh pemerintah.

Dengan kondisi tersebut, eskalasi konflik di Selat Hormuz yang merupakan salah satu jalur distribusi penting urea global tidak berdampak langsung terhadap pasokan pupuk urea di Indonesia.

“Pupuk Indonesia merupakan produsen urea terbesar di kawasan Asia Pasifik, Timur Tengah, dan Afrika Utara. Dengan kapasitas produksi yang kuat tersebut, kami memiliki kemampuan untuk menjaga pasokan pupuk tetap optimal bagi petani Indonesia,” kata Yehezkiel.

Selain memperkuat kapasitas produksi, Pupuk Indonesia juga meningkatkan ketahanan rantai pasok melalui diversifikasi sumber bahan baku strategis yang masih diimpor. Beberapa bahan baku pupuk memang belum tersedia secara alami di Indonesia, seperti fosfat (P) dan kalium (K) yang menjadi komponen penting dalam produksi pupuk NPK.

Saat ini pasokan fosfat diperoleh dari sejumlah negara di Afrika Utara, seperti Maroko, Tunisia, dan Aljazair. Sementara itu, pasokan kalium didatangkan dari Kanada dan Laos yang berada di luar wilayah konflik Timur Tengah, sehingga potensi gangguan pasokan dapat diminimalkan.

Adapun bahan baku pupuk lain yang berpotensi terdampak langsung oleh konflik di Timur Tengah adalah sulfur (S) yang sebagian berasal dari Uni Emirat Arab, Qatar, dan Kuwait. Meski demikian, perusahaan juga memiliki alternatif sumber pasokan sulfur dari negara lain, seperti Kanada.

Selain diversifikasi sumber bahan baku, Pupuk Indonesia juga memperkuat manajemen stok dengan menjaga ketersediaan fosfat, kalium, dan sulfur pada tingkat yang mencukupi untuk mendukung proses produksi. Langkah tersebut juga menjadi bagian dari strategi antisipatif perusahaan terhadap potensi kenaikan biaya logistik yang dipicu oleh meningkatnya harga minyak dunia.

Didukung kapasitas produksi yang kuat, diversifikasi sumber bahan baku, serta pengelolaan stok yang andal, Pupuk Indonesia optimistis dapat menjaga stabilitas pasokan pupuk nasional. “Fokus utama kami tetap memastikan kebutuhan pupuk dalam negeri terpenuhi secara optimal,” pungkas Yehezkiel.

Rekomendasi Berita