Harga Emas Dunia Terus Melonjak, Ini Penyebabnya !

  • 29 Jan 2026 08:41 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Mataram - Awal tahun 2026 menjadi periode bersejarah bagi para pelaku pasar logam mulia. Harga emas global tercatat sukses menembus level psikologis baru di atas USD 5.000 per troy ons, sebuah lonjakan yang memicu gairah investasi sekaligus kekhawatiran akan stabilitas ekonomi dunia. Di Indonesia, tren ini berdampak langsung pada harga domestik yang kian melambung tinggi.

Kenaikan ini bukan tanpa alasan. Setidaknya ada empat faktor fundamental yang saling berkelindan, menjadikan emas sebagai aset yang paling diburu saat ini.

1. Geopolitik: "Komoditas Krisis" di Tengah Tensi Global

Emas kembali membuktikan julukannya sebagai aset penyelamat saat kondisi dunia sedang tidak baik-baik saja. Lonjakan harga pekan ini dipicu oleh meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, menyusul pernyataan Amerika Serikat terkait pergerakan armada laut menuju Iran. Menurut laporan Reuters, setiap kali risiko konflik bersenjata meningkat, investor secara insting akan memindahkan modal mereka dari pasar saham ke emas untuk meminimalisir risiko kerugian sistemik.

2. Rekor Baru Harga Emas Lokal (Antam & Pegadaian)

Sentimen global tersebut langsung merembet ke pasar dalam negeri. Per 29 Januari 2026, harga emas batangan di Logam Mulia Antam telah mencatatkan rekor tertinggi sepanjang masa, menembus angka Rp2,96 juta hingga Rp3 juta per gram.

Kondisi serupa terjadi di Pegadaian, di mana harga emas Galeri 24 dan UBS mengalami kenaikan signifikan dibandingkan hari sebelumnya. Berdasarkan pantauan data di Kompas Money, kenaikan ini tidak hanya didorong oleh harga dunia, tetapi juga dipengaruhi oleh nilai tukar Rupiah yang masih fluktuatif terhadap Dolar AS, sehingga biaya impor emas menjadi lebih mahal.

3. Kebijakan Moneter dan Lindung Nilai Inflasi

Di tengah bayang-bayang inflasi global yang belum sepenuhnya jinak, emas tetap menjadi instrumen hedging (lindung nilai) favorit. Analisis dari World Gold Council menyebutkan bahwa emas secara historis mampu mempertahankan daya beli jauh lebih baik daripada mata uang fiat. Ditambah lagi, spekulasi mengenai arah kebijakan suku bunga bank sentral global membuat emas semakin menarik karena biaya peluang (opportunity cost) untuk memegang aset tak berbunga ini menjadi relatif lebih rendah.

4. Diversifikasi Masif Bank Sentral

Fenomena menarik lainnya adalah aksi beli agresif yang dilakukan oleh bank-bank sentral di berbagai belahan dunia. Langkah ini diambil untuk mengurangi ketergantungan pada mata uang tunggal dan memperkuat cadangan devisa nasional. Laporan terbaru dari IMF menyoroti bahwa permintaan struktural dari sektor publik ini memberikan "lantai" bagi harga emas, sehingga meskipun terjadi koreksi, harganya sulit untuk jatuh terlalu dalam.

Menanggapi hal ini, Haji Fauzan, seorang pemilik toko emas di kawasan Pasar Kebon Roek mengungkapkan bahwa fluktuasi harga emas juga dipengaruhi karena adanya aktivitas pembelian emas yang dilakukan secara besar-besaran oleh para pengusaha, termasuk bankir setiap kali ada kejadian luar biasa entah karena perang, konflik atau perubahan kebijakan politik dunia

"Makanya saya sarankan untuk masyarakat lebih baik mulai beli emas meski kecil-kecil, ndak harus langsung beli dalam jumlah banyak, yang penting ada karena nilai uang bisa terus turun," ungkapnya, Kamis 29 Januari 2026.

Melihat kombinasi antara ketidakpastian politik dan kuatnya permintaan fisik, emas diprediksi akan tetap menjadi instrumen investasi yang bersifat evergreen sepanjang tahun 2026. Bagi masyarakat Indonesia, emas kini bukan sekadar perhiasan, melainkan tameng finansial utama dalam menghadapi dinamika ekonomi yang kian sulit ditebak.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....